Tren

Mobil Listrik Bekas di Singapura Sulit Laku, Depresiasi Capai 40 Persen Jadi Momok Dealer

Pasar mobil listrik (EV) bekas di Singapura tengah menghadapi tantangan serius. Kendaraan ramah lingkungan ini dilaporkan jauh lebih sulit untuk dijual kembali dibandingkan mobil bermesin bensin konvensional, dengan waktu penjualan yang lebih lama dan tingkat depresiasi harga yang jauh lebih tajam.

Para dealer memperkirakan, mobil listrik bekas dapat kehilangan nilai hingga 40 persen dari harga belinya. Angka ini jauh melampaui rata-rata depresiasi mobil bermesin pembakaran internal (ICE) yang hanya sekitar 10 persen.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kondisi ini kontras dengan pesatnya pertumbuhan penjualan EV baru di negara tersebut, di mana kendaraan listrik menyumbang 53 persen dari total pendaftaran mobil baru pada Oktober 2025. Namun, tren positif ini tidak serta-merta tercermin di segmen mobil bekas.

Di showroom Euro Performance Asia yang berlokasi di Ang Mo Kio, misalnya, mobil listrik hanya mengisi kurang dari 10 persen dari total 90 unit kendaraan bekas yang dipajang. Manajemen dealer bahkan sengaja membatasi penerimaan EV bekas karena lemahnya permintaan pasar.

Managing Director Euro Performance Asia, Anson Lee, mengungkapkan perbedaan signifikan dalam waktu penjualan. “Mobil bensin biasanya laku dalam waktu sekitar tiga minggu, sementara EV bisa memakan waktu hingga enam bulan untuk terjual. Bahkan ada satu unit EV yang sudah lebih dari setahun belum menemukan pembeli,” ujar Lee, seperti diberitakan Channel News Asia pada Kamis (08/01/2026).

Lee menambahkan, sebagian besar dealer enggan menerima mobil listrik bekas karena risiko kerugian yang tinggi. Menurutnya, satu-satunya merek EV yang relatif masih diminati di pasar bekas adalah BYD, terutama karena banderol harganya yang lebih terjangkau.

Lee menilai konsumen cenderung memperlakukan EV layaknya produk elektronik. Perkembangan teknologi yang pesat memicu banyak pemilik untuk segera mengganti kendaraan lama dengan model terbaru yang menawarkan jarak tempuh lebih jauh, performa lebih baik, dan fitur lebih canggih. “Begitu model baru muncul, pemilik ingin upgrade. Akibatnya, model lama langsung membanjiri pasar bekas,” jelasnya.

Temuan serupa juga diungkapkan oleh platform jual beli kendaraan Sgcarmart. Berdasarkan catatan Mureks dari data mereka, mobil listrik bekas membutuhkan waktu sekitar sepertiga lebih lama untuk terjual dibandingkan mobil konvensional. Dari sekitar 15.000 unit mobil yang terdaftar di platform tersebut, hanya sekitar 900 unit atau sekitar 6 persen yang merupakan kendaraan listrik.

Editorial Manager Sgcarmart, Desmond Chan, menyebut keraguan konsumen masih tinggi, terutama terkait perawatan dan keandalan jangka panjang EV. “Masih ada tanda tanya soal perawatan, termasuk apakah bengkel yang mampu menangani EV sudah cukup banyak jika terjadi masalah,” ujarnya.

Selain itu, sebagian besar EV bekas di pasar saat ini masih tergolong muda, berusia dua hingga tiga tahun. Hal ini membuat nilai residu jangka panjang belum memiliki cukup data untuk meyakinkan pembeli. “Dalam empat hingga lima tahun ke depan, ketika mobil-mobil ini semakin tua, barulah akan tersedia lebih banyak data yang bisa dijadikan pertimbangan,” kata Chan.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pasar EV bekas masih memiliki potensi. Associate Professor Walter Theseira dari Singapore University of Social Sciences (SUSS) menilai pasar penjualan kembali tetap penting, terutama bagi konsumen dengan anggaran terbatas di tengah mahalnya Certificate of Entitlement (COE).

Theseira juga mencatat bahwa harga EV baru terus turun, terutama untuk model produksi Tiongkok, seiring penurunan biaya rantai pasok. Kondisi ini terkadang membuat EV baru lebih menarik dibandingkan unit bekas berusia tiga hingga empat tahun.

Namun, Theseira memprediksi harga EV bekas bisa mengalami perbaikan dalam waktu dekat. Hal ini seiring dengan berkurangnya insentif pemerintah untuk pembelian EV baru mulai Januari 2026, yang berpotensi mendorong permintaan kendaraan listrik bekas. Ia juga menilai laju perkembangan teknologi EV mulai melambat, yang dapat berdampak positif terhadap stabilitas harga jual kembali. “EV yang dibeli hari ini jelas jauh lebih unggul dibandingkan EV sepuluh tahun lalu. Tapi perbedaannya tidak lagi sedrastis antara EV sekarang dan lima tahun lalu,” ujarnya.

Dengan target Singapura untuk menghentikan pendaftaran mobil bensin baru pada 2030 dan mewujudkan armada kendaraan energi bersih sepenuhnya pada 2040, pasar EV—termasuk segmen mobil bekas—diperkirakan akan terus berevolusi seiring meningkatnya kepercayaan konsumen dan kematangan ekosistem pendukung.

Mureks