Nasional

Merawat Rasa Jawa: Tantangan Komunikasi Budaya di Era Digital yang Mengikis Identitas Generasi Muda

Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi, budaya lokal kian menghadapi tantangan. Budaya dari luar terasa lebih mudah meresap ke dalam kehidupan generasi muda dibandingkan dengan warisan budaya mereka sendiri. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran akan memudarnya identitas budaya, termasuk budaya Jawa, di kalangan anak muda.

Identitas Budaya dalam Arus Globalisasi

Dalam kajian ilmu komunikasi budaya, terutama pemikiran Stuart Hall (1990), identitas tidak diwariskan begitu saja, melainkan terbentuk melalui proses komunikasi yang berlangsung terus-menerus. Proses ini mencakup interaksi sehari-hari, penggunaan bahasa, unsur budaya yang dikenakan, hingga pengalaman bersama.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Ketika proses komunikasi ini terhenti atau tergantikan oleh budaya lain, identitas pun perlahan mengalami pergeseran. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah perubahan medium komunikasi ke arah digital.

Media digital menyediakan ruang yang luas, cepat, dan lintas budaya untuk berkomunikasi. Namun, dalam pandangan komunikasi, media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk makna. Budaya yang sering muncul dan ditayangkan secara menarik akan lebih mudah diingat dan diterima, sementara budaya lokal berisiko terpinggirkan dari pemikiran generasi muda.

Pentingnya Pengalaman Budaya untuk Membentuk Rasa Memiliki

Ilmu komunikasi menjelaskan bahwa budaya dapat hidup dengan adanya praktik, bukan sekadar pengetahuan. Hanya dengan mengetahui definisi budaya Jawa tidak akan membuat seseorang merasa memiliki budaya tersebut. Rasa kepemilikan itu akan muncul ketika seseorang terlibat secara langsung di dalamnya.

Keterlibatan ini bisa berupa menggunakan bahasanya, mengenakan pakaian adatnya, atau memiliki pengalaman bermakna dengan budaya tersebut. Inilah yang disebut dengan cultural experience, pengalaman budaya yang membentuk kedekatan emosional.

Konsep ini sejalan dengan teori experiential communication, yang menjelaskan bahwa sebuah pesan akan lebih mudah diterima dan diingat apabila seseorang mengalaminya secara langsung. Dalam konteks budaya, pengalaman bisa berupa berkunjung ke bangunan sejarah, berinteraksi dengan simbol budaya, atau menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Bentuk-bentuk ini menjadi komunikasi nonverbal yang efektif, sehingga seseorang akan mendapat pesan budaya karena telah mengalami dan merasakannya sendiri.

Peran Bahasa Jawa dalam Mempertahankan Nilai Luhur

Selain pengalaman, bahasa memiliki peran krusial dalam membangun identitas budaya. Dalam perspektif komunikasi, bahasa bukan hanya alat penyampai pesan, tetapi juga pembentuk cara berpikir dan cara memandang dunia.

Sebagai contoh, penggunaan bahasa Jawa, khususnya ragam krama, mengandung nilai kesopanan, hierarki sosial, dan bentuk penghormatan terhadap orang lain. Ketika bahasa ini jarang digunakan, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya pun berpotensi ikut memudar.

Merawat Rasa Jawa: Upaya Komunikasi Berkelanjutan

Apabila dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi, merawat rasa Jawa dapat diartikan sebagai usaha untuk menjaga agar proses komunikasi budaya tetap berlangsung. Usaha ini tidak harus berskala besar, tetapi bisa dimulai dengan kebiasaan sederhana.

Mengenakan batik, menggunakan bahasa Jawa dalam situasi tertentu, atau mengenalkan sejarah lokal dengan melakukan kunjungan ke bangunan bersejarah dapat menjadi bentuk komunikasi simbolik yang memperkuat identitas budaya. Mureks mencatat bahwa tantangan dari pelestarian budaya Jawa di kalangan generasi muda bukan hanya soal kurangnya minat, tetapi soal bagaimana budaya tersebut dikomunikasikan.

Pada akhirnya, ketika budaya dihadirkan sebagai pengalaman yang berkesan, generasi muda tidak hanya akan mengenalnya sebagai pengetahuan, tetapi juga merasakannya sebagai bagian dari diri mereka. Dalam konteks inilah, merawat rasa Jawa menjadi proses komunikasi yang penting untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Mureks