Tren

Menjelang CES 2026: Era Keemasan Laptop di Depan Mata, Namun Akankah Terjangkau?

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi era keemasan bagi industri laptop, sebuah pandangan yang mengemuka seiring dengan berbagai inovasi teknologi yang siap diluncurkan. Dari pengembangan chip revolusioner hingga terobosan dalam teknologi layar dan kapasitas baterai, semua bintang tampak selaras untuk menghadirkan perangkat notebook yang luar biasa. Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat satu tantangan besar yang berpotensi menghambat, yaitu masalah keterjangkauan harga.

Dunia komputasi telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dari sekadar pembahasan teknis minor menjadi salah satu topik perbincangan terbesar di dunia. Mulai dari popularitas perakitan PC hingga menjadi fondasi bagi ledakan (atau gelembung) AI, semuanya bermula dari komputer dan komponennya. Menurut Jason England, seorang editor pengelola komputasi di Tom’s Guide, setelah memimpin timnya menatap masa depan cerah ini, ia menjadi cukup mahir dalam membaca tanda-tanda tren teknologi berikutnya. Tahun lalu, fokusnya adalah GPU. Tahun ini, ia yakin laptop akan menjadi sorotan utama, dan semuanya akan dimulai di CES 2026.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Dominasi Layar OLED: Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Standar

Transisi ke teknologi layar OLED pada laptop telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir, namun tahun 2026 diperkirakan menjadi titik balik di mana OLED akan menjadi standar. Mulai dari rumor MacBook Pro OLED yang akan hadir pada musim gugur, hingga banyaknya laptop Windows yang diharapkan tampil di CES, kehadiran panel super cerah ini akan menjadi pemandangan umum.

Biaya produksi OLED semakin menurun, menjadikannya bukan lagi opsi khusus yang mahal, melainkan konfigurasi bawaan. Laptop seperti Lenovo Legion 5i, yang baru-baru ini diulas, menjadi bukti nyata akan hal ini, menawarkan nilai yang solid dengan layar yang memukau. Singkatnya, OLED bukan lagi standar baru, melainkan keseluruhan pengalaman.

Perang Chip Generasi Baru: Intel, AMD, dan Qualcomm Bersaing Ketat

Pertarungan sengit di arena CPU semakin memanas, dengan medan perang utama yang siap digelar di Las Vegas: Intel melawan AMD melawan Qualcomm. Intel Core Ultra 300 series (dengan kode nama Panther Lake) diprediksi akan menggabungkan performa Arrow Lake dan efisiensi daya Lunar Lake dalam satu keping silikon, lengkap dengan GPU terobosan.

AMD juga akan hadir di Sin City dengan Gorgon Point (AMD Ryzen AI HX 400 series) dan rumor penyegaran Strix Halo. Kedua chip ini menjanjikan kekuatan GPU yang masif, inti CPU yang diperbarui, dan efisiensi daya yang lebih baik. Sementara itu, Snapdragon X2 Elite dan Elite Extreme dari Qualcomm akan membawa peningkatan performa berbasis Arm yang signifikan. Dalam pengujian, performa gaming-nya sangat mengejutkan, bahkan lebih cepat dari Apple M5 dalam benchmarking.

Persaingan ini akan menjadi pertarungan krusial pada tahun 2026, mendorong lahirnya jenis notebook baru yang tidak hanya unggul dalam produktivitas dan daya tahan baterai, tetapi juga sangat mumpuni untuk bermain game. Bahkan, grafis terintegrasi mulai merambah ke laptop gaming, seperti yang terlihat pada bocoran Panther Lake ROG Zephyrus G14.

Potensi Revolusi Baterai dengan Teknologi Silikon-Karbon

Prediksi lain yang menarik adalah potensi adopsi teknologi baterai silikon-karbon. Jason England mengungkapkan kekagumannya pada ponsel pintar seperti OnePlus 15 yang mencapai daya tahan baterai luar biasa dengan sel 7.300mAh berkat teknologi ini. Baterai silikon-karbon menggunakan anoda silikon alih-alih grafit, yang berarti kepadatan energi 20-30% lebih tinggi dalam ukuran yang sama.

Bayangkan teknologi ini diterapkan pada skala laptop. Sebuah baterai 99Wh penuh bisa muat dalam notebook tipis. Hal ini akan selaras dengan peningkatan efisiensi daya CPU baru, berpotensi memberikan daya tahan baterai multi-hari yang luar biasa, atau bahkan memberikan daya lebih besar untuk laptop gaming berukuran kecil.

Tantangan Keterjangkauan: Lonjakan Harga RAM Mengancam

Di tengah semua inovasi ini, ada satu tantangan besar dan mahal yang jarang dibicarakan: harga. Mureks mencatat bahwa harga RAM telah melonjak drastis di pasar komputasi. Berbicara dengan beberapa perusahaan, ketegangan sangat terasa — masalah harga adalah sesuatu yang tidak ingin dibicarakan siapa pun karena mereka tidak tahu seberapa buruk dampaknya nanti.

Situasi ini terus berkembang, dan perusahaan-perusahaan tersebut masih bungkam mengenai seberapa besar stok DRAM yang mereka miliki. Namun, satu hal yang semakin jelas: biaya laptop akan naik perlahan tapi pasti pada tahun 2026. Harga DRAM bahkan mengubah cara perusahaan mendekati spesifikasi laptop. Lebih cepat dari yang diperkirakan, model dasar sistem mainstream mungkin hanya akan mengemas 8GB RAM untuk mempertahankan tingkat keterjangkauan.

Tentu, ada skenario di mana ini bukan masalah. Sistem operasi seperti Windows 11 dan macOS memang kaya fitur, tetapi dalam banyak situasi, jelas bahwa mereka tidak paling optimal dalam konsumsi memori. Ditambah lagi, aplikasi tertentu bisa menjadi “pembunuh RAM”, seperti Google Chrome.

Jika ini adalah arah yang harus ditempuh industri laptop, penyedia perangkat lunak perlu mengikuti dan mengoptimalkan pekerjaan mereka agar lebih ringan dalam hal persyaratan RAM. Jika tidak, situasi ini bisa menjadi sangat bermasalah bagi konsumen.

Siklus Pembelian Berulang: Peluang dan Pilihan Melimpah

Siklus pembelian laptop cenderung berulang setiap tiga hingga lima tahun. Mengingat banyak orang melakukan peningkatan teknologi pada tahun 2020, tahun 2026 menjadi waktu di mana konsumen akan kembali mencari perangkat baru. Berdasarkan antisipasi perkembangan di ruang notebook pada tahun 2026, konsumen akan dimanjakan dengan banyak pilihan inovatif.

Mureks