Nasional

Menjelajahi Tekanan Akademik dan Pencarian Jati Diri: Fenomena Depresi Mahasiswa

Di tengah hiruk pikuk aktivitas kampus, banyak mahasiswa bergegas menuju masjid atau area tenang lainnya untuk bermunajat dan melepas penat usai menjalani rutinitas perkuliahan yang melelahkan. Momen ini seringkali menjadi refleksi bagi mahasiswa, terutama mereka yang baru memasuki semester pertama, mengenai berbagai rintangan dan cobaan yang ditemui di dunia perkuliahan.

Beragam culture shock kerap dirasakan setelah melewati masa transisi dari siswa SMA menuju mahasiswa. Menurut Sarwono (1978), “mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia sekitar 18-30 tahun.” Definisi ini menegaskan bahwa penyandang nama mahasiswa memiliki tanggung jawab dan tantangan yang tidak bisa dianggap sepele.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Awalnya, sebutan mahasiswa mungkin dipandang sebagai kebebasan dari aturan ketat sekolah menengah, di mana tata tertib seringkali menjadi sorotan utama. Namun, ada disparitas sosial yang signifikan antara kehidupan mahasiswa dengan siswa di sekolah menengah, terutama dalam menghadapi tekanan dan kemandirian.

Depresi di Kalangan Mahasiswa

Seluruh lapisan mahasiswa, baik yang baru memasuki semester satu maupun di tingkat lebih tinggi, kerap mengalami fenomena depresi. Aaron T. Beck (1967) menggambarkan depresi sebagai “perubahan spesifik menuju suasana hati negatif (sedih, kecewa), konsep diri negatif, keinginan menghukum diri, dan kemunduran fungsi vegetatif (fisik).”

Mureks mencatat bahwa banyak mahasiswa baru merasakan tekanan jiwa setelah memulai kehidupan di tengah kesendirian. Bangun pagi bahkan sebelum fajar menyingsing harus dilewati dengan gundah gulana. Ada yang mengawali hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan keterlambatan, yang meskipun tidak berdampak langsung pada reputasi, tetap dipandang sebagai awal yang kurang baik.

Seorang dosen dari program studi pendidikan fisika, yang akrab disapa Pak Kendid, pernah menceritakan pengalamannya saat PKKMB. Beliau bertemu dengan seorang mahasiswa yang dirawat pasca jatuh sakit karena tidak sarapan sebelum berangkat ke kampus, lantaran tidak terbiasa menyiapkan sarapan secara mandiri. Kisah ini menyimpulkan bahwa mahasiswa tersebut kesulitan beradaptasi di lingkungan baru.

Kesulitan adaptasi ini bisa terjadi karena mahasiswa baru belum memiliki kemandirian adaptif yang memadai saat menghadapi transisi besar dalam hidupnya. Ketika seseorang terbiasa dipenuhi kebutuhan dasarnya oleh orang tua, lalu tiba-tiba harus mengelolanya sendiri, tubuh dan pikiran dapat mengalami stres signifikan. Kondisi ini sering memicu perasaan gagal, tidak berdaya, dan putus asa, yang jika berlangsung lama dapat berkembang menjadi depresi.

Depresi juga dapat memperburuk kemampuan beradaptasi karena menurunkan energi, motivasi, dan fleksibilitas berpikir, sehingga tercipta lingkaran yang saling memperkuat antara kesulitan beradaptasi dan depresi. Penting untuk diingat bahwa depresi bukanlah tanda kelemahan, melainkan kondisi kesehatan mental yang nyata dan bisa dialami siapa saja.

Krisis Identitas: Antara Eksplorasi dan Konsolidasi

Problematika selanjutnya adalah ketika mahasiswa mulai merasa kehilangan arah dan bingung akan tujuan hidupnya, sebuah kondisi yang dikenal sebagai krisis identitas. Krisis ini sering muncul pada masa transisi penting seperti remaja menuju dewasa, masuk kuliah, atau mulai bekerja. Tidak jarang mahasiswa S1 merasakan keraguan, bahkan merasa salah jurusan.

Seorang dosen lain, Pak Rudi, pernah membagikan kisahnya selama menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktoral. Beliau menjelaskan perbedaan fase hidup antara mahasiswa S1 dengan dirinya. Mahasiswa S1 berada di fase eksplorasi, yakni mencari jati diri, mencoba memahami dunia, dan mempertanyakan pilihan. Sementara Pak Rudi sudah berada di fase konsolidasi, artinya beliau sudah menemukan jalur, memperdalamnya, dan memanen hasil dari konsistensi.

Pak Rudi menekankan bahwa mereka yang terlihat “yakin” hari ini juga pernah berada di fase bingung, hanya saja orang-orang tidak melihat masa itu. Pandangan ini mengubah perspektif banyak mahasiswa tentang perkuliahan. Hikmah dari berkuliah tidak hanya terletak pada gelar atau pekerjaan yang didapat setelah lulus, tetapi pada proses pembentukan diri yang terjadi selama menjadi mahasiswa.

Intinya, kuliah adalah investasi jangka panjang. Tidak semua hasilnya langsung terlihat, tetapi dampaknya bisa sangat besar di masa depan. Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling siap dan bertahan menghadapi setiap tantangan.

Mureks