Internasional

Menhan Venezuela: “Pembunuhan Berdarah Dingin” Terjadi dalam Operasi Penangkapan Maduro oleh AS

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan telah ditangkap dalam sebuah operasi militer yang dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di Venezuela. Insiden ini juga menyebabkan sejumlah anggota tim pengawal Maduro tewas dalam serangan tersebut.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, mengonfirmasi kabar tersebut. “Serangan itu menyebabkan pembunuhan berdarah dingin terhadap Sebagian besar tim keamanannya, tentara, dan warga sipil yang tidak bersalah,” ujar Padrino Lopez, seperti dilansir CNN International pada Senin (5/1/2026).

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Lebih lanjut, Padrino Lopez mengecam keras tindakan AS ini sebagai “penculikan pengecut,” sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera. Ia menegaskan bahwa beberapa pengawal Presiden Maduro dibunuh “dengan kejam” selama operasi berlangsung.

Selain tim pengawal, Padrino juga menyebutkan bahwa personel militer dan warga sipil Venezuela turut menjadi korban dalam operasi penangkapan Maduro. Mureks mencatat bahwa otoritas Venezuela hingga kini belum merilis jumlah resmi korban luka maupun tewas akibat operasi pasukan AS tersebut.

“Saya menyerukan kepada rakyat Venezuela untuk melanjutkan semua aktivitas mereka, ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan, dalam beberapa hari mendatang,” kata Padrino. Ia menambahkan, “Negara harus mengikuti jalur konstitusionalnya.”

Penangkapan Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) dini hari, yang diawali dengan serangan besar-besaran pasukan AS ke sejumlah titik di Venezuela, merupakan puncak dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan oleh pemerintahan Trump terhadap Venezuela. Operasi ini sontak menuai kecaman dari berbagai pemimpin internasional.

AS sendiri menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah penangkapannya, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa ke Amerika Serikat.

Sebelumnya, Presiden Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump juga menuding Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.

Sejak September 2025, pasukan AS telah melancarkan setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik, menewaskan lebih dari 100 orang. Para ahli hukum menilai aksi AS tersebut berpotensi melanggar hukum AS dan internasional.

Mureks