Sejak ratusan tahun silam, kepulauan Nusantara telah menjadi saksi bisu kehebatan para pelautnya dalam menaklukkan samudra. Tanpa teknologi modern seperti kompas atau GPS, mereka mengandalkan kearifan lokal dan ilmu perbintangan sebagai panduan utama. Pengetahuan tentang bintang ini, menurut Mureks, sangat vital dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan rempah-rempah lintas Samudra Hindia sejak abad ke-7, yang turut menghubungkan Nusantara dengan dunia luar.
Pada masa itu, membaca posisi bintang bukan sekadar keahlian, melainkan sebuah kebutuhan untuk menentukan arah perjalanan, mengenali musim angin, serta menghindari berbagai bahaya di laut lepas. Kemampuan ini memungkinkan para pelaut kuno untuk berlayar jauh dan membangun jalur perdagangan yang makmur.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Etnoastronomi: Navigasi Kuno Berbasis Bintang
Ilmu yang mempelajari hubungan antara budaya dan pengetahuan tentang benda langit dikenal sebagai etnoastronomi. Di Indonesia, etnoastronomi mencatat bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal setidaknya 27 rasi bintang lokal sejak masa pra-India. Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, melalui kajian Astronomi Tradisional Palelintangan Lombok, menyebutkan bahwa pelaut Lombok secara spesifik menggunakan Bintang Selatan dan rasi Orion untuk menentukan arah mata angin saat berlayar.
Tidak hanya itu, buku Sejarah SMA/MA Kelas XI IPS karya Ignas Kingkin Teja, dkk, menjelaskan bahwa pelaut Bugis memiliki penamaan lokal untuk bintang-bintang. Mereka menyebut Bintang Polaris sebagai “Bintoeng Balu” untuk penunjuk arah utara, dan rasi Centaurus sebagai “Bintoeng Ballawo” untuk arah selatan. Penamaan ini menunjukkan kedalaman pengetahuan mereka terhadap benda-benda langit.
Ilmu Naujure: Kearifan Pelaut Bugis-Madura
Pelaut Bugis dikenal luas dengan ilmu navigasi tradisional mereka yang disebut “naujure”. Ilmu ini merupakan perpaduan kompleks antara pengamatan bintang, arah angin, dan pola ombak, yang semuanya bertujuan untuk memastikan pelayaran yang aman dan berhasil. Jurnal Implementasi Rasi Bintang Navigasi Bugis dari UIN Alauddin menyebutkan bahwa rasi Orion dikenal sebagai Bintoeng Pajekkoe, yang menandai arah barat, sementara Bintoeng Tanra Tellue digunakan sebagai penunjuk arah timur.
Pengetahuan berharga ini juga tercatat dalam naskah kuno Lontaraq Attoreng Toriolo yang kini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Naskah tersebut berisi panduan lengkap tentang cara membaca tanda-tanda alam, fenomena langit, serta penyesuaian kalender hijriah dan masehi dalam konteks pelayaran.
Peran Ilmu Perbintangan di Era Sriwijaya-Majapahit
Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya hingga Majapahit, sekitar abad ke-7 sampai ke-15, ilmu perbintangan memegang peran krusial dalam penguasaan jalur perdagangan laut. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyebutkan bahwa prasasti-prasasti Hindu-Buddha dari periode tersebut menunjukkan adanya sistem pertanggalan yang berbasis pada pergerakan bintang. Sistem ini digunakan untuk menentukan waktu pelayaran yang optimal dan musim panen.
Sebagai contoh, pelaut Madura memanfaatkan Bintang Sirius dan Canopus untuk memprediksi datangnya angin monsun. Angin monsun ini sangat memengaruhi keselamatan dan kelancaran perjalanan laut, sehingga prediksi yang akurat menjadi kunci keberhasilan pelayaran mereka.
Ilmu Perbintangan dalam Pelayaran Modern
Meskipun teknologi telah berkembang pesat, ilmu perbintangan masih relevan dan digunakan oleh sebagian masyarakat pesisir hingga saat ini. Nelayan di kawasan Medan Belawan, misalnya, masih mengamati posisi bintang untuk menentukan arah pulang dan kiblat. Mereka meyakini bahwa pemanfaatan benda langit ini terbukti membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian pengetahuan ini. BRIN mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus mengkaji etnoastronomi sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan pengetahuan leluhur Nusantara yang tak ternilai harganya.






