JAKARTA – Perhatian investor kini tertuju pada pengumuman hasil evaluasi metodologi perhitungan free float oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada akhir Januari 2026. Keputusan ini sangat dinanti karena berpotensi menentukan arah pergerakan saham-saham emiten Indonesia di kancah indeks global.
Free float merujuk pada jumlah saham yang benar-benar beredar dan dapat diperdagangkan di pasar publik, bukan total seluruh saham yang diterbitkan perusahaan. Konsep ini krusial bagi investor asing, terutama dana kelolaan berbasis indeks atau passive fund, yang memerlukan likuiditas tinggi untuk masuk dan keluar pasar tanpa memicu volatilitas harga berlebihan. Oleh karena itu, MSCI menganggap free float market capitalization sebagai syarat utama kelayakan saham untuk masuk indeks global.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Pengumuman MSCI dan Potensi Dampaknya
Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menjelaskan bahwa MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil evaluasi metodologi free float pada akhir Januari 2026. “MSCI akan mengumumkan apakah metode perhitungan free float pada akhir Januari, apakah akan diganti atau masih sama. Kita akan lihat pengumuman dari pihak MSCI di akhir Januari nanti,” ujar Faris kepada Kompas.com pada Rabu (7/1/2026).
Menurut Faris, jika MSCI memutuskan untuk mengubah metode perhitungan free float, dampaknya bisa sangat signifikan, terutama bagi saham-saham perbankan dengan bobot besar di indeks. Saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki porsi kepemilikan publik terbatas berisiko mengalami tekanan arus dana keluar atau capital outflow. “Namun seandainya MSCI memutuskan mengubah metodologi, maka saham dengan bobot yang besar seperti perbankan berpotensi terjadi capital outflow, dan akan terjadi rotasi ke konstituen lain atau ke negara lain yang menjadi alternatif,” paparnya.
Peluang Saham Komoditas dan ANTM
Dalam skenario perubahan metodologi tersebut, Faris melihat peluang justru terbuka lebar bagi saham-saham berbasis komoditas. Mureks mencatat bahwa lonjakan harga logam dasar dunia, seperti emas, timah, dan nikel, telah mendorong peningkatan kapitalisasi pasar serta likuiditas emiten komoditas nasional. Faktor ini menjadi pertimbangan penting dalam penilaian MSCI.
Salah satu emiten yang disebut memiliki potensi besar adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Emiten pelat merah ini dinilai memiliki eksposur kuat terhadap komoditas strategis dan likuiditas saham yang terus membaik. Namun, Faris menekankan bahwa peluang ini masih menunggu konfirmasi resmi dari MSCI, termasuk jadwal efektif inklusi. “Melihat kondisi market saat ini, konstituen baru akan berasal dari komoditas karena lonjakan harga logam dasar seperti emas, timah, dan nikel. Salah satu yang bisa menjadi konstituen baru adalah ANTM, hanya saja perlu kita lihat lebih lanjut apakah akan masuk inclusion pada konstituen efektif bulan Maret atau Juni,” jelasnya.
Pada perdagangan Rabu (7/1/2026), saham ANTM melesat tajam, ditutup di level Rp 3.850, menguat 400 poin atau 11,59 persen. Kapitalisasi pasar perseroan tercatat mencapai Rp 92,52 triliun. Pemegang saham terbesar ANTM adalah PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID, yang menguasai sekitar 15,62 miliar saham atau 65 persen dari total saham beredar.
Di luar pemegang saham pengendali, kepemilikan saham ANTM didominasi oleh masyarakat non-warkat dengan porsi sekitar 8,37 miliar saham (34,84 persen). Sementara itu, porsi masyarakat warkat atau investor ritel tercatat sangat kecil, yakni sekitar 37,91 juta saham atau hanya 0,16 persen. Perseroan juga memiliki saham treasury sekitar 22,88 ribu saham dengan porsi nyaris nol. Kepemilikan langsung oleh negara tercatat sangat kecil, yakni satu saham atau kurang dari 0,0001 persen, mengingat kepemilikan negara telah diwakili melalui MIND ID sebagai holding.
Selain saham berbasis logam, perhatian pasar juga tertuju pada saham-saham sektor energi dan pertambangan batu bara, yang juga berpotensi diuntungkan dari dinamika pasar komoditas global.
Referensi penulisan: money.kompas.com






