Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) harus diarahkan secara bijak. Tanpa kendali moral dan spiritual, AI berpotensi menjadi ancaman serius bagi kemanusiaan, meskipun di sisi lain memiliki kemampuan besar untuk mempercepat kemajuan bangsa. Pernyataan ini disampaikan Menag usai Upacara Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama di Lapangan Kantor Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Sabtu (3/1).
Nasaruddin menjelaskan, AI memiliki potensi besar sebagai sumber energi baru yang dapat mempercepat daya saing bangsa. Namun, ia juga membandingkan AI dengan kekuatan atom yang memiliki dua sisi mata pisau.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
“AI itu seperti atom. Bisa menjadi sumber energi paling murah, tetapi juga bisa menjadi ancaman yang sangat berbahaya jika salah digunakan. Hiroshima dan Nagasaki adalah contoh bagaimana teknologi tanpa kendali moral bisa menghancurkan kemanusiaan,” ujar Menag.
Oleh karena itu, Menag menegaskan pentingnya peran negara, khususnya Kementerian Agama, dalam memberikan arah spiritual terhadap pengembangan dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan di Indonesia. Pernyataan Menag ini, menurut pantauan Mureks, menggarisbawahi urgensi pembentukan kerangka etika yang kuat dalam pengembangan teknologi.
Ia memperingatkan bahwa tanpa bimbingan spiritual, AI dapat melahirkan krisis kemanusiaan baru. “Tanpa bimbingan spiritual, AI bisa melahirkan dehumanisasi baru. Manusia bisa kehilangan arah, kehilangan empati, dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya,” katanya.
Nasaruddin juga mengungkapkan bahwa Kementerian Agama tengah aktif mendorong kerja sama lintas negara dan lintas agama. Upaya ini bertujuan untuk merumuskan arah etis dalam pengembangan teknologi, termasuk AI, salah satunya melalui tindak lanjut Deklarasi Istiqlal-Vatikan.
“Kami ingin AI ini dijinakkan, diarahkan agar proporsional. Jangan sampai teknologi justru menjadi bumerang atau malapetaka bagi umat manusia. Sebaliknya, AI harus menjadi energi yang mempercepat kemajuan bangsa di era kompetisi global,” tuturnya.
Ia menambahkan, AI seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung kehidupan beragama, pendidikan keagamaan, serta pelayanan publik yang lebih efektif dan manusiawi. Teknologi ini tidak boleh menggantikan nilai-nilai dasar kemanusiaan itu sendiri.
“Peran Kementerian Agama adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berada dalam koridor etika, moral, dan spiritual, agar membawa maslahat bagi umat dan bangsa,” ujar Nasaruddin.
Dengan pendekatan yang komprehensif ini, Nasaruddin berharap Indonesia mampu menjadi contoh negara yang tidak hanya unggul dalam inovasi teknologi, tetapi juga kuat dalam menjaga nilai kemanusiaan dan kerukunan sosial di tengah derasnya arus digitalisasi.






