Nasional

Memaknai Pergantian Tahun: Refleksi Diri dan Pentingnya Pengelolaan Waktu Melalui Ibadah Salat

Memasuki awal tahun baru, banyak individu merenungkan kembali perjalanan hidup dan merencanakan langkah ke depan. Dalam konteks ini, pengelolaan waktu menjadi krusial, tidak hanya untuk urusan duniawi tetapi juga spiritual. Dosen Program Pascasarjana, Asep Abdurrohman, menyoroti bagaimana rutinitas ibadah, khususnya salat, dapat menjadi kerangka efektif dalam menata waktu dan kehidupan.

Asep Abdurrohman memulai refleksinya dengan rutinitas sederhana setelah bangun tidur. Tubuh secara alami diatur untuk membuang kotoran, seperti air seni, yang jika ditahan dapat menimbulkan masalah kesehatan. Tindakan ini, menurutnya, adalah pengingat awal tentang pentingnya tidak menunda hal yang seharusnya segera diselesaikan.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Setelah itu, proses berwudu yang dilakukan sesuai sunah, menghadap kiblat, dan diiringi doa, bukan sekadar ritual. Kondisi ini, jelas Asep, memberi makna bahwa manusia tidak boleh kosong dari kegiatan yang memberi arti bagi kehidupan. Setiap momen harus dikelola dengan baik, diisi dengan manfaat, baik untuk dunia maupun akhirat, atau bahkan urusan dunia yang dapat mengantar pada kebaikan akhirat.

Usai berwudu dan berdoa, persiapan salat Subuh dengan mengenakan pakaian terbaik yang rapi dan bersih dari najis menjadi langkah selanjutnya. Jika waktu memungkinkan, salat tahajud juga dianjurkan sebelum berangkat ke masjid.

Di masjid, selesai menunaikan salat, interaksi sosial dengan sesama jemaah menjadi bagian tak terpisahkan. Asep Abdurrohman menekankan bahwa hubungan baik dengan Allah harus diimbangi dengan hubungan baik antar sesama manusia. Salat berjemaah, baginya, adalah simbol kebersamaan dan solidaritas.

Merujuk pada kerapatan barisan dalam salat, Asep mengartikan bahwa jemaah juga harus memiliki empati dan simpati yang erat. Ia mempertanyakan kualitas salat seseorang yang tetap cuek dan tidak menghiraukan kondisi lingkungannya, meskipun rutin salat berjemaah.

Salat, lanjut Asep, berkorelasi erat dengan keteraturan hidup seseorang. Idealnya, individu yang melaksanakan salat akan lebih tertata dalam kehidupannya, sebab salat memberikan kerangka bagi manusia beriman untuk menata diri sebaik mungkin, seperti jadwal salat lima waktu yang sudah ditetapkan.

Plotting waktu salat, menurut Asep, sangat presisi dengan kebutuhan manusia, baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Mureks mencatat bahwa dalam setiap pergantian waktu salat, terdapat pergantian ‘warna’ yang dapat menstimulasi kesehatan manusia.

Ketika Subuh tiba, warna biru diyakini mempengaruhi kelenjar tiroid. Zuhur membawa warna kuning yang berdampak pada kesehatan pencernaan. Asar muncul dengan warna oranye yang dapat memengaruhi kesehatan prostat dan testis. Sementara Magrib, dengan warna merahnya, disebut selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Kemudian Isya, dengan warna gelapnya, menandakan waktu istirahat bagi manusia setelah menunaikan salat.

Setelah salat ditunaikan, menyapa tetangga yang juga selesai beribadah di masjid menciptakan suasana sejuk dan tenang, memberikan energi kebaikan yang lebih positif dibandingkan interaksi di luar konteks ibadah.

Tiba di rumah, mengucapkan salam, bahkan jika anggota keluarga sedang salat atau berzikir, adalah kebiasaan baik yang dijawab oleh malaikat. Aura positif setelah salat dapat disambung dengan lantunan bacaan Al-Qur’an yang dikeraskan agar seisi rumah dapat menyimak, atau dilakukan di tempat yang tidak saling bersahutan.

Setelah itu, mandi, sarapan, dan berangkat kerja mengisi hari. Asep Abdurrohman menekankan bahwa seluruh rangkaian kegiatan harian yang terisi ini bukan sekadar rutinitas tanpa makna, melainkan penuh hikmah yang meresap ke dalam jiwa.

Di antara sekian banyak hikmah, manusia diajarkan untuk pandai mengatur waktu. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Bahkan menyapa pos ronda pun memiliki nilai kehidupan untuk berbagi waktu dengan masyarakat.

Pengorbanan waktu untuk masyarakat, baik dalam bentuk pikiran maupun tenaga, dianggap sebagai investasi terbaik untuk mendulang keberuntungan dan keberkahan usia. Hikmah kebaikan dari tindakan ini, pada akhirnya, akan kembali kepada diri dan keluarga. Semoga bermanfaat.

Mureks