Keuangan

Mahendra Siregar: “Investor Ritel Kuasai 50% Transaksi Saham, Didominasi Milenial dan Gen Z”

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti lonjakan signifikan peran investor ritel di pasar modal Indonesia. Saat ini, investor ritel telah menguasai 50 persen dari total transaksi saham, sebuah kondisi yang dinilai sebagai peluang besar sekaligus tantangan serius bagi integritas pasar.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan perdagangan bursa efek 2026, Jumat (2/1/2026). Ia menjelaskan bahwa porsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

“Porsi transaksi investor ritel meningkat pesat dari 38 persen di akhir tahun 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir. Dan proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lainnya yang lebih mengandalkan investor institusional, dalam maupun luar negeri,” ujar Mahendra.

Dominasi investor ritel ini memicu kebutuhan akan penguatan aspek perlindungan. OJK menekankan pentingnya melindungi investor ritel dari praktik “goreng-menggoreng” saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya. Mureks mencatat bahwa isu ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pasar modal.

“Seiring itu, penguatan literasi dan edukasi yang lebih masif, targeted, dan berkualitas menjadi sangat krusial untuk memastikan partisipasi investor ritel yang sehat dan berkelanjutan,” papar Mahendra.

Lebih dari 70 persen investor ritel di Indonesia saat ini berasal dari Generasi Milenial dan Generasi Z (Gen Z). Oleh karena itu, Mahendra berharap pasar saham tidak hanya dipandang sebagai sarana transaksi harian untuk mengejar keuntungan jangka pendek.

“Sehingga investor retail kita yang lebih 70 persen diantaranya adalah milenial dan Gen Z tidak melihat pasar saham sebagai transaksi perdagangan harian yang semata-mata mengejar kekayaan dalam jangka pendek, justru menjadikannya salah satu sumber pendanaan untuk jangka menengah dan panjang dalam meningkatkan kesejahteraan keuangan mereka,” bebernya.

Menurut Mahendra, potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia masih sangat besar. Namun, realisasi potensi tersebut menuntut perbaikan ekosistem secara berkelanjutan, terutama pada aspek integritas pasar sebagai fondasi terciptanya pasar modal yang berfungsi dengan baik dan efisien.

Lebih lanjut, Mahendra juga menyinggung kinerja pasar modal yang secara umum sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah indikator menunjukkan capaian positif sepanjang 2025, sebagaimana telah disampaikan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan akhir tahun, 30 Desember 2025 lalu.

Pada akhir 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.646,94, menguat 22,13 persen sepanjang tahun. Kendati demikian, Mahendra menilai masih terdapat ruang perbaikan yang cukup besar.

Mureks