Otomotif

Laporan Polisi AI Heber City: Petugas Berubah Katak, Bahaya Data Palsu Mengintai Catatan Resmi

Sebuah insiden aneh di Heber City, Utah, Amerika Serikat, baru-baru ini menyoroti potensi bahaya kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan laporan resmi. Sistem AI yang diuji coba oleh kepolisian setempat secara keliru mencatat seorang petugas berubah menjadi katak dalam sebuah laporan penilangan lalu lintas, memicu kekhawatiran serius tentang integritas data.

Kejadian bermula pada Desember lalu ketika Departemen Kepolisian Heber City menguji perangkat lunak penulisan laporan bertenaga AI. Sistem ini dirancang untuk mendengarkan rekaman kamera tubuh (body cam) petugas dan secara otomatis menyusun draf laporan. Namun, alih-alih mencatat fakta, AI tersebut justru “berhalusinasi” setelah menangkap audio dari film The Princess and the Frog yang diputar di latar belakang rekaman.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

AI Salah Tafsir, Laporan Resmi Jadi Fiksi

Sersan Keel dari kepolisian Heber City menjelaskan duduk perkara kesalahan fatal ini. “Perangkat lunak kamera tubuh dan perangkat lunak penulisan laporan AI menangkap film yang sedang diputar di latar belakang, yaitu ‘The Princess and the Frog’,” ujar Sgt. Keel kepada Fox 13. “Saat itulah kami mengetahui pentingnya mengoreksi laporan yang dihasilkan AI ini.”

Meskipun insiden ini terdengar lucu, implikasinya jauh dari sekadar lelucon. Alat AI semacam ini dirancang untuk menghemat waktu petugas, mengurangi beban administrasi, dan memungkinkan lebih banyak waktu patroli. Namun, di sisi lain, algoritma kini bertugas menafsirkan percakapan, nada suara, dan kebisingan latar belakang selama interaksi di jalan, termasuk penilangan lalu lintas yang dapat memiliki konsekuensi jangka panjang bagi pengemudi.

Mureks mencatat bahwa catatan dari penilangan lalu lintas, meskipun sering dianggap interaksi singkat, dapat bersifat permanen. Laporan-laporan ini berpotensi memengaruhi penilangan di masa depan, proses pengadilan, klaim asuransi, penangguhan SIM, bahkan pemeriksaan latar belakang pekerjaan. Dengan kata lain, ketika AI melakukan kesalahan, itu bukan sekadar salah ketik atau halusinasi lucu, melainkan misinformasi yang tertanam dalam dokumen resmi.

Risiko Kesalahan yang Lebih Sulit Dideteksi

Dalam kasus Heber City, kesalahan “petugas katak” cukup jelas untuk ditertawakan dan diperbaiki. Namun, bagaimana jika AI salah memahami siapa yang mengatakan apa, salah menafsirkan nada suara pengemudi, atau secara tidak akurat meringkas mengapa sebuah insiden memanas? Kesalahan semacam itu jauh lebih bermasalah.

Tidak hanya lebih sulit untuk dideteksi, tetapi muncul pertanyaan apakah setiap petugas akan mengoreksi bahasa yang mungkin “cukup mirip” namun lebih intens dari yang seharusnya. Untuk saat ini, tim redaksi Mureks menyarankan agar pengemudi mulai menggunakan kamera dasbor (dashcam) dan perangkat perekam lainnya untuk memastikan adanya catatan independen yang tidak dapat diubah oleh AI. Meminta rekaman kamera tubuh dan laporan melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA) juga bisa menjadi langkah penting. Catatan permanen Anda dengan otoritas hukum bukanlah permainan yang bisa dianggap enteng.

Mureks