Tren

Krisis Sampah Tangerang Selatan Memburuk: Tumpukan Tiga Meter Tutup Separuh Jalan di Pasar Tradisional

Status tanggap darurat sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) secara resmi berakhir pada Senin, 5 Januari 2026. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Tumpukan sampah masih mendominasi, terutama di sejumlah pasar tradisional.

Di Pasar Cimanggis, Pasar Ciputat, dan Pasar Jombang, gunungan sampah terlihat meluber hingga ke badan jalan, menimbulkan bau menyengat yang mengganggu. Air lindi mengalir bebas, lalat beterbangan, dan belatung muncul tanpa malu-malu di sekitar tumpukan tersebut. Kondisi ini bukan insiden sesaat, melainkan masalah yang telah menghantui Tangsel sejak pertengahan Desember 2025 dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Kondisi terparah terpantau di Pasar Cimanggis dan Pasar Jombang, di mana ketinggian sampah disebut mencapai sekitar tiga meter, nyaris menyentuh atap kios pedagang. Di Pasar Ciputat dan Cimanggis, sampah bahkan meluber hingga menutup separuh jalan raya dan memanjang di trotoar sekitar 10 meter, seperti diwartakan Kompas.com.

Menteri Lingkungan Hidup Soroti Tangsel sebagai Kota Terkotor

Di tengah krisis ini, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq sebelumnya menyoroti Tangerang Selatan sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia. Predikat serupa juga disematkan kepada Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, yang sama-sama berada di Provinsi Banten.

Hanif bahkan sempat melontarkan ancaman serius kepada Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie terkait penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong. Penutupan ini berimbas langsung pada penumpukan sampah di berbagai sudut kota. “Berdasarkan Pasal 40 Undang-Undang 18/2008, sampah merupakan tanggung jawab Wali Kota,” tegas Hanif. Dalam aturan tersebut, Mureks mencatat bahwa ancaman pidana minimal empat tahun dapat dikenakan jika persoalan sampah tidak ditangani dengan benar.

Pedagang dan Pengendara Keluhkan Dampak Krisis

Dampak penumpukan sampah ini dirasakan langsung oleh para pedagang. Hartini (42), seorang pedagang sayuran di Pasar Jombang, mengungkapkan bahwa penumpukan sampah sudah terjadi sejak sebelum pergantian tahun. Menurutnya, sampah mulai menggunung sejak akhir Desember 2025 dan hingga kini belum terangkut sepenuhnya.

“Ada sekitar hampir sebulanan, sekitar akhir-akhir Desember mulai numpuk. Udah ada juga yang angkutin, ada berapa kali, kayanya ada sekitar 2 kali tapi gak semuanya, mungkin bertahap kali angkutinnya,” kata Hartini kepada Satelit News.

Meskipun sampah tidak langsung menutup lapaknya, Hartini menyebut bau menyengat, akses pasar yang tertutup, serta area parkir yang lumpuh membuat aktivitas jual beli makin tidak nyaman. “Tapi paling cuma bau dan parkirnya jadi susah. Soalnya di sana ada akses masuknya tapi malah tertutup sampah. Sebelum ada sampah juga penjualan sudah menurun banget,” lanjut perempuan yang sudah 25 tahun berdagang itu. Ia juga menegaskan bahwa sebagian besar sampah bukan berasal dari aktivitas pasar, melainkan diduga dibuang oleh warga sekitar karena pengangkutan di lingkungan mereka tidak berjalan lancar. “Kalau dari pasar mah nggak banyak sih,” sebutnya.

Keluhan serupa datang dari pengguna jalan. Soleh (45), seorang pengendara motor yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online, mengaku sangat dirugikan oleh kondisi tersebut. “Dari segi kesehatan sangat mengganggu dari bau yang menyengat dan aktivitas pengguna jalan sering terganggu dengan adanya ini. Karena saya lewat sini hampir setiap hari, harapan saya pemda Tangsel sesegera mungkin untuk mempercepat mengkondisikan sampah yang sangat mengganggu ini,” beber Soleh.

Mureks