Kerusuhan besar melanda Iran memasuki minggu kedua pada Rabu (7/1/2026), dipicu oleh kemerosotan tajam ekonomi dan anjloknya nilai mata uang rial. Konflik ini telah menelan puluhan korban jiwa dan menyebabkan ratusan penangkapan, memperlihatkan ketidakpuasan publik yang meluas terhadap kepemimpinan teokratis di negara itu.
Kelompok hak asasi manusia Hengaw, yang dikutip oleh Reuters pada Rabu (7/1/2026), melaporkan bahwa setidaknya 25 orang tewas, termasuk empat anak di bawah umur, sejak protes dimulai. Korban jiwa ini terjadi di tengah kejatuhan nilai rial dan inflasi yang meroket. Sementara itu, jaringan aktivis HRANA mencatat setidaknya 29 korban tewas dan 1.203 orang ditangkap hingga 5 Januari. Otoritas Iran sendiri belum merilis jumlah resmi korban dari pihak demonstran, namun mengonfirmasi bahwa sedikitnya dua anggota aparat keamanan tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam bentrokan di berbagai wilayah.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Asal Mula Protes: Dari Ekonomi ke Tantangan Politik
Protes yang bermula pada 28 Desember 2025 ini pertama kali dipicu oleh aksi pedagang di Grand Bazaar Tehran. Mereka menutup toko sebagai bentuk protes terhadap anjloknya nilai rial terhadap dolar AS hingga mencapai rekor terendah. Inflasi yang terus meningkat telah menyebabkan harga kebutuhan pokok meroket, mempersulit kehidupan sehari-hari banyak warga.
Meskipun awalnya berfokus pada isu-isu ekonomi seperti kenaikan harga dan nilai tukar, tuntutan demonstran dengan cepat berkembang menjadi kritik terhadap struktur kekuasaan teokratis di Iran. Beberapa pengunjuk rasa mulai menyerukan perubahan politik yang lebih luas, sekaligus mengecam kebijakan pemerintah dan pemimpin tertinggi negara.
Dalam beberapa hari terakhir, bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran semakin intens. Menurut laporan The Associated Press pada Selasa (6/1/2026), terjadi aksi duduk di Grand Bazaar yang berakhir dengan penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan, sementara puluhan toko ditutup di sepanjang pasar. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa situasi ekonomi sudah berada di luar kendali penuh pemerintah dan menyerukan reformasi. “Kita tidak boleh mengharapkan pemerintah menangani semua ini sendirian,” ujarnya melalui siaran televisi.
Respons Internasional dan Ancaman Intervensi AS
Protes ini juga menarik perhatian internasional, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memperingatkan kemungkinan intervensi jika pasukan Iran melakukan tindakan keras terhadap demonstran. Pernyataan tersebut memicu teguran keras dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menolak tekanan luar negeri.
Mureks mencatat bahwa meskipun sebagian besar protes dipicu oleh masalah domestik, ketegangan geopolitik juga turut memperumit situasi. Pemerintah Iran menuduh kekuatan asing memanfaatkan ketidakpuasan ekonomi untuk memicu kekacauan dan menjelekkan negara.
Krisis ekonomi Iran diperburuk oleh serangkaian faktor, termasuk sanksi internasional, inflasi tinggi yang telah mencapai lebih dari 40%, serta tekanan dari konflik regional dan dampak ekonomi perang 12 hari pada pertengahan tahun lalu yang menghantam situs nuklir negara tersebut. Protes skala besar seperti ini menjadi yang terbesar sejak gelombang demonstrasi berbulan-bulan pada 2022 yang dipicu kematian Mahsa Amini di tangan polisi moral Iran, sebuah peristiwa yang kemudian menimbulkan kecaman luas internasional karena pelanggaran hak asasi.






