Serial fantasi horor populer, “Stranger Things 5”, telah resmi menutup kisah panjang kota Hawkins dengan episode final bertajuk “The Rightside Up”. Penutup ini menyatukan seluruh karakter utama dalam pertempuran terbesar dan paling kompleks sepanjang seri, menghadapi Vecna dan Mind Flayer demi menyelamatkan dunia dari kehancuran lintas dimensi.
Episode terakhir langsung dibuka dengan rentetan aksi intens. Eleven, Max, dan Kali melancarkan serangan terhadap Henry Creel alias Vecna di dalam pikirannya. Sementara itu, di dimensi lain, Hopper dan Murray bersiap memicu ledakan dahsyat untuk menghancurkan Upside Down. Di saat bersamaan, anggota Hawkins Crew lainnya memberanikan diri memasuki Abyss guna menyelamatkan anak-anak yang diculik.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Menurut kreator serial Matt Duffer, klimaks ini dirancang dengan cermat, menyerupai akhir kampanye Dungeons & Dragons. “klimaks ini dirancang seperti akhir kampanye Dungeons & Dragons, di mana setiap karakter memainkan peran penting sesuai kemampuan masing-masing. Tidak ada tokoh yang berdiri sendiri dalam pertarungan pamungkas tersebut,” jelas Duffer, menekankan kolaborasi sebagai kunci kemenangan.
Di dalam Abyss, kelompok Hawkins menemukan fakta mengejutkan bahwa Pain Tree yang mereka cari selama ini ternyata adalah wujud sesungguhnya dari Mind Flayer. Pertarungan masif pun tak terhindarkan. Nancy, Jonathan, Robin, Steve, Dustin, Lucas, dan Mike bekerja sama menjebak serta membakar monster raksasa itu, hingga akhirnya Mind Flayer berhasil dikalahkan.
Konflik emosional mencapai puncaknya saat Vecna hampir menguasai situasi. Will berhasil mengalihkan perhatiannya, memberikan kesempatan krusial bagi Eleven untuk melumpuhkan tubuh Henry. Namun, sosok yang secara mengejutkan mengakhiri hidup Vecna justru Joyce Byers. Dengan kapak di tangannya, Joyce memenggal kepala Vecna, menandai akhir teror yang telah menghantui Hawkins sejak musim pertama.
Kreator Ross Duffer menjelaskan bahwa keputusan menjadikan Joyce sebagai eksekutor akhir bukan tanpa alasan. “Joyce adalah karakter pertama yang sejak awal percaya ada sesuatu yang salah di Hawkins dan berani melawan ketakutan demi keluarganya,” ujar Ross Duffer, menyoroti perjalanan panjang dan keberanian karakter tersebut.
Setelah Vecna dan Mind Flayer tewas, Upside Down mulai runtuh secara dramatis. Hopper dan Murray memicu bom yang menghancurkan penghubung antar dunia, diiringi lagu “Purple Rain” dari album berjudul sama milik Prince. Namun, pengorbanan besar terjadi ketika Eleven memilih tetap berada di Upside Down agar tidak ada lagi pihak yang bisa memanfaatkan kekuatannya. Ia menghilang bersama runtuhnya dimensi tersebut, meninggalkan nasibnya terbuka untuk ditafsirkan penonton.
Serial ini ditutup dengan adegan sederhana namun simbolis: Will, Mike, Dustin, Lucas, dan Max kembali ke ruang bawah tanah keluarga Wheeler untuk memainkan Dungeons & Dragons untuk terakhir kalinya. Setelah itu, mereka meninggalkan permainan masa kecil mereka, sementara generasi baru memulai petualangan serupa.
Dalam narasi penutup, terungkap masa depan para karakter utama:
- Max dan Lucas akhirnya bersama.
- Dustin melanjutkan kuliah namun tetap dekat dengan Steve.
- Will menemukan penerimaan di kota besar.
- Mike mengejar impiannya sebagai penulis.
- Nancy bekerja sebagai jurnalis.
- Jonathan menjadi pembuat film.
- Robin melanjutkan pendidikan.
- Steve menetap di Hawkins sebagai pelatih bisbol anak-anak.
Hopper dan Joyce tetap bersama, bahkan bertunangan, serta berencana pindah ke Montauk, New York. Mureks mencatat bahwa akhir kisah ini menegaskan tema persahabatan, pengorbanan, dan keberanian yang menjadi ruh “Stranger Things” sejak awal, ditutup dengan lagu “Heroes” dari album “Heroes” milik David Bowie.
Dengan ending ini, “Stranger Things 5” menutup perjalanannya bukan hanya sebagai cerita horor fiksi ilmiah, tetapi juga sebagai kisah tentang tumbuh dewasa dan arti rumah bagi para karakternya.






