Operasi pencarian besar-besaran terus berlanjut di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) di Kota Cebu, Filipina, menyusul insiden longsoran “gunung” sampah dan material puing pada Jumat (9/1/2026). Peristiwa nahas ini menimbun bangunan-bangunan rendah dan para pekerja di dalamnya, menyebabkan sedikitnya dua orang tewas, belasan lainnya luka-luka, dan puluhan orang masih belum ditemukan.
Pejabat setempat mengonfirmasi bahwa longsoran yang terdiri dari gunungan sampah, tanah, dan puing-puing bangunan terjadi di Desa Binaliw, Kota Cebu. Material longsoran menimbun dan menjebak para pekerja yang berada di fasilitas pengelolaan sampah tersebut.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Dua Korban Tewas Teridentifikasi, 36 Orang Masih Dicari
Sebanyak 13 orang berhasil diselamatkan hidup-hidup sepanjang malam setelah kejadian. Namun, satu di antaranya kemudian meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jenazah kedua ditemukan beberapa jam kemudian.
Direktur Kepolisian Regional Brigadir Jenderal Roderick Maranan menjelaskan kepada The Associated Press bahwa korban pertama yang meninggal adalah seorang pekerja perempuan di lokasi pembuangan sampah. “Sementara yang lainnya selamat dengan luka-luka dan telah dirawat di rumah sakit,” ujar Maranan, dikutip Sabtu (10/1/2026).
Wali Kota Cebu, Nestor Archival, dalam sebuah pernyataan menambahkan bahwa jenazah kedua yang berhasil dievakuasi pada Jumat sore adalah seorang insinyur berusia 25 tahun yang bekerja di fasilitas tersebut. Tim penyelamat saat ini masih berupaya mencari sekitar 36 orang yang diduga masih terperangkap di bawah longsoran. Seluruh korban tewas dan hilang merupakan pekerja di TPA dan fasilitas pengelolaan sampah itu.
Kesaksian Penyintas: Longsoran Cepat Tanpa Peringatan
Salah seorang penyintas, Jaylord Antigua (31), pegawai kantor di TPA, menceritakan detik-detik mengerikan saat longsoran terjadi. Ia menggambarkan bagaimana peristiwa itu berlangsung sangat cepat tanpa peringatan, meskipun cuaca saat itu cerah. Longsoran tersebut menghancurkan kantor tempat ia bekerja.
Antigua berhasil menyelamatkan diri dengan luka memar di wajah dan lengannya setelah merangkak keluar dari bawah timbunan puing. “Saya melihat sebuah cahaya dan merangkak ke arah sana secepat mungkin, karena saya takut akan ada longsoran susulan,” kata Antigua. Ia menambahkan, “Itu traumatis. Saya takut itu adalah akhir hidup saya, jadi ini adalah kehidupan kedua bagi saya.”
Operasi Pencarian Berlanjut Tanpa Batas Waktu
Pemerintah Kota Cebu dan Kantor Pertahanan Sipil menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan akan terus dilakukan tanpa batas waktu di fasilitas tersebut, yang mempekerjakan sekitar 110 orang. “Seluruh tim respons tetap terlibat penuh dalam upaya pencarian dan evakuasi untuk menemukan para korban yang masih hilang dengan kepatuhan ketat terhadap protokol keselamatan,” kata Wali Kota Archival dalam pernyataan yang diunggah di Facebook.
Archival juga menegaskan, “Pemerintah kota menjamin kepada publik dan keluarga para korban bahwa semua langkah yang diperlukan sedang diambil untuk memastikan keselamatan, transparansi, akuntabilitas, dan bantuan yang penuh empati seiring berlanjutnya operasi.”
Foto-foto yang dirilis otoritas memperlihatkan para penyelamat menggunakan alat berat untuk menyisir bangunan yang hancur akibat longsoran sampah, dengan atap seng yang terpelintir dan rangka besi yang bengkok. Di sekitar lokasi, kerabat para korban menunggu dengan cemas, beberapa di antaranya terlihat menangis sambil memohon kepada petugas agar mempercepat proses pencarian.
Maranan menyebutkan salah satu bangunan yang tertimpa longsoran merupakan gudang tempat para pekerja memilah sampah yang dapat didaur ulang dan limbah lainnya. Menurut pantauan Mureks, tempat pembuangan sampah dan lokasi pembuangan terbuka telah lama menjadi sumber kekhawatiran keselamatan dan kesehatan di banyak kota dan daerah di Filipina, terutama di kawasan dekat komunitas miskin, di mana warga kerap mengais barang bekas dan sisa makanan dari tumpukan sampah.
Tragedi serupa pernah terjadi pada Juli 2000, ketika gunungan sampah besar di sebuah kawasan permukiman kumuh di pinggiran Kota Quezon, wilayah metropolitan Manila, runtuh setelah beberapa hari cuaca buruk. Longsoran tersebut juga memicu kebakaran dan menewaskan lebih dari 200 orang, membuat banyak lainnya hilang, serta menghancurkan puluhan gubuk.






