Gelombang protes yang telah berlangsung lebih dari sepekan di Iran dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 17 orang. Angka ini muncul di tengah ultimatum keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Teheran, Selasa (06/01/2026).
Menurut laporan sejumlah kelompok hak asasi manusia yang dikutip Reuters, Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat 16 korban jiwa sejak demonstrasi dimulai. Sementara itu, kelompok hak asasi Hengaw melaporkan angka kematian akibat bentrokan mencapai 17 orang. Selain korban tewas, aparat keamanan juga dilaporkan telah menangkap lebih dari 580 orang dalam operasi penertiban di berbagai wilayah Iran.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Aksi unjuk rasa ini bermula dari kemarahan publik terhadap tingginya inflasi, melemahnya nilai tukar mata uang rial, serta memburuknya kondisi ekonomi yang melumpuhkan daya beli masyarakat. Protes awalnya digerakkan oleh para pedagang di kawasan bazar setelah pemerintah memutuskan penutupan lembaga publik demi menghemat bahan bakar. Aksi ini kemudian meluas, diikuti oleh mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya.
Mureks mencatat bahwa demonstrasi telah terjadi di lebih dari 170 lokasi di 25 dari total 31 provinsi di Iran, menunjukkan luasnya penyebaran aksi protes tersebut. Para pengamat menilai skala geografis unjuk rasa ini mencerminkan tingkat ketidakpuasan publik yang meluas, meskipun intensitas dan jumlah massa di tiap daerah bervariasi.
Gelombang protes kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang meninggal dunia dalam tahanan polisi moral, memicu demonstrasi nasional selama berbulan-bulan. Meski demikian, para aktivis dan analis menilai bahwa aksi protes saat ini belum mencapai tingkat mobilisasi dan eskalasi seperti pada 2022. Namun, meluasnya demonstrasi ke berbagai provinsi serta meningkatnya jumlah korban jiwa dan penangkapan menandakan potensi ketegangan yang masih dapat berkembang, terutama di tengah kondisi ekonomi Iran yang terus memburuk dan ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat yang dinilai semakin terbatas.
Khamenei Angkat Bicara, Bedakan Demonstran dan “Perusuh”
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu menyampaikan pernyataan publik pertamanya terkait gelombang protes tersebut. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, ia membedakan antara demonstran yang menyuarakan keluhan ekonomi dan pihak yang ia sebut sebagai “perusuh”.
“Kami berbicara dengan para demonstran, para pejabat juga harus berbicara dengan mereka,” kata Khamenei. “Namun tidak ada manfaatnya berbicara dengan para perusuh. Para perusuh harus diberi pelajaran.”
Khamenei juga kembali menuding keterlibatan pihak asing tanpa bukti. “Sekelompok orang yang diprovokasi atau dibayar oleh musuh berada di belakang para pedagang dan pemilik toko, meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, Iran, dan Republik Islam,” ujarnya. Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal persetujuan bagi aparat keamanan, termasuk Garda Revolusi Iran dan kelompok paramiliter Basij, untuk menindak tegas aksi protes.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta pendekatan yang lebih persuasif. Ia menyerukan agar aparat menanggapi demonstran secara “ramah dan bertanggung jawab”, seraya menegaskan bahwa, “masyarakat tidak dapat diyakinkan atau ditenangkan dengan pendekatan yang memaksa.”
Bentrokan dan Korban Jiwa Terus Bertambah
Kekerasan terus dilaporkan di sejumlah daerah. Di kota Qom, pusat konservatif dan pendidikan Syiah, dua orang tewas, termasuk satu korban akibat ledakan granat rakitan yang menurut otoritas keamanan sedang dibawa untuk menyerang warga. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kebakaran di sejumlah ruas jalan.
Di kota Harsin, Provinsi Kermanshah, seorang anggota Basij, sayap sukarelawan Garda Revolusi Iran, dilaporkan tewas akibat serangan senjata api dan pisau. Media pemerintah juga melaporkan insiden kekerasan di Kabupaten Malekshahi, Provinsi Ilam, meski tanpa rincian lengkap.
Kelompok Hengaw dan Iran Human Rights menuduh aparat keamanan Iran menembaki para demonstran. Tuduhan tersebut dibantah media semiresmi Fars yang mengklaim, tanpa menyertakan bukti, bahwa sebagian demonstran membawa senjata api dan granat.
Trump Ancam Iran Terkait Protes
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran damai. Trump menegaskan bahwa jika Teheran “membunuh demonstran damai secara brutal”, maka Amerika Serikat “akan datang untuk menyelamatkan mereka”.
Meski tidak merinci bentuk intervensi yang dimaksud, pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Sejumlah pejabat Iran menanggapi ancaman itu dengan peringatan balasan, termasuk ancaman untuk menargetkan pasukan AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan, Iran juga menyatakan telah menghentikan pengayaan uranium di seluruh fasilitas nuklirnya sebagai sinyal keterbukaan terhadap kemungkinan negosiasi dengan negara-negara Barat. Namun hingga kini, pembicaraan tersebut belum terwujud. Sebaliknya, Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memperingatkan Teheran agar tidak menghidupkan kembali program nuklirnya.
Sementara itu, lembaga konsultan risiko politik Eurasia Group menilai bahwa gelombang protes yang terjadi di Iran tidak digerakkan oleh kekuatan oposisi yang terorganisir. “Iran tidak memiliki oposisi domestik yang terorganisir; para demonstran kemungkinan besar bergerak secara spontan,” kata Eurasia Group. Meskipun demikian, kelompok tersebut menilai rezim Iran masih memiliki aparat keamanan yang besar dan solid, yang memungkinkan pemerintah menekan aksi protes tanpa kehilangan kendali atas negara.






