Nasional

Kisah Haru Soleh dan Nismuh: Perjalanan Sepuluh Jam dari Penjara Menuju Pelukan Keluarga di Tengah Banjir

Sudah hampir tiga jam Soleh, seorang sopir L300 tua, menanti penumpang di simpang empat yang biasanya ramai. Tangannya tak henti mengibas, memanggil calon penumpangnya. “Kuta Batu, Kuta Batu, yok… yok…!” teriaknya, berharap bisa segera meninggalkan ibu kota provinsi.

Menjelang sore, Soleh biasanya sudah dalam perjalanan. Namun, sepinya penumpang membuatnya rela mengulur waktu. “Setidaknya ada satu penumpang saja untuk ongkos minyak, mobil ini akan langsung berangkat,” gumamnya, bersandar pada mobilnya.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Tak lama, seorang pria muda dengan tas lusuh muncul dari ujung simpang. Mata Soleh langsung awas, seperti elang mengintai mangsa. Begitu jarak mendekat, ia sigap memanggil, “Kuta Batu, dik?”

Pria itu berhenti, menatap ragu. “Maaf, Pak. Saya nggak punya uang. Di kantong cuma ada dua puluh delapan ribu. Itu pun pemberian teman di penjara.” Kata ‘penjara’ membuat kumis Soleh sedikit bergetar, jantungnya berdegup lebih kencang.

Pertemuan Tak Terduga dan Kisah Pilu Nismuh

Soleh bertanya, “Penjara?” Pria itu mengangguk. “Iya, Pak. Saya baru bebas. Sekarang mau pulang ke kampung. Mau lihat anak dan istri. Isu yang beredar kampung saya tenggelam karena banjir.”

Soleh terkejut mendengar nama kampung pria itu, Kuta Simpang. Ia tahu betul dari berita yang beredar, Kuta Simpang termasuk wilayah terparah dilanda banjir. “Di mana kampungmu, dik?” tanyanya. “Kuta Simpang, Pak. Di Ujung Tapak, dekat jembatan balai.”

“Bagaimana kabar mereka sekarang?” tanya Soleh lagi. “Saya belum dapat kabar mereka, Pak. Saya hanya berharap anak dan istri saya selamat. Saya rindu mereka,” suara pria itu, yang kemudian diketahui bernama Nismuh, bergetar, tangannya mengusap mata.

Soleh terdiam, hatinya ikut sedih. “Tenang anak muda. Insya Allah anak dan istrimu baik-baik disana. Kalau begitu naiklah, aku akan mengantarmu ke kampung halaman,” kata Soleh seraya tersenyum. Tanpa pikir panjang, ia menekan pedal gas, tak lagi menunggu penumpang lain. Kemanusiaan baginya lebih penting dari segalanya.

“Nama saya Soleh bin Spono. Begitulah cara Soleh memperkenalkan diri kepada setiap penumpangnya. Kalau adik sendiri siapa namanya?”

“Baik Pak Soleh. Nama saya Nismuh.”

“Jangan panggil pak, panggil bang saja. Gini-gini saya masih muda. Rambut saja yang putih, faktor kebanyakan mikir. Aslinya saya masih berumur nggak lebih 50 nggak kurang 40,” kata Soleh sambil tertawa kecil, membenarkan rambut putih belah tengahnya.

“Terima kasih bang Soleh sudah memberi saya tumpangan. Bolehkah saya membayar dua puluh delapan ribu.”

“Tak usah anak muda. Nanti kau bisa pakai uang itu untuk keperluan lain,” jawab Soleh cepat, matanya berkaca.

Perjalanan Penuh Tantangan dan Pengakuan Nismuh

Perjalanan satu jam pertama dipenuhi dering telepon dari agen, rumah, dan loket, membuat Soleh kesal. “Ah kau ini, kenapa baru kau bilang sekarang, aku sudah di jalan pegunungan ini. Kau kasih ke mobil lain saja, aku buru-buru ini,” bentaknya pada agen.

“Halo, Nak. Apa? Mati lampu? Ya sudah malam ini kamu ngaji di rumah saja. Bilang sama mamak, ayah agak telat pulang. Karena harus mengantar penumpang ke Kuta Simpang,” ia berbicara dengan anaknya. “Nggak, hari ini saya nggak bawa paket, penumpang juga sepi,” jawabnya pada loket.

Soleh menutup telepon, menghela napas. “Maaf dik, beginilah kerja sopir lintas, dik.” Mobil melaju lebih lambat. Soleh teringat sesuatu, lututnya bergetar. “Maaf ya, dik. Kalau boleh tahu… kasus apa sampai masuk penjara?” tanyanya, melirik kaca spion.

Tatapannya bertemu dengan rambut awut-awutan dan jenggot lebat Nismuh. Matanya merah, wajahnya kusut, penuh letih. “Tenang bang Soleh. Sepanjang jalan tadi, beberapa orang juga menanyakan hal yang sama. Saat saya bilang baru keluar penjara, mereka semua berubah jadi takut pada saya.”

“SAYA MASUK PENJARA karena kasus kurir narkoba. Saya dijebak. Dua tahun setengah vonisnya, tapi saya jalani dua tahun tiga bulan,” kalimat itu dikeraskan Nismuh, melawan deras angin sore karena kaca mobil terbuka.

Soleh mengangguk, tetap mendengar. “Kenapa demikian?” timpalnya. “Saya juga menanyakan hal yang sama kepada Kepala Lapas. Kepala lapas bilang saya dibebaskan lebih cepat karena beliau sering lihat saya menangis. Teman-teman satu sel juga bantu. Uang dua puluh delapan ribu itu dari mereka,” kata Nismuh.

Soleh mengangguk-angguk keras, merasa dadanya longgar. Ia tahu, wajah seperti itu tak pandai berbohong. Sebagai sopir travel puluhan tahun yang telah mengangkut ribuan orang, Soleh mudah menilai orang. “Adik berdoa saja, agar keluarga diberikan keselamatan. Kalau adik ingin istirahat, silahkan tarik kursi itu agak ke belakang.”

Aksi Kemanusiaan di Tengah Banjir

Tiga kabupaten telah dilalui tanpa hambatan. Tiga jam berlalu cepat karena Soleh mengemudi lebih cepat. Sore berganti malam. Setelah tikungan tajam, Soleh memperlambat laju mobilnya karena lima puluh meter di depannya ada genangan air setinggi lutut.

Tiba-tiba Nismuh membuka pintu mobil. Soleh hendak mencegat, namun pandangannya tertuju pada seorang perempuan renta bertubuh bungkuk di tepi jalan. Ia kebingungan antara menyeberang atau tetap di tempat, sementara arus sungai tak jauh dari sana cukup deras dan berbahaya.

Banyak orang hanya menatapi nenek itu, tak ada yang memberi bantuan, mungkin sibuk menyelamatkan diri. Nismuh datang, memberi isyarat pada pengemudi lain untuk memperlambat laju. Tanpa ragu, ia menolong nenek itu menyeberang, membawanya ke tempat lebih tinggi dekat masjid.

Setelah menyeberangkan perempuan itu, Nismuh kembali ke mobil. “Gila kamu dik, salut saya sama kamu, tak pantas orang seperti kamu berada di penjara. Negara ini memang kacau masalah hukum. Ibarat kata, pisau di atas, alah lupa saya,” kata Soleh.

“Tumpul ke atas tajam ke bawah bang,” Nismuh membenarkan. “Nah, itu maksud saya.”

Mobil kembali melaju, menerobos genangan air. Pengalaman mobil tua Soleh berhasil melewati rintangan itu. Laju mobil melambat di jalan yang debit airnya mulai berkurang. Hujan masih mengguyur, angin malam semakin deras.

Harapan dan Realitas di Zona Bencana

Dalam gelap, hanya sesekali diterangi lampu jalan dan mobil lewat, Soleh melirik spion. Nismuh terlihat kelelahan, wajahnya dipenuhi putus asa, kekecewaan, dan harapan. Matanya terus berkaca-kaca, seolah ingin menangis, namun sebagai laki-laki ia dipaksa kuat.

Nismuh menyimpan semua itu, entah kapan akan meluapkannya. Soleh ingin bertanya banyak tentang hidupnya, perjuangan di penjara, keadilan, dan nasib orang kecil. Namun, ia hanya tersenyum kecil, merasa pertanyaannya tak ada artinya karena Nismuh sudah terlelap.

Sesaat kemudian, suasana lengang. Soleh menarik napas panjang, prihatin pada Nismuh, juga anak dan istrinya yang keberadaannya masih menjadi tanda tanya. “Bagaimana jika seandainya anak dan istrinya terbawa banjir? Bagaimana jika pria malang ini tak bisa lagi melihat senyum anak istrinya lagi,” batinnya menyeruak, mengingat obrolannya dengan anaknya beberapa jam lalu.

Mata Soleh menyorot jalanan dengan tajam, fokus. Membayangkan perasaan Nismuh, dadanya ikut bergemuruh, napasnya tak beraturan. Klakson truk yang hendak menyalip membangunkan Nismuh. “Sialan! Kau mau kami mati?!” bentak Soleh.

“Kenapa, Bang?!” suara Nismuh menyadarkan Soleh telah mengganggu tidurnya. “Nggak apa-apa dik, mobil besar itu main serobot saja.”

Mureks mencatat bahwa saat itu, Soleh melihat arloji di lengan kirinya, menyadari masih tersisa empat jam lagi untuk sampai tujuan. Mobil sudah memasuki kawasan bencana, akan melewati tiga titik banjir sebelum Kuta Simpang.

Selama perjalanan di kawasan bencana, Nismuh banyak diam, pandangannya tertuju pada pemukiman warga yang dihantam banjir bandang. Di sela itu, Nismuh sempat bercerita bahwa ia menikah tahun 2021 pasca-pandemi, dengan teman SMA-nya. Setahun kemudian, 2022, mereka dikaruniai putri cantik. Setahun umur putrinya, nasib sial menimpanya, membuatnya berakhir di sel.

Titik Terang di Ujung Perjalanan

Sebelum memasuki Kuta Simpang, Soleh berhenti di warung makan. “Nggak apa-apa, ini saya yang bayar,” ucap Soleh, Nismuh kembali berterima kasih.

Singkatnya, mobil telah memasuki Kuta Simpang. “Rumah adik di kecamatan apa?” Soleh bertanya, mencoba menghela ketidaktenangannya melihat suasana mencekam, lampu mati di seluruh penjuru. Ia mengurangi laju mobil.

“Di Ujung Tapak, sebelum jembatan, bang. Tapi nggak papa-papa turunkan saya di Masjid Jamik saja bang. Kata orang di warung makan tadi, warga Desa Ujung Tapak mengungsi di Masjid Jamik. Mudah-mudahan anak dan istri saya ada disana,” jawab Nismuh.

“Oh siap adik,” sambut Soleh.

Desa Ujung Tapak, percis di samping sungai, dihuni warga miskin. Ribuan lahan sawit ditanam beberapa tahun lalu, namun menurut Mureks, hanya sepuluh persen warga yang menikmati hasilnya, sisanya oligarki. Jika musim hujan, air pasti naik ke rumah warga. Kali ini, banjir terparah terjadi, air sungai meluap, menenggelamkan segalanya.

Soleh tak sanggup lagi melirik spion, tak tega melihat wajah Nismuh yang menahan tangis. “Agak cepat, Bang,” pinta Nismuh ketika mendekati jalan masuk Desa Ujung Tapak. “Saya mau mencari anak dan istri saya.”

Soleh menekan pedal gas sedikit lebih keras, menerbangkan lumpur di belakang ban, mempercepat laju. “Bang Soleh, bagaimana cara abang pulang, sementara kota abang sudah lewat.”

“Tak usah adik pikirin saya, saya hanya berdoa anak dan istrimu ada di pengungsian.”

“Aamiin bang,” sambut Nismuh cepat-cepat.

“Terima kasih, Bang. Tidak usah masuk, disini saja, nanti mobil abang susah keluar. Hanya Allah yang akan membalas kebaikan abang,” ucap Nismuh di pintu gerbang masuk Masjid Jamik. Soleh tak menggubris, ia ingin berbuat baik pada penumpangnya.

Soleh tak sanggup membendung air matanya yang ia tutupi sepanjang jalan, berusaha menghibur Nismuh. Nismuh berjalan tertatih memasuki pekarangan masjid. Siapa sangka, seorang perempuan dan anak kecil berlari ke arahnya.

Nismuh membuka lebar tangannya, memeluk kedua perempuan yang sangat ia cintai. Tangisnya pecah. Ia meraba pipi anak dan istrinya, mencium mereka.

Di ujung jalan, Soleh menyaksikan semuanya. Air matanya jatuh. Dia menangis tersedu, merindukan anak dan istrinya di rumah. Lalu, dia memutar setir mobil, membunyikan klakson. Nismuh, istri, dan anaknya melambai ke arahnya.

Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, Soleh merasa benar-benar berguna sebagai manusia.

Mureks