Nasional

Melampaui Batas Tubuh: Menguak Kesalahpahaman Manusia dalam Narasi Cyborg yang Menyesatkan

Narasi historiografi cyborg seringkali disajikan dengan tenang, informatif, bahkan reflektif, menggambarkan sejarah cyborg sebagai evolusi yang nyaris alamiah—mulai dari astronaut NASA hingga kecerdasan buatan kognitif. Namun, bagi Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB, Dimitri Mahayana, justru di sinilah letak problem mendasarnya. Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang, sekaligus pendiri konsultan ICT Sharing Vision, Bandung, ini menyoroti bahwa dari sudut pandang psikologi humanistik, psikologi positif, dan psikologi transpersonal, teks semacam itu mengandung reduksionisme antropologis yang serius.

Menurut Dimitri Mahayana, manusia direduksi menjadi sekadar sistem adaptif, sementara dimensi makna, kesadaran, dan pertumbuhan batin justru dipinggirkan. Kritik ini menjadi krusial di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang semakin mengaburkan batas antara manusia dan mesin.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Kritik Psikologi Humanistik: Manusia Bukan Proyek Adaptasi Teknis

Psikologi humanistik, yang digagas oleh tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, hingga Rollo May, lahir sebagai respons kritis terhadap pandangan mekanistik tentang manusia. Bagi tradisi ini, manusia bukanlah sekadar makhluk yang bertahan hidup atau dioptimalkan, melainkan entitas yang mengaktualisasikan makna, nilai, dan kebebasan eksistensial.

Narasi cyborg, sebagaimana dianalisis oleh Dimitri Mahayana, sejak awal dibingkai dalam logika adaptasi ekstrem: bagaimana tubuh dimodifikasi agar cocok dengan lingkungan luar angkasa, atau bagaimana fungsi biologis “dikendalikan otomatis tanpa disadari”. Dari kacamata humanistik, ini adalah bentuk dehumanisasi yang halus. Ketika ketidaksadaran (unconscious control) dipuji sebagai efisiensi, kita sedang menormalisasi hilangnya agency—sesuatu yang justru dianggap sakral oleh Rogers sebagai inti pribadi manusia.

Maslow menekankan bahwa puncak perkembangan manusia bukanlah efisiensi, melainkan self-actualization: kreativitas, keutuhan diri, dan pengalaman puncak (peak experiences). Namun, dalam narasi cyborg, perkembangan manusia digeser menjadi peningkatan kapasitas teknis. Pertanyaannya tidak lagi “Who am I becoming?” melainkan “What can be upgraded?”—sebuah pergeseran yang, bagi psikologi humanistik, menandai krisis kemanusiaan.

Kritik Psikologi Positif: Kesejahteraan Bukan Optimalisasi Algoritmik

Psikologi positif modern, yang dikembangkan oleh Martin Seligman, Ed Diener, dan Carol Ryff, berangkat dari data empiris tentang kesejahteraan manusia. Ironisnya, justru dari sudut pandang ini, narasi cyborg tampak terlalu naif terhadap janji teknologi.

Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa kesejahteraan jangka panjang tidak ditentukan oleh kapasitas kognitif semata, tetapi oleh makna hidup, relasi bermakna, otonomi, dan kontribusi moral. Namun, teks cyborg menggambarkan “cyborg kognitif” sebagai ekstensi memori dan pengambilan keputusan—seolah berpikir lebih cepat dan lebih banyak otomatis berarti hidup lebih baik.

Mureks mencatat bahwa data justru menunjukkan sebaliknya: ketergantungan kognitif pada sistem eksternal berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, penurunan sense of competence, dan erosi makna personal. Dalam bahasa psikologi positif, ini adalah illusory progress—kemajuan semu yang meningkatkan performa, tetapi menggerus flourishing.

Lebih problematis lagi, ketika algoritma mulai “menentukan apa yang kita lihat, baca, dan pikirkan”, maka salah satu pilar kesejahteraan—otonomi—terancam runtuh. Psikologi positif akan bertanya tegas: kesejahteraan siapa yang dioptimalkan? Individu, atau sistem?

Kritik Psikologi Transpersonal: Kesadaran Bukan Sekadar Fungsi Neural

Psikologi transpersonal, yang diwakili oleh Stanislav Grof, Ken Wilber, hingga Roberto Assagioli, melangkah lebih jauh. Aliran ini menolak asumsi implisit dalam narasi cyborg bahwa kesadaran identik dengan fungsi otak. Dalam teks tersebut, pikiran diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa diperluas, disimpan, dan dimediasi teknologi, seolah kesadaran hanyalah komputasi kompleks.

Bagi psikologi transpersonal, ini adalah kesalahan kategori ontologis. Kesadaran bukan produk teknologi biologis semata, melainkan medan pengalaman yang melampaui ego, melampaui identitas fungsional. Pengalaman mistik, transendensi diri, dan kesatuan eksistensial—yang telah diteliti lintas budaya—tidak dapat direduksi menjadi “cyborg kognitif”.

Ketika Ray Kurzweil berbicara tentang singularity dan lenyapnya batas manusia-mesin, psikologi transpersonal melihatnya bukan sebagai puncak evolusi, tetapi sebagai krisis spiritual modern: upaya menggantikan transendensi dengan akselerasi teknis. Di sini, teknologi berfungsi sebagai substitusi makna, bukan sarana pendalaman kesadaran.

Kritik Etis Bersama: Siapa yang Mendefinisikan “Upgrade”?

Ketiga aliran psikologi ini—meski berbeda—bertemu pada satu kritik etis fundamental: narasi cyborg gagal mempertanyakan siapa yang berhak mendefinisikan kemajuan manusia. Ketika “upgrade” menjadi norma sosial, manusia yang memilih untuk tetap organik, lambat, reflektif, dan kontemplatif berisiko dianggap usang.

Psikologi humanistik menyebut ini sebagai penyangkalan martabat personal. Psikologi positif melihatnya sebagai ancaman terhadap kesejahteraan autentik. Psikologi transpersonal membacanya sebagai keterputusan manusia dari dimensi terdalam dirinya.

Penutup: Dari “Menjadi Cyborg” ke “Menjadi Manusia”

Teks historiografi cyborg sering ditutup dengan pertanyaan: cyborg seperti apa yang ingin kita pilih untuk menjadi? Dari perspektif psikologi humanistik, positif, dan transpersonal, pertanyaan itu perlu dibalik secara radikal: manusia seperti apa yang ingin kita pertahankan agar tidak hilang?

Jika teknologi memperpanjang tubuh dan pikiran, tetapi memperpendek kesadaran, makna, dan kebebasan batin, maka kita bukan sedang berevolusi—melainkan kehilangan arah. Dalam bahasa Carl Rogers, tantangan zaman ini bukan menjadi lebih canggih, tetapi tetap menjadi fully functioning human beings di tengah dunia yang semakin mesin.

Mureks