Sebuah video yang viral di TikTok beberapa hari lalu menyajikan sebuah refleksi mendalam yang patut direnungkan: “Kalau kamu nggak meluangkan waktu untuk mengenal diri sendiri, orang lain yang akan membuatmu menerima apa yang mereka katakan.” Kutipan ini, menurut Mureks, menyoroti realitas yang seringkali luput dari perhatian kita.
Seberapa sering kita membiarkan hal itu terjadi? Seberapa sering kita membiarkan dunia, teman, keluarga, bahkan orang asing menentukan siapa diri kita? Jika kita tidak meluangkan waktu untuk mengenali apa yang kita suka, apa yang kita yakini, dan apa yang benar-benar membuat kita hidup, orang lain yang akan menentukannya untuk kita.
Pantau terus artikel terbaru dan terupdate hanya di mureks.co.id!
Yang lebih mengerikan, kita mungkin tidak menyadari kapan proses itu terjadi. Tiba-tiba, suatu hari kita akan terbangun dan menyadari bahwa hidup yang kita jalani selama ini dibentuk oleh pendapat orang lain, bukan oleh diri kita sendiri.
Pentingnya Mengenal Diri Sendiri
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Ketika seseorang mengatakan, “Kamu terlalu sensitif,” kita mulai menahan diri untuk tidak mengekspresikan emosi. Dan saat mereka bilang, “Kamu terlalu pendiam,” kita memaksakan diri untuk lebih banyak bicara, padahal sebenarnya kita tidak nyaman. Semua itu dilakukan demi disukai atau agar dapat diterima.
Ingatlah, tidak ada yang berhak mendefinisikan diri kita. Bukan teman-teman, bukan orang tua, bukan juga masyarakat. Hanya kita yang bisa. Namun, hal itu membutuhkan usaha. Dibutuhkan keberanian untuk duduk dengan diri sendiri, menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit, dan jujur sepenuhnya tentang apa yang kita mau dan siapa kita sebenarnya.
Proses ini tidak selalu mudah. Kadang terasa berantakan, ada rasa tidak nyaman, bahkan terasa sepi. Namun percayalah, upaya ini sepadan. Sebab, jika tidak demikian, kita akan menjalani hidup seperti cermin yang memantulkan harapan orang lain tanpa pernah benar-benar menjadi diri sendiri. Sampai suatu hari, kita terbangun dan menyadari bahwa kita bahkan tidak mengenal siapa diri kita.
Maka, mari berefleksi: Kapan terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk mengenal diri sendiri? Kapan terakhir kali kita bertanya, “Apa yang sebenarnya aku mau? Apa yang bikin aku benar-benar bahagia? Apa yang sebenarnya aku yakini?”
Jika belum punya jawabannya, tidak masalah. Namun, mulailah bertanya. Perhatikan apa yang membuat kita bersemangat dan apa yang justru menguras energi. Belajarlah untuk mengatakan “tidak” pada hal-hal yang membuat kita tidak nyaman, meskipun itu mengecewakan orang lain. Dan mulailah mengatakan “iya” pada bagian dari diri kita yang sudah terlalu lama terabaikan.
Kita berhak menjalani hidup yang benar-benar milik kita, hidup di mana kita tahu siapa diri kita dan tetap teguh pada itu. Dunia akan selalu mencoba mendikte, tetapi pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita: memilih untuk mendengarkan atau tetap menjadi diri sendiri.






