Sore di Kiara Payung menyelimuti kami dengan udara dingin yang menusuk. Saya dan Lexi, sahabat karib saya, baru saja selesai mendirikan tenda. Keheningan perkemahan, yang hanya dipecah oleh simfoni alam dan rintik hujan, menciptakan suasana nyaman dan tenang.
Di tengah keheningan itu, Lexi memecah keheningan dengan pertanyaan penuh antusias, “Malam ini beneran ada jurit malam ga sih? Ga sabar banget gua.”
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
“Eh iya, gua ga pernah jurit malam, jadi ga sabar deh,” jawab saya, tak kalah bersemangat. Seolah, jurit malam adalah puncak dari seluruh kegiatan perkemahan ini.
Kami mulai merajut imajinasi tentang petualangan yang akan kami hadapi. Jalan setapak yang gelap, hutan yang hanya diterangi senter kecil, dan udara sejuk yang berpadu dengan suara-suara alam liar, semua terbayang jelas di benak kami. Antusiasme dan ketegangan perlahan menyelimuti, mengisi obrolan sore kami dengan campuran rasa penasaran yang mendalam.
Ketika malam tiba, jurit malam yang kami nantikan pun dimulai. Dengan semangat yang membara, kami berbaris rapi, masing-masing menggenggam senter kecil. Namun, tanpa peringatan, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Tanpa payung atau tempat berteduh, kami tetap melangkah, menembus tirai hujan yang pekat, hanya ditemani cahaya senter yang redup.
Di sisi kanan jalan, terhampar jurang gelap yang dasarnya tak terlihat. Sementara di sisi kiri, hutan lebat menjulang seperti dinding hitam yang tak berujung. Senter kami hanya mampu menembus kegelapan beberapa langkah ke depan. Suara hujan yang menghantam dedaunan dan tanah bercampur dengan gelegar petir yang menyambar tanpa henti, menciptakan suasana mencekam.
“Lexi? Lu masih di sebelah gua kan?” tanya saya setiap beberapa detik, memastikan keberadaan sahabat saya. “Iya, masih kok. Lu juga jangan ninggalin gua ya,” jawab Lexi, suaranya terdengar sedikit bergetar.
Saya dan Lexi berjalan sambil menggigil kedinginan. “Masa iya jurit malam seseram ini?” tanya Lexi, suaranya bergetar. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, membuat seluruh tubuh terasa kaku dan sulit digerakkan.
Di tengah langkah yang rapuh, sebuah suara gemuruh air tiba-tiba terdengar. Suara itu, seperti air terjun besar, datang dari sisi kiri hutan yang gelap. Lexi menoleh cepat, “Lu denger ga? Itu… curug?”
“Iya gua denger, kayaknya sih itu curug ya, suaranya khas banget,” jawab saya, mencoba meyakinkan diri. Kami terus membicarakan suara itu, berharap bisa mencairkan suasana mencekam dan rasa takut di tengah kegelapan yang dingin. Kami membayangkan keindahan air terjun yang jernih, aliran deras, dan embun dingin yang menyebar.
Namun, menurut Mureks, semakin kami membahasnya, suara gemuruh itu justru terdengar semakin dekat. Seolah-olah air terjun itu hanya berjarak beberapa langkah, padahal yang terlihat hanyalah kegelapan dan cahaya senter kami yang terbatas.
“DUAARRR!!” Tiba-tiba, petir menyambar dengan dahsyat. Cahaya terang benderang menerangi langit selama beberapa detik, diikuti suara gemuruh yang memekakkan telinga. Seketika, semua orang panik dan berbalik arah, berusaha kembali ke area perkemahan. Langkah kami berubah menjadi larian terburu-buru. Senter berayun-ayun, menerangi wajah-wajah yang basah oleh hujan. Saya panik dan berlari secepat mungkin.
Namun, saat berlari, kaki saya tiba-tiba lemas. Lutut saya kehilangan tenaga, dan tubuh saya ambruk ke tanah yang basah dan berlumpur. Dalam sekejap, pandangan saya menggelap, seolah seluruh cahaya diserap oleh pekatnya malam. Tubuh saya terasa lumpuh, tak bisa bergerak, sementara suara gemuruh curug itu terdengar semakin keras, seolah tepat di samping telinga saya.
Tiba-tiba, tangan saya terasa ditarik. “Woy, cepet lari!” kata sebuah suara. “Genggamannya… siapa yang menggenggamku…?” pikir saya dalam hati. Sosok itu menyeret saya, entah siapa. “Di mana Lexi?” “Terus yang menarik tanganku siapa?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benak saya.
Sesampainya di tenda, tubuh saya terasa begitu lemas. Tak sempat memikirkan kejadian mencekam yang baru saja berlalu, saya langsung terlelap.
Saya terbangun saat subuh. Udara masih dingin, dan sisa rintik hujan semalam terdengar menetes dari dedaunan. Di tengah kesunyian itu, samar-samar terdengar suara asing, seperti bisikan berat yang datang dari luar tenda, “Ayo.. kita kunjungi air terjun itu…”
Saya tidak tahu suara siapa itu. Namun, saya bisa merasakan, itu bukan suara manusia. Dengan rasa takut yang mendalam, saya memaksakan diri untuk kembali tidur. Namun, suasana subuh itu terasa begitu asing, hampa, dan membuat bulu kuduk saya merinding.
Pagi harinya, hawa segar memenuhi area perkemahan. Saya dan Lexi duduk di depan tenda, mencoba mencerna kejadian semalam. “Lexi, di mana kamu saat semua orang berlari kemarin?” tanya saya.
Namun, Lexi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyuman yang terasa aneh. Saya semakin heran dan melontarkan pertanyaan lain. “Curug itu ada di mana, ya?” tanya saya.
“Ayo.. kita kunjungi saja…” jawab Lexi. Jawaban itu sontak membuat jantung saya berdegup kencang. “Jawaban itu..? Kenapa tidak asing bagiku?” batin saya. Hati saya mulai gelisah, karena suara itu bukan suara Lexi. Itu adalah suara bisikan berat yang saya dengar saat subuh tadi.
Tak lama, seorang warga sekitar lewat dan tak sengaja mendengar percakapan kami. Ia berhenti, memandang saya dengan alis terangkat dan wajah penuh keheranan. “Dek, kamu bicara dengan siapa?” tanyanya.
Saya menoleh, bingung. “Dengan teman saya, Pak..? Kami sedang membahas air terjun di daerah sana,” jawab saya sambil menunjuk ke arah hutan. Warga itu terlihat ketakutan, langkahnya mundur perlahan. “Teman..? B-baiklah..? Dan curug..? Di sini tidak ada curug, d-dek..” jawabnya gagap.
Saya terdiam, sementara udara pagi yang tadinya segar kini terasa menusuk kulit. Dalam keheningan itu, rasa heran dan takut bercampur menjadi satu. Jika warga berkata tidak ada air terjun di sini, suara apa yang semalam saya dengar? Dan jika ia tidak melihat siapa pun di samping saya, dengan siapa saya sebenarnya menjalani jurit malam itu? Di mana Lexi? Apakah benar ia berjalan bersama saya, atau hanya bayangan yang saya bawa sepanjang malam? Saya hanya bisa duduk mematung, mencoba memahami misteri yang menyelimuti malam itu.






