Internasional

Ketegangan AS-Rusia Memanas: Washington Buru Tanker Minyak yang Diklaim Kremlin

Hubungan diplomatik antara Washington dan Kremlin kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyusun rencana untuk mencegat sebuah kapal tanker minyak yang kini diklaim berada di bawah yurisdiksi Rusia. Kapal tersebut diduga kuat mengangkut minyak ilegal dari Venezuela, sekutu Moskow di Amerika Latin.

Latar Belakang dan Manuver Kapal

Kapal tanker yang menjadi target ini awalnya dikenal dengan nama Bella 1. Sejak tahun 2024, kapal ini telah masuk dalam daftar sanksi AS karena dituduh beroperasi sebagai bagian dari “armada bayangan” yang terlibat dalam pengangkutan minyak ilegal. Semula, Bella 1 berlayar menuju Venezuela, namun bulan lalu terpantau berbalik arah untuk menghindari upaya penyitaan oleh Penjaga Pantai AS.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Untuk menghindari kejaran, awak kapal melakukan manuver provokatif dengan mengecat bendera Rusia pada lambung kapal dan secara terbuka mengeklaim berlayar di bawah perlindungan Kremlin. Tak lama berselang, nama kapal tersebut resmi berubah menjadi Marinera dalam daftar kapal Rusia.

Menurut laporan data kapal sumber terbuka dari Kpler, perusahaan intelijen perdagangan, yang dikutip dari CNN International pada Selasa (6/1/2026), “Hingga dua hari yang lalu, kapal tanker tersebut terpantau berada di Atlantik Utara, bergerak ke arah timur laut di dekat pantai Inggris.”

Komplikasi Geopolitik dan Kesiapan Militer AS

Perubahan status menjadi kapal Rusia ini secara hukum membuat proses penyitaan menjadi jauh lebih rumit dan sensitif secara geopolitik. Rusia bahkan telah mengajukan permintaan diplomatik resmi agar AS menghentikan pengejaran tersebut.

Kesiapan AS untuk menyita kapal tersebut terlihat dari pergerakan masif aset militer di wilayah Inggris. Mureks mencatat bahwa data pelacakan penerbangan sumber terbuka menunjukkan pesawat pengintai P-8 AS yang berbasis di RAF Mildenhall, Inggris, telah memantau posisi Marinera secara intensif.

Dalam 48 jam terakhir, setidaknya 12 pesawat angkut C-17 AS mendarat di pangkalan udara Fairford dan Lakenheath. Selain itu, aset tempur lainnya seperti dua unit AC-130 Gunship dan dua V-22 Osprey juga dilaporkan telah siaga di Inggris, didukung oleh pesawat tanker pengisian bahan bakar udara KC-135 di atas Atlantik Utara.

Tantangan Operasi dan Kebijakan Blokade Trump

Penyitaan di Atlantik Utara diprediksi tidak akan berjalan mudah. Sumber internal menyebutkan bahwa operasi ini jauh lebih menantang dibandingkan operasi serupa di lepas pantai Venezuela pada Desember lalu, terutama karena faktor cuaca buruk dan potensi keterlibatan langsung Rusia.

“Menyita Bella 1 (Marinera) kemungkinan besar akan membutuhkan Tim Respons Khusus Maritim. Mereka adalah tim berpengalaman dalam menaiki kapal yang menolak menyerah untuk merebut kendali secara paksa,” ungkap seorang sumber yang tidak disebutkan namanya.

Rencana pencegatan ini merupakan bagian dari instruksi Presiden Donald Trump yang bulan lalu mengumumkan “blokade total” terhadap tanker minyak yang mencoba masuk atau meninggalkan Venezuela. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan pemerintah sementara Venezuela.

Meskipun AS telah berhasil menangkap Nicolas Maduro di Caracas pada Sabtu dini hari lalu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa blokade akan tetap diperketat sebagai daya tawar politik.

Hingga berita ini diturunkan pada Selasa (6/1/2026), pihak Gedung Putih masih menolak memberikan komentar resmi terkait rencana operasi militer yang berpotensi memicu eskalasi ketegangan global ini.

Mureks