Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat sebanyak 62 kasus Super Flu telah terdeteksi di delapan provinsi hingga awal Januari 2026. Angka ini menjadi perhatian serius di tengah tren peningkatan kasus influenza secara global.
Super Flu, yang secara medis dikenal sebagai virus influenza A H3N2 subclade K, bukanlah varian baru. Virus ini merupakan turunan dari H3N2 yang telah lama dikenal dunia kedokteran. Peningkatan kasus flu yang signifikan di Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat sejak Oktober 2025 juga didominasi oleh varian H3N2 ini.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Secara historis, virus influenza A H3N2 pernah memicu lonjakan besar kasus flu di seluruh dunia pada tahun 1968, meskipun saat itu belum termasuk subclade K. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah menyatakan sejak November 2025 bahwa virus H3N2 subclade K telah mengalami setidaknya tujuh kali mutasi.
WHO juga menyoroti penyebaran cepat virus ini yang kini mendominasi di sejumlah negara di belahan bumi utara. Mureks mencatat bahwa situasi global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, terutama di Amerika Serikat.
Lonjakan Kasus dan Kematian di Amerika Serikat
Data dari Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan bahwa tingkat influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian. Angka ini meningkat tajam dari 17 negara bagian pada pekan sebelumnya.
Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit juga melonjak drastis, mencapai 19.053 orang dari 9.944 pada minggu sebelumnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperkirakan sekitar 3.100 kematian akibat influenza pada musim flu kali ini, dengan sebagian besar kasus disebabkan oleh virus H3N2.






