Indonesia terus berupaya menarik investasi global di tengah ketatnya persaingan dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Kementerian Investasi/BKPM menegaskan daya tarik investasi tanah air tetap kuat, bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan, mengungkapkan bahwa situasi geopolitik saat ini justru membuka peluang baru bagi Indonesia. Kelangkaan suplai pangan global menjadi salah satu fokus utama yang dapat dimanfaatkan.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Hilirisasi Pangan sebagai Magnet Investasi
“Satu hal yang menarik dengan perkembangan geopolitik yang terjadi, ini kelangkaan terhadap suplai dari kebutuhan pangan, kan luar biasa. Makanya kemudian Bapak Presiden menempatkan salah satu prioritasnya adalah kemandirian pangan. Bukan dalam konteks memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga mampu menyuplai kebutuhan global,” ujar Nurul Ichwan saat Media Briefing Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Menurut Nurul, hilirisasi di sektor pangan menjadi pintu masuk strategis bagi masuknya modal (kapital) dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas. Selain itu, investasi di sektor ini juga akan membawa transfer teknologi, menciptakan kombinasi yang kuat antara modal, teknologi, dan penyerapan tenaga kerja untuk pertumbuhan ekonomi masa depan.
“Nah, kombinasi antara perkebunan, pertanian dengan industri pengolahannya, ini adalah kombinasi strategis untuk menarik investasi yang menyerap tenaga kerja besar di perkebunannya dan juga menyerap teknologi dan kapital dari sisi industrinya,” tambahnya.
Keunggulan Demografi dan Pasar Domestik
Selain sektor pangan, Indonesia juga memiliki keunggulan demografi yang signifikan. Nurul Ichwan menjelaskan bahwa jumlah populasi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, dan memiliki daya beli yang terus tumbuh.
“Karena populasi kita jauh lebih besar. Dan populasi kita ini punya daya beli. Artinya middle income class-nya tetap tumbuh, dan itu punya kemampuan daya beli yang lebih baik juga. Sehingga mereka melihat Indonesia bukan hanya dari sisi sumber daya alam, tetapi marketnya ada,” imbuhnya.
Catatan Mureks menunjukkan, kekuatan pasar domestik ini menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak negara pesaing, menjadikan Indonesia tujuan investasi yang menarik tidak hanya dari sisi sumber daya, tetapi juga potensi pasar.
Misi Indonesia di World Economic Forum Davos
Dalam upaya memikat investor global, Indonesia akan berpartisipasi dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, yang dijadwalkan pada 20-24 Januari 2026. Delegasi Indonesia akan memperkenalkan berbagai sektor andalan yang siap menerima investasi.
Nurul Ichwan menegaskan, salah satu fokus utama yang akan dipresentasikan adalah industri padat karya, khususnya di sektor pangan. “Nah kalau padat karya, kita seperti kemarin kita mau mengatakan bahwa kita punya kemampuan untuk bisa menciptakan di sektor pangan,” katanya.
Perwakilan Indonesia di WEF akan secara aktif mencari investor yang tertarik pada pengembangan pangan, baik untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun regional. Pembentukan hilirisasi di sektor pangan diharapkan dapat menjadi katalis masuknya kapital dan pembukaan lapangan kerja baru.






