Iran dilaporkan mengalami pemadaman internet hampir total pada Kamis malam waktu setempat, Jumat, 09 Januari 2026. Langkah ini terjadi di tengah meluasnya gelombang protes akibat krisis ekonomi yang kian memburuk, di mana aksi demonstrasi tersebut telah menewaskan sedikitnya 45 orang sejak pecah hampir dua pekan lalu.
Pemantau kebebasan internet NetBlocks pertama kali melaporkan pemutusan jaringan secara nasional. Meski penyebab pastinya belum dijelaskan secara resmi, catatan Mureks menunjukkan, otoritas Iran pernah melakukan langkah serupa pada gelombang protes sebelumnya sebagai upaya membatasi arus informasi dan koordinasi massa. Sebelumnya, NetBlocks juga mencatat gangguan internet di kota Kermanshah, wilayah barat Iran, seiring meningkatnya operasi keamanan terhadap para demonstran.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Korban Jiwa dan Aksi Mogok Nasional Meluas
Lembaga pemantau berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), menyebut aparat keamanan telah menewaskan sedikitnya 45 orang, termasuk delapan anak-anak, sejak aksi protes dimulai akhir Desember. Ratusan orang dilaporkan terluka dan lebih dari 2.000 orang ditangkap. IHR mencatat Rabu sebagai hari paling berdarah dengan sedikitnya 13 korban jiwa.
Aksi mogok nasional turut memperluas tekanan terhadap pemerintah. Sejumlah toko di wilayah Kurdi dan puluhan kota lain memilih tutup setelah tujuh kelompok politik Kurdi menyerukan pemogokan umum. Kelompok HAM Hengaw membagikan rekaman toko-toko yang tutup di provinsi Ilam, Kermanshah, dan Lorestan, serta menuding aparat menembaki demonstran di Kermanshah dan kota Kamyaran hingga melukai sejumlah orang.
Pada Kamis, unjuk rasa dilaporkan telah menjalar ke seluruh 31 provinsi di Iran. Di Provinsi Fars, demonstran merobohkan patung Qassem Suleimani, mantan komandan pasukan elite Garda Revolusi Iran al-Quds, yang selama ini dipuja pendukung pemerintah. Rekaman terverifikasi menunjukkan massa bersorak saat patung tersebut tumbang. Aksi protes berlanjut hingga malam hari di sejumlah kota besar, termasuk Teheran dan Abadan.
Penyebab Krisis dan Respons Pemerintah
Gelombang protes dipicu anjloknya nilai mata uang Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Pemerintah baru-baru ini menghentikan kurs subsidi untuk impor, kebijakan yang langsung memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Harga pangan dilaporkan naik lebih dari 70 persen dalam setahun terakhir, sementara harga obat meningkat sekitar 50 persen.
Di tengah eskalasi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penanganan demonstrasi dengan menahan diri. Ia meminta aparat menghindari kekerasan serta mendorong dialog dan keterbukaan terhadap tuntutan rakyat. Namun, pemerintah menyebut krisis ekonomi sulit diatasi karena faktor eksternal, terutama sanksi Barat terkait program nuklir Iran.
Sorotan Internasional dan Tuduhan Campur Tangan Asing
Situasi Iran juga menjadi sorotan internasional. Amerika Serikat kembali memperingatkan Teheran agar tidak menindak demonstran secara brutal, sementara Jerman mengecam penggunaan kekerasan berlebihan. Di sisi lain, kelompok HAM menuduh aparat menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk menahan demonstran yang terluka di rumah sakit.
Pemerintah Iran menuding adanya campur tangan asing dan menyebut aksi protes telah dibajak oleh kelompok perusuh. Dalam ringkasan Mureks, gelombang protes kali ini dinilai sebagai yang terbesar dalam tiga tahun terakhir dan mencerminkan rapuhnya kondisi sosial-ekonomi Iran saat ini, meskipun skalanya belum sebesar demonstrasi “Woman, Life, Freedom” pada 2022.





