Tren penggunaan layar sentuh berukuran masif semakin merajalela di industri otomotif global, tak terkecuali di pasar Indonesia. Fenomena ini, yang banyak dipelopori oleh pabrikan mobil asal China, memusatkan hampir seluruh fungsi kendaraan ke dalam antarmuka digital, menggantikan peran tombol fisik yang telah menjadi standar selama puluhan tahun.
Namun, arah pengembangan yang serba digital ini kini mulai dipertanyakan secara serius, terutama terkait dengan aspek keselamatan dan kenyamanan pengemudi. Kekhawatiran muncul bahwa ketergantungan penuh pada layar sentuh justru dapat mengganggu konsentrasi dan membahayakan saat berkendara.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Volkswagen Akui Kekeliruan, Kembali ke Tombol Fisik
Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari salah satu raksasa otomotif Jerman. Kepala Desain Volkswagen, Andreas Mindt, sempat melontarkan kalimat tegas yang dikutip dari Thisismoney.uk pada Sabtu (10/1/2026): “Ini bukan ponsel, ini mobil.” Pernyataan ini seolah menjadi cerminan kejujuran industri setelah bertahun-tahun percaya diri dengan dominasi layar sentuh.
Menindaklanjuti hal tersebut, Volkswagen (VW) memastikan akan mengembalikan tombol fisik ke seluruh lini produknya mulai tahun 2026. Keputusan ini menandai perubahan arah yang signifikan, sekaligus mengakui bahwa pendekatan serba digital di kabin mobil tidak sepenuhnya diterima dan bahkan menimbulkan masalah bagi konsumen.
Pengemudi Mengeluh, Konsentrasi Terganggu
Langkah VW ini sejalan dengan suara mayoritas pengemudi. Menurut catatan Mureks, tahun lalu, sembilan dari sepuluh pengemudi secara eksplisit meminta pabrikan untuk meninggalkan layar sentuh yang dianggap membingungkan dan mengganggu konsentrasi. Mereka mendesak agar industri kembali ke penggunaan tombol dan sakelar konvensional yang lebih intuitif.
Pabrikan asal Jerman itu pun secara terbuka mengakui telah mendengarkan masukan tersebut. VW tak segan menyebut bahwa ketergantungan penuh pada layar sentuh merupakan sebuah kesalahan yang perlu diperbaiki.
Salah satu model yang paling sering menjadi sorotan adalah Volkswagen ID.4. Mobil listrik ini dikenal karena terlalu mengandalkan kontrol layar sentuh dan panel haptik. Hampir semua fungsi penting, mulai dari volume audio hingga pengaturan suhu kabin, dioperasikan melalui layar sentuh.
Alih-alih memberikan kepraktisan, sistem semacam ini justru dianggap menyulitkan dan berpotensi besar mengganggu fokus pengemudi dari jalan. Hal ini memicu perdebatan tentang keseimbangan antara inovasi teknologi dan prioritas utama dalam berkendara: keselamatan.






