Tarakan, Kalimantan Utara – Di tengah kerasnya realitas peredaran narkoba, Iptu Juani Aing, Kaurbinops Narkoba Polres Tarakan, mendedikasikan diri untuk membina puluhan anak di Kelurahan Selumit Pantai. Wilayah yang dulunya identik dengan transaksi narkoba skala besar ini kini perlahan bertransformasi berkat inisiatif Juani dan timnya. Upaya ini bahkan mengantarkannya masuk nominasi Hoegeng Corner 2025 dari Polda Kalimantan Utara.
Pendekatan Personal di Kawasan Rawan
Sejak Desember 2024, Iptu Juani bersama dua puluh Polwan Polres Tarakan aktif melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap 80 anak di Selumit Pantai. Keprihatinan Juani berawal dari kondisi anak-anak di pesisir Tarakan yang rentan dimanfaatkan sebagai kurir atau informan narkoba. “Saya sebagai perempuan di situ prihatin melihat kondisi anak-anak yang ada di wilayah tersebut karena memang wilayah itu selain wilayahnya yang kumuh, padat penduduk, memang rawan sekali terjadi transaksi narkoba,” ujar Juani kepada detikcom, Kamis (20/11/2025).
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Awalnya, pendekatan ini tidak mudah. Masyarakat Selumit Pantai dikenal tertutup, bahkan cenderung sinis terhadap orang asing, apalagi aparat kepolisian. Anak-anak pun merasa takut. “Mereka kalau ngeliat orang asing kan mereka ngelihatnya kayak sinis gitu. Apalagi kita aparat menggunakan uniform lengkap, mereka pasti tidak akan berkenan dengan adanya kehadiran kita di situ, bahkan kita adakan kegiatan di situ pun, mereka tidak pernah mau tahu sama sekali,” kenang Juani.
Aksi Nyata Ubah Persepsi
Tak patah arang, Juani dan timnya menggencarkan kegiatan positif. Mereka tak segan turun tangan membersihkan sampah yang berserakan di lingkungan yang kumuh. “Setiap hari kami membersihkan daerah mereka, membersihkan sampah-sampah yang berserakan, karena di situ memang kumuh, rumah mereka itu seperti panggung di bawah itu sungai yang sudah bersentuhan dengan sampah plastik kebanyakan,” tuturnya.
Perlahan namun pasti, upaya ini membuahkan hasil. Masyarakat mulai membuka diri, bahkan ikut berpartisipasi dalam perbaikan lingkungan. Anak-anak pun tak lagi takut terhadap polisi. “Berjalannya waktu anak-anak yang ada di situ akhirnya mereka dekat dengan kita. Kenapa saya bilang mereka dekat dengan kita? Awalnya memang mereka takut, tapi kita terus merangkul. Di situ kita sudah mulai mengetahui kendala-kendala yang mereka alami di sana,” jelas Juani.
Fokus pada Pendidikan dan Perhatian
Juani mendata puluhan anak yang putus sekolah karena kendala biaya atau mengikuti orang tua berpindah-pindah. Ia prihatin melihat kurangnya perhatian orang tua yang membuat anak-anak rentan terjerumus dalam aktivitas negatif. “Mereka (anak-anak) itu kurang perhatian, mereka di rumah tidak ada yang pantau, sehingga keseharian mereka itu tidak jelas, mereka keluyuran, sehingga rentan dan rawan sekali mereka digunakan untuk menjadi kurir atau penjual narkoba di daerah tersebut,” ungkapnya.
Kekhawatiran ini terbukti ketika anak-anak tersebut dimanfaatkan oleh penjual narkoba sebagai kurir atau mata-mata. Menanggapi hal ini, Juani mengajak anak-anak untuk aktif mengaji di Masjid Al Ma’ruf. Sebanyak 80 anak kini rutin mengaji di sana, meski dengan fasilitas seadanya. “Di situ (Masjid Al Ma’ruf) ada kurang lebih 80 anak yang mengaji di situ dengan 5 guru. Mereka mengaji di situ dengan fasilitas seadanya, kapasitas yang seadanya, dengan alas yang seadanya. Tapi kami melihat begitu antusiasnya mereka pengen pintar mengaji,” kata Juani.
Solusi Seragam Mengaji dan Dukungan Penuh
Kendala biaya untuk membeli seragam mengaji sempat membuat sebagian anak enggan berangkat karena malu. Juani berinisiatif berkomunikasi dengan Baznas Kota Tarakan untuk mencari solusi. “Kita komunikasi dengan pihak Baznas di Kota Tarakan, bagaimana kita mencari solusi untuk anak-anak ini, supaya keluhan yang mereka sampaikan kepada kami tidak menjadi kendala pada saat mereka ingin mengaji, contohnya tidak punya seragam, tidak punya uang untuk mendaftar mengaji. Hal seperti itu membuat mereka mundur, karena memang kemampuan orang tua mereka rata-rata di bawah, untuk makan saja mereka kesusahan,” jelasnya.
Berkat bantuan Baznas, anak-anak kini dapat mengaji tanpa beban biaya. Kegiatan positif ini mendapat dukungan penuh dari pimpinan Polres Tarakan dan Polda Kalimantan Utara. Bahkan, Kapolda Gorontalo turut membangun Warung Kamtibmas di Selumit Pantai sebagai pusat kegiatan masyarakat dan program kampung bebas narkoba.
Hasil Nyata: Penurunan Aktivitas Narkoba 80%
Di Warung Kamtibmas, Iptu Juani dan timnya menggelar berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan menari, bernyanyi, hingga kreasi seni. Hasilnya signifikan. “Alhamdulillah sekarang untuk kegiatan narkobanya sendiri lambat laun berkurang, dengan adanya kegiatan kita intens secara intens di situ. Rutinitas yang dulunya memang rawan sekali, sekarang sudah berkurang, 80% berkurang sekali, bahkan sampai saat ini untuk kegiatan di wilayah itu sudah tidak ada,” ungkap Juani.
Ia berharap konsistensi program ini dapat terus berjalan seiring dengan tugas pokok kepolisian. “Mudah-mudahan kegiatan yang sudah kita lakukan kemarin itu bisa konsisten kita lakukan beriringan dengan tugas pokok yang kita lakukan di kantor,” tutupnya.






