Sydney – Insiden Islamofobia di Australia dilaporkan melonjak drastis hingga 200 persen sejak serangan teror anti-Semit di Bondi pada 14 Desember 2025. Peningkatan ancaman ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan komunitas Muslim, bahkan mendorong sejumlah jemaah untuk menginap di masjid demi keamanan.
Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) mencatat lonjakan ancaman dan kebencian anti-Muslim yang signifikan. Setidaknya sembilan masjid dan organisasi Islam telah melaporkan ancaman hingga memerlukan intervensi kepolisian. Angka ini belum termasuk serangan dan ancaman yang dialami individu, terutama perempuan berhijab.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Di Masjid Minto, New South Wales, yang berjarak sekitar satu jam dari Sydney, langkah-langkah keamanan tambahan telah diambil. Seorang anggota komite masjid, yang enggan disebutkan identitasnya, mengungkapkan kekhawatiran jemaah. “Banyak anggota jemaah kami yang takut, mereka kepikiran, ‘apa yang bakal terjadi selanjutnya?'” ujarnya kepada ABC Indonesia.
Mureks mencatat bahwa sejumlah email dan laporan telah mendokumentasikan peningkatan serangan Islamofobia, termasuk vandalisme serta ancaman terhadap masjid dan organisasi Islam sejak 14 Desember. Laporan-laporan ini menunjukkan adanya pola peningkatan insiden yang mengkhawatirkan.
Pernyataan Pemerintah dan Kepolisian
Premier New South Wales, Chris Minns, mengecam keras peningkatan serangan terhadap umat Muslim. Ia menyebutnya sebagai hal yang “mengerikan”. “Saya hanya ingin menekankan kalau rasisme tidak akan ditoleransi,” tegas Minns. “Ini bukan main hakim sendiri. Ini bukan balas dendam. Ini rasisme yang penuh kebencian di komunitas kita.”
Minns menambahkan, “Kami dalam keadaan siaga tinggi dan polisi benar-benar waspada terhadap setiap contoh kebencian dan kebencian di masyarakat kita.”
Senada, Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, menyatakan bahwa “semua kebencian tidak bisa dibenarkan.” Ia menekankan, “Warga Australia yang baik tidak boleh menyalahkan tindakan orang lain hanya karena latar belakang atau keyakinan mereka.”
Kepolisian Victoria juga menyatakan akan menyelidiki email kebencian yang ditujukan ke Masjid Albania di Carlton, Melbourne, dan menanggapi semua laporan tentang perilaku rasis dan penuh kebencian “dengan sangat serius”. Juru bicara kepolisian mengingatkan, “Penting bagi orang-orang untuk mengingat ketika mereka mengatakan sesuatu di online, mereka sebenarnya mengatakannya di ‘dunia nyata’ dan bisa mendapat konsekuensi serius dan signifikan.” Mereka menambahkan, “Ini termasuk potensi untuk didakwa dengan tindak pidana.”
Ancaman Meluas Hingga Melbourne
Ancaman Islamofobia tidak hanya terjadi di Sydney. Masjid tertua di pusat kota Melbourne, yang dikelola komunitas Muslim asal Albania, menerima email penuh kebencian untuk pertama kalinya. Email tersebut menyebut Islam sebagai “sekte kematian” dan menuntut komunitas tersebut “keluar dari masyarakat Yahudi-Kristen”.
Selima Ymer dari Komite Wanita Masyarakat Islam Albania Australia meyakini email tersebut merupakan reaksi terhadap serangan teror anti-Semit di Bondi, karena diterima beberapa hari setelah insiden. “Mengkhawatirkan, karena kita jadi bertanya-tanya apalagi yang bisa terjadi pada kita,” kata Selima. Ia menambahkan, “Sekarang kita mendapat email, tapi bisa jadi sesuatu yang lebih serius di hari berikutnya.”
Selima juga mengungkapkan kekhawatiran banyak umat Muslim di Melbourne bahwa peningkatan Islamofobia dapat berujung pada kekerasan mematikan, seperti aksi teroris penembakan di Christchurch, Selandia Baru, pada tahun 2019 yang menewaskan 51 orang. “Kita selalu takut akan insiden serangan ke masjid seperti Christchurch,” ujarnya.
Konteks Serangan Bondi dan Respons Komunitas
Serangan teror di Bondi pada 14 Desember 2025 menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya saat umat Yahudi di Sydney merayakan festival Chanukah by the Sea. Pelaku penembakan, Naveed Akram, didakwa dengan 59 pelanggaran hukum, termasuk 15 tuduhan pembunuhan dan satu tuduhan tindakan terorisme. Polisi mengindikasikan serangan tersebut terinspirasi oleh ISIS.
Organisasi-organisasi Muslim dan masjid-masjid di Australia telah secara terbuka mengutuk serangan anti-Semit di Bondi dan menyampaikan solidaritas mereka dengan komunitas Yahudi. ANIC mengeluarkan pernyataan publik yang menegaskan bahwa “tindakan dan ideologi Islamic State sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh umat Muslim di seluruh dunia.” Mereka juga meminta agar kelompok tersebut hanya disebut sebagai ISIS atau Daesh, karena “Organisasi ini tidak pantas dikaitkan dengan Islam dalam nama atau deskripsi apa pun.”
Meskipun ada tindakan heroik dari Ahmed Al Ahmed, seorang imigran Suriah Muslim berusia 43 tahun yang tanpa senjata menerjang salah satu penembak saat serangan Bondi, ancaman Islamofobia tetap terjadi. Organisasi Muslim khawatir akan “pembalasan” dan “hukuman kolektif” karena agama mereka dikaitkan dengan para pelaku.
Peningkatan Laporan dan Bentuk Serangan
Islamophobia Register Australia, sebuah organisasi nirlaba independen, melaporkan peningkatan laporan serangan Islamofobia dari rata-rata satu atau dua per hari menjadi sekitar 18 laporan setiap harinya sejak 14 Desember.
Bentuk serangan bervariasi, mulai dari grafiti simbol Nazi dan hinaan seperti “f*** Allah” serta “tidak ada Muslim = damai” di sebuah masjid di Brisbane, hingga vandalisme di sekolah Muslim di Melbourne. Polisi juga masih menyelidiki penemuan beberapa kepala babi di pemakaman Muslim di New South Wales, sehari setelah serangan Bondi. Komentar dan pesan kebencian di media sosial yang diterima berbagai organisasi dan masjid Islam juga sedang dalam penyelidikan kepolisian.
Presiden Islamic Council of Victoria (ICV), Mohamed Mohideen, mengatakan pihaknya menerima puluhan panggilan telepon yang mengancam sejak serangan Bondi. ICV bahkan harus menutup fitur komentar di saluran media sosial mereka setelah menerima banyak komentar dan email kebencian yang “meningkat pesat”.
“Semuanya adalah ujaran kebencian,” kata Dr. Mohideen. “Kebencian dapat terwujud secara daring, tetapi kebencian juga dapat berubah dan terwujud dalam serangan fisik.” Ia menekankan, “Tidak seorang pun boleh merasa tidak aman, dan semua komunitas harus bisa menjalankan keyakinan mereka.”
Dr. Mohideen juga menyoroti bagaimana istilah seperti “Islam radikal” dan “terorisme Islam” telah “memicu ketakutan” pada sebagian orang, membuat mereka “yakin kalau Muslim adalah musuh, Muslim adalah penyebab semua masalah ini.” ANIC menambahkan bahwa “kemarahan selektif” semakin memperdalam perpecahan dan mengikis kepercayaan, menegaskan bahwa “Keamanan dan kekuatan Australia bergantung pada penolakan terhadap semua bentuk rasisme secara konsisten dan memastikan keadilan, martabat, dan keamanan bagi setiap warga Australia.”
Tantangan dan Solusi Edukasi
Pakar kontra-terorisme dari Deakin University di Melbourne, Greg Barton, mengatakan para pemimpin komunitas Muslim menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan antara tidak membiarkan peristiwa seperti serangan Bondi menjadi pemicu Islamofobia, sekaligus mengecam mereka yang bertindak salah atas nama Islam. Profesor Barton menekankan bahwa tidak ada komunitas di Australia yang kebal terhadap radikalisasi dan ekstremisme, karena ini adalah “masalah global” dan tindakan individu tidak mewakili suatu komunitas.
Selima Ymer mengungkapkan bahwa perempuan Muslim yang mengenakan hijab menjadi “sasaran empuk” dan ia kini lebih berhati-hati saat keluar rumah. Ia berpendapat bahwa peningkatan kehadiran polisi untuk menjaga masjid saja tidak cukup. Menurut Selima, perlu ada program pendidikan tentang Islam kepada masyarakat umum untuk mengatasi Islamofobia, serupa dengan program pendidikan anti-Semitisme yang diumumkan setelah serangan Bondi.
Pemerintah federal telah membentuk Antisemitism Education Taskforce selama 12 bulan untuk mencegah, mengatasi, dan menanggapi anti-Semitisme dalam sistem pendidikan Australia. Sementara itu, Utusan Khusus untuk Mengatasi Islamofobia di Australia, Aftab Malik, pada September lalu menerbitkan laporan kerangka kerja dengan 54 rekomendasi, termasuk pendidikan anti-rasisme, yang sedang dipertimbangkan pemerintah Australia. Selima berharap, dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat akan menyadari bahwa Muslim hanyalah warga Australia biasa.






