Internasional

Inflasi Konsumen China Capai Puncak 34 Bulan, Namun Tekanan Deflasi Industri Masih Membayangi

Inflasi harga konsumen China mencatatkan level tertinggi dalam hampir tiga tahun pada Desember 2025. Namun, penguatan inflasi tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat ekonomi Negeri Tirai Bambu dari ancaman deflasi yang masih membayangi, terutama di sektor industri.

Data Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis pada Jumat (9/1/2026) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,8% secara tahunan pada Desember. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 34 bulan, meningkat dibandingkan 0,7% pada November, dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Kenaikan inflasi konsumen terutama didorong oleh lonjakan harga pangan. Harga sayuran segar melonjak 18,2% secara tahunan, sementara harga daging sapi naik 6,9%.

“Kenaikan CPI terutama disebabkan oleh harga makanan, konsumsi selama musim liburan, serta dampak kebijakan pendukung,” ujar ahli statistik NBS, Dong Lijuan, dalam pernyataan resminya, dikutip Reuters.

Meski inflasi konsumen menguat, tekanan deflasi di tingkat produsen masih berlanjut. Indeks harga produsen (PPI) tercatat turun 1,9% secara tahunan pada Desember, menandai lebih dari tiga tahun berturut-turut berada di zona deflasi, meskipun lebih baik dibandingkan penurunan 2,2% pada November. Sepanjang tahun 2025, PPI tercatat menyusut 2,6%.

Catatan Mureks menunjukkan, kondisi ini mencerminkan ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi China senilai sekitar US$19 triliun atau setara Rp298.300 triliun. Konsumsi domestik masih tertahan meskipun pertumbuhan ekonomi diperkirakan sejalan dengan target pemerintah sekitar 5% pada 2025.

Tekanan eksternal juga memperparah situasi. Ketegangan perdagangan global di era Presiden AS Donald Trump kembali menekan sentimen, sementara krisis properti berkepanjangan dan lemahnya pasar tenaga kerja terus membebani kepercayaan rumah tangga.

“Meski inflasi menunjukkan tanda pemulihan, levelnya masih relatif rendah dan tidak akan menghalangi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut,” kata Lynn Song, Kepala Ekonom ING untuk China Raya.

Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, tercatat naik 1,2% secara tahunan pada Desember, stagnan dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, sejumlah indikator menunjukkan permintaan domestik belum pulih secara menyeluruh.

Ekonom Capital Economics, Zichun Huang, menilai kenaikan CPI belum mencerminkan perbaikan fundamental. “Belum ada perbaikan mendasar pada masalah kelebihan kapasitas. Tekanan deflasi akan terus berlanjut tanpa stimulus yang lebih kuat dari sisi permintaan,” ujarnya.

Sebagai gambaran distorsi permintaan, harga daging babi justru turun 14,6% secara tahunan, sementara harga perhiasan emas melonjak tajam hingga 68,5%.

Ke depan, pelaku pasar menantikan langkah stimulus tambahan pada 2026. Pemerintah pusat China telah mengalokasikan 62,5 miliar yuan atau sekitar Rp137,5 triliun dari penerbitan obligasi pemerintah khusus untuk melanjutkan program tukar tambah barang konsumsi. Selain itu, Beijing juga menegaskan komitmennya menggunakan instrumen kebijakan moneter secara fleksibel, termasuk pemangkasan suku bunga dan rasio cadangan wajib bank, guna menjaga likuiditas dan menopang pertumbuhan di tengah risiko deflasi yang belum sepenuhnya sirna.

Mureks