Langkah Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat menuai kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Indonesia. Pengakuan ini, yang diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menjadikan Israel sebagai negara anggota PBB pertama yang mengakui wilayah separatis Republik Federal Somalia tersebut.
Pengumuman tersebut disambut oleh Somaliland sebagai pengakuan resmi pertama dalam sejarahnya. Namun, keputusan ini segera memicu reaksi keras dari Turki, sekutu dekat Somalia, serta sejumlah negara di Afrika dan Timur Tengah.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Presiden Somalia Terheran-heran, Sebut Langkah Israel Aneh
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud menyatakan keterheranannya atas pengakuan Israel terhadap Somaliland. Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera dari Istanbul, Turki, Mohamud menilai langkah tersebut sebagai hal yang tidak terduga dan aneh, serta berpotensi memiliki implikasi buruk bagi warga Palestina di Gaza dan Tanduk Afrika.
“Somaliland telah mengklaim isu pemisahan diri untuk waktu yang lama, selama tiga dekade terakhir, dan tidak satu pun negara di dunia yang mengakuinya,” kata Mohamud. Ia menambahkan, “Bagi kami, kami telah mencoba untuk menyatukan kembali negara ini dengan cara damai. Jadi setelah 34 tahun, sangat tidak terduga dan aneh bahwa Israel, tiba-tiba saja, ikut campur dan mengatakan, ‘Kami mengakui Somaliland’.”
Mohamud juga menuding bahwa pengakuan tersebut “bukan hanya isyarat diplomatik tetapi kedok untuk tujuan strategis Israel yang spesifik dan berisiko tinggi.” Menurutnya, Israel berupaya mengekspor masalahnya di Gaza ke Tanduk Afrika, bahkan menggunakan cara memaksa pengungsi Palestina ke Somalia.
“Israel tidak memiliki niat damai untuk datang ke Somalia. Ini adalah langkah yang sangat berbahaya, dan seluruh dunia, terutama Arab dan Muslim, harus melihatnya sebagai ancaman serius,” tegas Mohamud.
Mureks mencatat bahwa intelijen Somalia mengindikasikan Somaliland telah menerima tiga syarat dari Israel sebagai imbalan pengakuan: pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer Israel di pantai Teluk Aden, dan bergabungnya Somaliland ke dalam Perjanjian Abraham. Mohamud juga menyebut sudah ada kehadiran Israel secara diam-diam di Somaliland, dan pengakuan ini hanyalah normalisasi dari kondisi tersebut.
Dalam konferensi pers bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 30 Desember 2025, kedua pemimpin memperingatkan bahwa pengakuan Israel terhadap wilayah yang memisahkan diri itu dapat men-destabilisasi Tanduk Afrika.
Indonesia dan Dunia Tolak Kedaulatan Somaliland
Langkah Israel ini juga dikutuk oleh sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan darurat di New York pada awal pekan lalu. Amerika Serikat menjadi satu-satunya anggota dari 15 kursi yang membela langkah Israel, meskipun menekankan posisi AS mengenai Somaliland tetap tidak berubah.
Pemerintah Indonesia menolak keras pengakuan Israel atas kedaulatan Somaliland. Penolakan ini disepakati dalam pernyataan bersama antara menteri luar negeri antarkawasan yang meliputi Indonesia dan 21 negara lain, serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pada 26 Desember 2025.
Menurut Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, pengakuan kedaulatan Somaliland “memberi dampak serius bagi perdamaian dan keamanan internasional serta menunjukkan pelanggaran besar Israel terhadap hukum internasional.” Indonesia memandang pengakuan ini sebagai ancaman serius bagi keamanan kawasan Tanduk Afrika dan Laut Merah.
Pernyataan bersama tersebut menegaskan bahwa pengakuan Israel atas Somaliland merupakan pelanggaran berat terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengakui kepentingan melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah negara. Disebutkan pula bahwa dengan mengakui Somaliland, Israel dipandang sedang menunjukkan sikap ‘ekspansionisme’.
“Pengakuan sebagian wilayah (sebagai negara berdaulat) menjadi preseden yang serius dan mengancam perdamaian dan keamanan internasional, serta melanggar dasar-dasar hukum internasional berdasarkan Piagam PBB,” bunyi pernyataan bersama tersebut. Indonesia juga menentang keras upaya menjadikan pengakuan Somaliland sebagai langkah untuk melancarkan upaya ‘pengusiran secara paksa warga Palestina dari wilayahnya’.
Kecaman Warga Somalia di Mogadishu
Ratusan orang berkumpul di Mogadishu, ibu kota Somalia, pada Minggu (28/12/2025) untuk memprotes keputusan Israel. Para demonstran menyanyikan lagu kebangsaan Somalia dan mengutuk langkah Israel, menekankan kedaulatan dan integritas teritorial Somalia. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “Somalia tidak dapat dipisahkan” dan “Somaliland adalah Somalia.”
Mohamed Abor, salah satu demonstran, mengatakan kepada Anadolu bahwa “Somalia tidak pernah melepaskan wilayahnya dan tidak akan melakukannya sekarang.” Ia menegaskan tidak ada tanah Somalia yang dapat diberikan kepada Israel atau negara lain mana pun, dan “Somalia adalah satu dan akan tetap satu.”
Demonstran lain, Abdi Ismail, menyebut keputusan Israel sebagai “serangan nyata terhadap kedaulatan Somalia.” Ia menambahkan bahwa “Somaliland adalah bagian yang tak terpisahkan dari negara tersebut. Tidak ada negara yang berhak mengakui Somaliland secara sepihak,” serta “komunitas internasional tidak boleh tinggal diam menghadapi keputusan tersebut.”






