CARACAS – Pasar saham Venezuela mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Indeks utama negara itu, Índice Bursátil de Capitalización (IBC) yang diperdagangkan di Caracas Stock Exchange, melesat hingga menembus level 5.097,39 poin.
Menurut data yang dihimpun tim redaksi Mureks, indeks IBC melonjak 638,55 poin atau setara 14,32 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pada awal perdagangan, indeks dibuka di posisi 4.458,84 poin, yang juga merupakan level penutupan pada perdagangan sebelumnya. Sepanjang sesi, pergerakan intraday berlangsung agresif dengan rentang harian 4.458,84 hingga 5.148,29 poin, sekaligus mencetak level tertinggi dalam 52 pekan terakhir.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Reli impresif aset-aset Venezuela ini terjadi menyusul lengsernya Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat. Peristiwa tersebut menyingkap rapuhnya kesiapan pasar lokal dalam menyerap lonjakan perhatian investor. Pelaku pasar setempat melaporkan adanya peningkatan tajam panggilan dari klien asing yang menanyakan cara memperoleh eksposur ke aset Venezuela. Para investor ini meyakini bahwa perubahan politik akan menjadi katalis bagi penguatan aset di negeri tersebut.
Namun, akses ke pasar Venezuela dinilai tidaklah sederhana. Pasar saham negara ini masih sangat dangkal, dengan total kapitalisasi sekitar 22,5 miliar dollar AS berdasarkan kurs resmi dan kurang dari 40 emiten tercatat. Selain itu, saham-saham lokal juga dibelit hambatan regulasi dan risiko nilai tukar yang menyulitkan investasi, baik bagi investor domestik maupun asing.
Venezuela juga masih terisolasi dari sistem keuangan global, sehingga penukaran dollar AS ke bolivar tidak mudah. Investor internasional diwajibkan mendaftar ke otoritas pajak setempat, sebuah proses yang kerap dinilai rumit dan birokratis.
Tantangan dan Peluang Investasi
Todd Sohn, Senior ETF and Technical Strategist Strategas di New York, menyoroti tantangan ini. “Jika seseorang benar-benar ingin mencoba mengakses aset Venezuela, pasti ada jalannya, tetapi pasarnya terlalu kecil,” ujarnya.
Meski demikian, Sohn melihat adanya peluang untuk menghadirkan eksposur Venezuela kepada investor ritel. Pada Senin, sebuah pengajuan dilayangkan ke U.S. Securities and Exchange Commission untuk membentuk ETF yang melacak indeks berisi perusahaan-perusahaan berbasis Venezuela. Dana tersebut tidak hanya mencakup saham yang diperdagangkan di Caracas, tetapi juga perusahaan dengan eksposur signifikan ke negara Amerika Selatan itu.
Pasar saham Venezuela, yang pernah berjaya puluhan tahun lalu, kini menyusut drastis setelah bertahun-tahun kontrol nilai tukar, hiperinflasi, dan kontraksi ekonomi di bawah kebijakan sosialis almarhum Presiden Hugo Chávez dan penerusnya, Maduro.
Meskipun ada tanda pemulihan dalam beberapa tahun terakhir, sanksi dan hambatan hukum masih membatasi laju pemulihan. Sebagai contoh, partisipasi bank dan perusahaan asuransi dibatasi, sehingga likuiditas pasar tetap rendah. Bahkan dengan meningkatnya minat pada pekan ini, catatan Mureks menunjukkan nilai transaksi saham dan obligasi lokal sepanjang 2026 baru sedikit di atas 200.000 dollar AS berdasarkan kurs pasar paralel.
Aset-aset Venezuela menguat dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya tekanan Donald Trump terhadap Maduro, yang berpuncak pada penangkapannya pada akhir pekan lalu untuk menghadapi tuduhan narkotika di Amerika Serikat. Kepergian figur kuat tersebut memicu reli pada obligasi negara Venezuela berdenominasi dollar AS, mencatatkan kenaikan terbesar sejak pelonggaran sanksi Amerika Serikat atas transaksi sekunder pada 2023. Meskipun penguatan kemudian mereda, harga obligasi masih bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari delapan tahun, didorong harapan perubahan politik akan membuka jalan restrukturisasi utang.






