Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (8/1) dengan koreksi terbatas 0,22% ke level 8.925,47. Penurunan ini terjadi di tengah aktivitas selektif pasar, di mana sejumlah emiten mencatatkan kenaikan signifikan, sementara investor asing tetap membukukan beli bersih yang solid.
Pergerakan Pasar dan Aksi Asing
Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG terpantau melemah tipis. Beberapa saham yang menjadi sorotan karena kenaikan tajam antara lain MORA yang melesat 15,70%, NSSS melonjak 21,36%, dan DSSA menguat 2,59%. Sebaliknya, tekanan jual terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA yang turun 1,23%, ANTM terkoreksi 9,35%, serta IMPC yang melemah 4,94%.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Mureks mencatat bahwa minat investor asing masih cukup kuat. Di pasar reguler, investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp543,76 miliar. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai beli bersih asing bahkan mencapai Rp950,23 miliar, menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Secara sektoral, enam dari sebelas sektor ditutup melemah. Sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 3,22%. Namun, sektor transportasi justru menunjukkan kinerja terbaik dengan kenaikan 1,75%, memberikan sedikit angin segar di tengah koreksi indeks.
Kabar Emiten: KRAS Kantongi Proyek Strategis, FOLK Tambah Modal
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
Emiten baja pelat merah, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), melalui anak usahanya PT Krakatau Pipe Industries, berhasil mengamankan kontrak pengadaan pipa baja untuk Proyek Strategis Nasional Pipa Transmisi Gas DumaiāSei Mangkei (Dusem) Segmen 1. Proyek ini memiliki total panjang jalur pipa mencapai 541 kilometer.
KRAS akan memasok sekitar 80.000 ton pipa baja dengan spesifikasi ERW/HSAW API 5L X52 PSL 2 berdiameter 20 inci, yang juga dilengkapi lapisan pelindung 3LPE. Kontrak pengadaan ini telah ditandatangani pada 6 Januari 2026, bersamaan dengan dimulainya tahapan awal proyek. Proyek Dusem Segmen 1 ditargetkan rampung pada tahun 2027. Manajemen KRAS optimistis proyek ini akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja pendapatan perseroan di masa mendatang.
PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK)
Sementara itu, PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) mengumumkan rencana penambahan modal melalui mekanisme penempatan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Perseroan berencana menerbitkan maksimal 394,81 juta saham baru, setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Saham baru ini akan ditawarkan dengan harga pelaksanaan Rp398 per saham. Melalui aksi korporasi ini, FOLK berpotensi memperoleh dana segar sekitar Rp57 miliar. Dana hasil penambahan modal tersebut direncanakan untuk mendukung ekspansi usaha perseroan maupun entitas anak. Saham baru akan diserap oleh Garam Ventura Indonesia selaku pemegang saham utama serta Sutopo Widodo sebagai pemegang saham non-afiliasi, dengan jadwal pencatatan pada 15 Januari 2026.






