Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah atau All-Time High (ATH) pada Senin, 5 Januari 2026. Pencapaian ini terjadi di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, yang turut memberikan sentimen positif pada sejumlah saham sektor minyak dan gas (migas) serta emas.
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG menguat 0,76% hingga pukul 13.57 WIB, mencapai level 8.812,62. Sepanjang hari ini, indeks sempat menyentuh posisi tertingginya di 8.820,45, sementara level terendah tercatat di 8.732,31.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Mureks mencatat bahwa hingga penutupan perdagangan sesi I, sejumlah saham migas menunjukkan penguatan signifikan. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 1,17%, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 2,76%, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menguat 2,13%. Sementara itu, saham-saham emas juga turut melonjak, dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 3,43%, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 3,65%, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang memimpin dengan kenaikan 7,63%.
Dampak Konflik AS-Venezuela dan Sentimen Komoditas
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai bahwa konflik antara AS dan Venezuela belum berdampak sistemik terhadap stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan. Sebaliknya, menurut Reydi, tensi geopolitik ini justru memberikan sentimen positif bagi sektor-sektor tertentu seperti migas dan emas.
“Konflik AS-Venezuela lebih berdampak pada sentimen di komoditas seperti minyak dan emas dibandingkan saham secara keseluruhan. Penguatan saham-saham energi dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak sebagai respon dari tensi geopolitik. Sementara emiten emas menjadi sasaran investor untuk berinvestasi di tengah ketidakpastian,” ungkap Reydi kepada detikcom, Senin (5/1/2026).
Meski demikian, Reydi mengingatkan bahwa penguatan sektor migas dan emas ini kemungkinan hanya bersifat jangka pendek. Ia menekankan bahwa tanpa dukungan fundamental yang kuat dan tren harga komoditas yang berkelanjutan, kenaikan tersebut akan bersifat sementara.
“Kenaikan ini bisa bersifat jangka pendek, keberlanjutannya tergantung dari konflik yang berlarut-larut atau tidak, tanpa dukungan fundamental dan tren harga komoditas, tren kenaikan akibat dari tensi AS Venezuela akan bersifat sementara,” imbuhnya.
Dihubungi terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa konflik AS-Venezuela turut meningkatkan ketidakpastian global. Kondisi ini berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan dan seringkali mendorong investor untuk beralih ke aset aman seperti emas.
Namun, IHSG berhasil menguji ketahanannya dengan apresiasi yang ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas. Selain itu, pergerakan positif IHSG juga tersengat sentimen dari perilisan data makro ekonomi domestik yang baru saja diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS).
“IHSG yang mengalami apresiasi itu selain didukung saham-saham berbasis komoditas maupun energi, di sisi lain juga hasil perilisan makro ekonomi domestik kita rata-rata sesuai dengan ekspektasi,” ungkap Nafan.
Inflasi Domestik yang Terkendali
Berdasarkan data BPS, inflasi Indonesia pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,64% (month-to-month/mtm) dan 2,92% (year-on-year/yoy). Menurut Nafan, angka inflasi ini tergolong wajar mengingat aktivitas ekonomi Indonesia yang mulai kembali bergeliat.
“Aktivitas konsumsi domestik itu sudah semakin menggeliat, jadi wajar saja karena kita juga menjelang Imlek, menjelang masuk periode bulan suci Ramadhan kemudian lebaran, tentunya domestic consumption tercipta. Belum lagi sebelumnya perayaan Natal dan Tahun Baru. Itu yang membuat inflasi kita naik, jadi wajar,” imbuhnya.






