Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan pada penutupan perdagangan Senin, 5 Januari 2026. Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melonjak 1,27 persen atau setara 111,06 poin, mencapai level 8.859,191.
Penguatan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang ramai. Mureks mencatat bahwa berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari RTI, IHSG dibuka pada posisi 8.778,73. Sepanjang hari, pergerakan indeks berada di rentang 8.732,32 hingga 8.859,19.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Volume perdagangan mencapai 68,79 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 29,73 triliun. Frekuensi transaksi juga tinggi, mendekati 4 juta kali. Sebanyak 446 saham berhasil menguat, sementara 246 saham melemah, dan 114 saham lainnya bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar BEI turut meningkat, mencapai Rp 16.194,63 triliun.
Sektor-Sektor Penggerak Pasar
Secara sektoral, energi menjadi salah satu penggerak utama pasar dengan kenaikan 2,31 persen. Penguatan juga terjadi pada bahan baku yang naik 2,62 persen. Sektor transportasi dan logistik melonjak 2,02 persen, industri menguat 1,61 persen, kesehatan naik 1,62 persen, serta barang konsumsi siklikal menguat 1,66 persen.
Sektor keuangan naik 1,42 persen, infrastruktur naik 0,96 persen, dan barang konsumsi non-siklikal naik 0,82 persen. Sektor properti ikut bergerak naik meski terbatas, dengan penguatan 0,41 persen. Di tengah dominasi penguatan sektor, hanya sektor teknologi yang ditutup melemah tipis sebesar 0,07 persen.
Dampak Geopolitik AS-Venezuela dan Analisis Pasar
Penguatan IHSG ini terjadi di tengah sorotan pasar global terhadap memanasnya hubungan antara Venezuela dan Amerika Serikat (AS). Eskalasi geopolitik ini memicu kekhawatiran akan potensi dampak negatif terhadap pasar keuangan global, termasuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Situasi ini dipicu oleh langkah keras AS terhadap Venezuela yang mendapat penolakan tegas dari pemerintah Caracas.
Ketegangan tersebut menambah daftar tantangan di tengah kondisi global yang masih rapuh, ditandai perlambatan ekonomi dunia, konflik geopolitik yang belum mereda di sejumlah kawasan, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Kombinasi faktor ini membuat pasar keuangan global menjadi lebih sensitif terhadap sentimen negatif.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai bahwa memanasnya hubungan AS-Venezuela berpotensi menambah tekanan sentimen di pasar keuangan, meskipun dampaknya terhadap Indonesia bersifat tidak langsung. Menurut Nico, konflik geopolitik yang melibatkan negara produsen energi tetap harus dicermati oleh pelaku pasar.
Ia menjelaskan, "Apa yang akan terjadi hari ini? Kami melihat saham berbasis harga minyak akan mengalami kenaikkan, meskipun Venezuela tidak masuk ke dalam 20 terbesar produsen minyak mentah. Hal ini tentu saja akan memberikan potensi tekanan inflasi khususnya dan akan menimbulkan risiko bagi pasar," ujar Nico dalam analisa hariannya pada Senin pagi. Meskipun Venezuela tidak termasuk dalam jajaran 20 besar produsen minyak mentah dunia, ketegangan yang terjadi tetap dapat memengaruhi persepsi risiko global, khususnya terhadap pasokan energi dan stabilitas harga komoditas.






