Keuangan

Harga Perak Melonjak Lebih dari 6 Persen ke Level 80 Dolar AS, Dipicu Data Tenaga Kerja AS yang Lesu dan Pasokan Terbatas

Harga perak melonjak lebih dari 6,5 persen pada Jumat (9/1/2026), kembali menembus angka 80 dollar AS setelah sempat mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan signifikan ini dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk data penyerapan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang kurang menggembirakan serta terbatasnya pasokan logam mulia di gudang penyimpanan London.

Pada Jumat (9/1/2026) pukul 11.15 waktu setempat, harga perak tercatat di kisaran 80,05 dollar AS. Fluktuasi harga perak sepanjang pekan ini cukup tajam. Catatan Mureks menunjukkan, harga perak sempat menyentuh hampir 82 dollar AS pada Selasa (6/1/2026), mendekati rekor tertinggi, sebelum anjlok ke level 73 dollar AS pada Kamis (8/1/2026).

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Penyebab Utama Kenaikan Harga Perak

Laporan resmi penambahan 50.000 pekerjaan nonpertanian di AS pada Desember, dengan tingkat pengangguran yang sedikit turun menjadi 4,4 persen, menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga perak. Kondisi ini mengindikasikan lingkungan tenaga kerja yang lesu, yang seringkali mendorong investor mencari aset aman seperti logam mulia.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, menjelaskan, “Lingkungan penyerapan tenaga kerja yang buruk, harga minyak yang sedikit naik, ketidakpastian, dan pelonggaran kebijakan The Fed menjadi faktor utama yang mendorong harga logam mulia naik.”

Kenaikan ini melanjutkan tren positif sepanjang tahun 2025, di mana harga perak naik lebih dari 150 persen dan mencapai rekor tertinggi di atas 83 dollar AS pada akhir Desember lalu.

Keterbatasan Pasokan dan Gejolak Geopolitik

Harga perak juga mengalami gejolak tajam karena pasokan yang terbatas, terutama di London, yang merupakan pusat perdagangan utama logam mulia. Analis Goldman Sachs menyebut kondisi stok yang menipis menciptakan tekanan yang membuat harga mudah naik turun.

Tahun lalu, kekhawatiran soal tarif impor AS menyebabkan stok perak berpindah dari London ke New York, sehingga pasokan di London menipis. Selain itu, China mulai membatasi ekspor perak sejak awal Januari untuk menciptakan surplus lokal, yang berpotensi menaikkan harga di pasar global.

Tom Price, Kepala Strategi Komoditas di Panmure Liberum, menyoroti, “perubahan sistem stok global menjadi regional ini membuat harga rentan mengalami lonjakan di lokasi tertentu.” Pembatasan ekspor perak oleh China juga menuai kritik dari Elon Musk, yang mencuit di X, “Ini tidak baik. Perak dibutuhkan dalam banyak proses industri.”

Faktor lain yang turut mendorong harga logam mulia adalah ketegangan geopolitik. Penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, dan rencana Presiden AS Donald Trump untuk menguasai Greenland menambah ketidakpastian global.

Tim Waterer, Analis Pasar KCM Trade, menyatakan, “Peristiwa di Venezuela meningkatkan permintaan aset aman seperti emas dan perak karena investor mencari perlindungan dari risiko geopolitik.”

Selain itu, permintaan perak terus meningkat karena penggunaannya dalam produksi kendaraan listrik dan pusat data AI. Potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve juga memperkuat sentimen kenaikan harga perak di pasar.

Mureks