Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak sejarah pada Kamis (8/1/2026) dengan menyentuh level 9.000 untuk pertama kalinya dalam perdagangan intraday. Namun, euforia tersebut tak bertahan hingga penutupan pasar, di mana IHSG akhirnya berbalik arah dan berakhir di zona merah.
Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG tercatat melemah 19,34 poin atau 0,22% ke level 8.925,47. Meskipun sempat menguat dan mencapai puncak 9.000 pada sesi pertama, indeks mulai terkoreksi pada sesi kedua dan sempat menyentuh level terendah 8.918,41.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 380 saham mengalami penurunan, sementara 328 saham menguat, dan 250 saham tidak bergerak. Nilai transaksi harian mencapai Rp 28,78 triliun, melibatkan 51,58 miliar saham dalam 3,71 juta kali transaksi.
Sektor Bahan Baku Tertekan, BBCA Jadi Pemberat Utama
Menurut pantauan Mureks, sektor bahan baku menjadi penyumbang koreksi terdalam hari ini, anjlok hingga 1,88%. Saham-saham unggulan di sektor ini seperti Aneka Tambang (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), Bumi Resources Minerals (BRMS), dan Amman Mineral International (AMMN) menjadi pemberat utama indeks.
Secara spesifik, ANTM terkoreksi 9,35% dan membebani indeks sebesar 7,14 poin. Disusul MDKA dengan 4,4 indeks poin dan BRMS dengan 3,08 indeks poin. Namun, pemberat terbesar IHSG hari ini adalah saham Bank Central Asia (BBCA) yang menyumbang minus 9,5 indeks poin.
Optimisme Pemerintah dan Perjalanan Menuju 9.000
Meskipun ditutup melemah, pencapaian level 9.000 tetap menjadi momen bersejarah bagi pasar modal Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah memperkirakan IHSG akan menyentuh level tersebut.
“To the moon,” kata Purbaya menanggapi keberhasilan IHSG menyentuh 9.000 hari ini. Ia juga menyatakan optimisme tinggi bahwa pada tahun 2026, IHSG akan melampaui level 10.000. “10.000 tahun depan? lebih lah,” tambahnya.
Optimisme Purbaya didasarkan pada kebijakan pemerintah yang semakin sinkron serta perbaikan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Perjalanan IHSG menuju level 9.000 tidaklah mulus. Pada April 2025, pasar saham tanah air sempat ambruk hingga menyentuh titik terendah di area 5.800. Pemicu utama saat itu adalah sentimen negatif global yang dikenal sebagai “Liberation Day” dari Presiden AS Donald Trump, yang memicu kekhawatiran perang dagang dan proteksionisme agresif.
Namun, kepanikan tersebut terbukti hanya sesaat. Fundamental ekonomi Indonesia yang kuat berhasil membalikkan keadaan, membawa IHSG rebound signifikan hingga mencapai posisi puncaknya hari ini.
Peran Investor Domestik dan Sentimen Global
Sentimen positif juga datang dari persepsi para analis. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menilai lonjakan IHSG ini tidak lepas dari optimisme pelaku pasar terhadap rilis realisasi APBN 2025. Kinerja anggaran negara yang solid memberikan kepercayaan diri bahwa pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menstimulasi ekonomi tahun ini.
Hal ini sejalan dengan data perdagangan yang menunjukkan adanya foreign inflow (arus dana asing masuk) yang deras sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026. Investor asing kembali melirik aset-aset Indonesia yang dinilai memiliki valuasi menarik dan prospek pertumbuhan laba emiten yang menjanjikan dibandingkan negara emerging market lainnya, terutama karena kenaikan PDB Indonesia di tengah dinamika geopolitik yang tidak pasti.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa IHSG akhirnya berhasil melewati target 9.000, meskipun hanya menyentuh 9.002. “Hal ini memberikan peluang yang lebih besar bagi IHSG untuk dapat menyentuh 10.000. Meskipun ada tensi geopolitik yang tengah terjadi saat ini, pelaku pasar lebih cenderung terhadap sikap optimis,” ujar Nico kepada CNBC Indonesia.
Nico menambahkan, beberapa isu menjadi perhatian pelaku pasar dan investor, antara lain akselerasi perekonomian Indonesia, optimalisasi program andalan, serta ruang pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia dan The Fed. Namun, ia mengingatkan bahwa tensi geopolitik, seperti antara Taiwan dan China, masih menjadi ancaman. “Kalaupun IHSG mengalami koreksi diharapkan jangan sampai di bawah 8.775 untuk menjaga harapan kembali ke 9.000,” ujarnya.
Mureks mencatat bahwa hal menarik dari rekor 9.000 ini adalah peran krusial investor domestik. Berbeda dengan era sebelumnya yang sangat bergantung pada asing, saat ini investor ritel memegang kendali signifikan dengan porsi transaksi mencapai kurang lebih 50% dari total perdagangan harian. Kekuatan ritel ini menjadi bantalan utama yang menjaga likuiditas pasar tetap terjaga saat asing sempat keluar di awal tahun lalu.
Pesta di pasar saham ini semakin lengkap dengan sentimen global yang mulai melunak. Konsensus pasar kini meyakini bahwa era suku bunga tinggi akan segera berakhir. Bank Sentral AS (The Fed) diproyeksikan akan memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali tahun depan. Pelonggaran moneter global ini menjadi katalis positif, karena akan memicu aliran dana murah (cheap money) kembali membanjiri pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, meskipun ada risiko geopolitik global yang kian memanas setiap harinya.






