Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Senin (6/1/2026), mencapai level Rp 1,54 miliar. Kenaikan ini sejalan dengan performa positif saham-saham teknologi global. Namun, pasar tetap diselimuti kehati-hatian akibat ketegangan geopolitik menyusul serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela.
Bitcoin Menguat di Tengah Optimisme AI
Pada pukul 01.33 ET atau 06.33 GMT, harga BTC tercatat naik 1,1 persen menjadi 92.264,5 dollar AS, setara dengan sekitar Rp 1,54 miliar (kurs Rp 16.700 per dollar AS). Penguatan ini didorong oleh sentimen positif di sektor teknologi, yang menurut Investing.com, meningkat berkat optimisme investor terhadap prospek kecerdasan buatan (AI).
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Meskipun mengawali tahun 2026 dengan kenaikan, Bitcoin masih mencatatkan penurunan sebesar 6,4 persen sepanjang tahun 2025. Pelemahan ini terjadi seiring meredanya minat investor terhadap aset kripto pada paruh kedua 2025, di tengah keraguan yang meningkat atas prospek jangka panjang sektor tersebut.
Sentimen Global Menahan Kenaikan Bitcoin
Kenaikan harga Bitcoin dan pasar kripto secara umum tertahan oleh kekhawatiran pasar terhadap dampak lanjutan serangan AS ke Venezuela. Insiden ini berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang dilaporkan ditahan di New York dan berpotensi menghadapi proses hukum di pengadilan AS.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan mengambil alih sementara Venezuela hingga pemimpin baru terpilih, sekaligus membuka industri minyak negara tersebut. Langkah AS ini memicu reaksi beragam dari para pemimpin dunia. Sejumlah negara Amerika Latin, serta Rusia dan China, mengecam tindakan tersebut.
Ketidakpastian geopolitik semakin meningkat setelah Trump memperingatkan kemungkinan langkah serupa terhadap Kolombia dan Kuba, serta membuka peluang tindakan terhadap Iran. Situasi ini mendorong permintaan terhadap aset lindung nilai. Mureks mencatat bahwa harga emas dan dollar AS tercatat mendapat permintaan kuat di tengah meningkatnya risiko global.
Kinerja Bitcoin Sepanjang 2025 Masih Negatif
Penguatan Bitcoin di awal 2026 sebagian didorong oleh aksi beli murah, setelah mencatatkan penurunan signifikan sepanjang 2025. Padahal, Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi tahun lalu seiring optimisme terhadap dukungan regulasi yang lebih besar di bawah pemerintahan Trump.
Namun, sentimen positif tersebut memudar pada kuartal terakhir 2025. Perubahan sentimen dipicu oleh meningkatnya keraguan terhadap prospek jangka panjang perusahaan treasury Bitcoin, termasuk Strategy, terutama setelah perusahaan tersebut gagal masuk ke salah satu indeks saham utama AS. Selain itu, aksi flash crash harga kripto pada Oktober turut mengguncang sentimen investor ritel.
Pada saat yang sama, pembelian institusional melalui dana kripto juga dilaporkan melambat dalam beberapa bulan terakhir. Harga kripto lainnya bergerak menguat terbatas, mengikuti pergerakan Bitcoin. Ether, kripto terbesar kedua di dunia, tercatat stagnan di level 3.144,41 dollar AS. Sementara itu, XRP naik 2,1 persen, BNB menguat 1 persen, sedangkan Solana dan Cardano masing-masing naik kurang dari 1 persen. Di kelompok meme coin, Dogecoin turun 0,4 persen. Adapun token $TRUMP tercatat menguat 0,6 persen.






