Keuangan

Goldman Sachs Peringatkan Volatilitas Harga Perak Berlanjut Sepanjang 2026

Harga perak mencatat kenaikan signifikan sepanjang tahun 2025, bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Goldman Sachs memperingatkan bahwa gejolak harga logam putih ini belum akan berakhir pada tahun 2026.

Menurut Goldman Sachs, penyebab utama volatilitas ini bukan karena kekurangan pasokan perak secara global, melainkan distribusi fisik logam yang tidak merata. Stok perak di London, yang menjadi acuan harga dunia, kini menipis. Banyak perak telah dipindahkan ke brankas di Amerika Serikat sejak tahun lalu, dipicu kekhawatiran akan kebijakan tarif dari pemerintah AS.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Situasi ini membuat harga perak sangat sensitif terhadap perubahan permintaan. Saat investor menyerap sisa logam di London, harga melonjak cepat. Sebaliknya, ketika pasokan sedikit longgar, harga dapat langsung turun tajam. Dikutip dari Business Insider pada Jumat (9/1/2026), harga perak di pasar spot saat ini mencapai 76 dollar AS per troy ons, naik 8,5 persen sejak awal tahun setelah lonjakan drastis sepanjang 2025.

Pemicu Lonjakan dan Sensitivitas Harga

Lonjakan harga perak didorong oleh beberapa faktor, termasuk masuknya dana investasi yang mencari perlindungan aset, harapan pelonggaran suku bunga oleh The Fed, dan diversifikasi portofolio. Namun, kekurangan stok perak di London semakin memperkuat gejolak harga yang terjadi.

Goldman Sachs memperkirakan pergerakan harga ekstrem masih akan berlanjut. Biasanya, permintaan bersih mingguan sekitar 1.000 ton metrik akan menaikkan harga sekitar 2 persen. Kini, sensitivitas harga perak terhadap permintaan melonjak hingga sekitar 7 persen.

Meskipun harga perak sudah tinggi, permintaan investor untuk logam mulia ini diprediksi masih terbuka lebar. Kepemilikan perak dalam bentuk ETF (Exchange Traded Fund) yang didukung fisik perak, masih di bawah puncak tahun 2021 dan berpotensi naik seiring pelonggaran suku bunga serta diversifikasi investasi.

Ketidakpastian Kebijakan dan Dampak China

Harga perak bisa saja turun jika ada kepastian kebijakan yang memungkinkan perak mengalir kembali dari brankas AS ke London. Sayangnya, ketidakpastian kebijakan ini justru berpotensi membuat perak tetap terjebak di AS. Goldman Sachs memperkirakan perak bisa mengikuti pola yang sama dengan emas, di mana sebagian besar tetap tersimpan di brankas COMEX New York meski pemerintah AS telah memastikan emas tidak dikenakan tarif.

Faktor lain yang menambah ketidakpastian adalah kebijakan ekspor China yang mulai berlaku 1 Januari 2026. China mewajibkan izin resmi untuk ekspor perak, sebuah langkah yang berpotensi memecah pasar perak global, mengurangi likuiditas, dan memperbesar fluktuasi harga.

Goldman Sachs memperingatkan bahwa risiko gangguan ini dapat membuat pelaku pasar menahan stok sendiri, tidak lagi berbagi cadangan secara global. Mureks mencatat bahwa kebijakan ini berpotensi mengubah pasar perak yang semula terintegrasi menjadi pasar regional yang terisolasi, memicu fluktuasi harga lokal yang tajam.

Mureks