Demonstrasi anti-pemerintah terbesar yang melanda Iran dalam beberapa tahun terakhir mencapai puncaknya pada Jumat malam, 9 Januari 2026. Situasi ini memicu kekhawatiran serius akan meningkatnya jumlah korban jiwa di tengah upaya otoritas untuk menekan aksi protes yang meluas.
Rekaman media sosial yang bocor dari Iran, di tengah pemadaman total jaringan internet dan telekomunikasi, menunjukkan ratusan ribu orang berbaris di berbagai kota. Para demonstran meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah, dengan beberapa adegan mengerikan memperlihatkan tubuh-tubuh tergeletak dalam genangan darah. Catatan Mureks menunjukkan, rekaman lain juga memperlihatkan bahwa banyak dari demonstran yang terlibat adalah warga lanjut usia.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.
Sebuah video terpisah yang direkam menggunakan kamera ponsel dari Fardis, sebuah kota sekitar 50 kilometer di sebelah barat Teheran, menunjukkan setidaknya tujuh jenazah berlumuran darah di dalam sebuah bangunan. Dalam rekaman tersebut, terlihat beberapa orang sedang membalut kepala dan menutup mata seseorang. Informasi yang menyertai video tersebut menyebutkan bahwa setidaknya 10 orang tewas akibat tembakan di lokasi tersebut. Namun, pihak Bloomberg menyatakan bahwa tidak ada rekaman yang dapat diverifikasi secara independen.
Organisasi Pemberitaan dari Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan pada Jumat, 9 Januari 2026, bahwa setidaknya 65 orang telah tewas dan 2.311 orang ditangkap sejak protes dimulai pada 28 Desember 2025. Demonstrasi ini awalnya dipicu oleh protes para pedagang di Teheran yang menyoroti krisis mata uang dan kondisi hidup yang memburuk. Sejak saat itu, gelombang demonstrasi telah menyebar ke seluruh penjuru negeri.






