Lifestyle

Fenomena Baye Fall: Komunitas Muslim Senegal yang Beribadah dengan Kerja Keras, Tanpa Salat dan Puasa

Komunitas Muslim Baye Fall di Senegal menarik perhatian karena praktik ibadah mereka yang unik. Berbeda dari mayoritas umat Islam, komunitas ini tidak menjalankan salat lima waktu dan puasa Ramadan. Meski demikian, jumlah pengikutnya mencapai 17 juta orang di negara yang 97 persen penduduknya menganut Islam.

Maam Samba, pemimpin kelompok Baye Fall, menjelaskan bahwa komunitasnya beribadah melalui kerja keras dan pengabdian kepada masyarakat. Filosofi ini menjadi inti dari ajaran mereka.

Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id

Kerja Keras sebagai Bentuk Ibadah

“Filosofi komunitas Baye Fall berpusat pada kerja, kerja keras menjadi bentuk ibadah kepada Tuhan,” ungkap Samba, seperti dilansir dari BBC. Menurutnya, terdapat makna spiritual mendalam di balik aktivitas seperti membajak sawah, membangun gedung sekolah, atau membuat kerajinan tangan.

Tugas-tugas yang dikerjakan oleh komunitas Baye Fall ini dianggap sebagai tindakan meditatif. Bekerja dengan sungguh-sungguh dipandang sebagai bentuk doa dan pengabdian. Pekerjaan yang dimaksud tidak terbatas pada pekerjaan manual, melainkan juga mencakup pelayanan masyarakat melalui pendirian koperasi, kewirausahaan sosial, serta organisasi non-pemerintah.

Bahkan, saat bulan Ramadan tiba, komunitas Baye Fall menunjukkan pengabdian mereka dengan menyiapkan hidangan buka puasa untuk umat Muslim di masjid. Tindakan ini juga mereka anggap sebagai bagian dari ibadah dan pelayanan diri.

Asal-usul Komunitas Baye Fall

Mureks mencatat bahwa komunitas Baye Fall merupakan cabang dari Tarekat Mouride, sebuah aliran Islam Sufi yang sangat berpengaruh di Senegal. Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ahmadou Bamba pada pertengahan abad ke-19.

Pendiri Baye Fall adalah Ibrahim Fall, salah satu pengikut setia Syekh Ahmadou Bamba. Berdasarkan cerita yang beredar, Ibrahim Fall pertama kali bertemu Syekh Ahmadou Bamba di Mbacke Kadior. Sejak saat itu, Ibrahim Fall mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Bamba.

Saking loyalnya, Ibrahim Fall bahkan mengabaikan kebutuhan pribadinya seperti makan, merawat diri, termasuk salat dan puasa. Pakaiannya menjadi lusuh dan compang-camping, yang kemudian menjadi asal mula tradisi pakaian khas komunitas Baye Fall hingga kini.

Loyalitas Ibrahim Fall ini kemudian dipraktikkan oleh para pengikutnya dalam sebuah konsep yang dikenal sebagai ndiguel. Konsep ini begitu penting sehingga banyak anggota Baye Fall yang menyematkan kata tersebut pada nama anak-anak mereka.

Identitas Melalui Kerajinan dan Pakaian Khas

Anggota perempuan Baye Fall dikenal bekerja dengan tenang dan fokus. Mereka mencelupkan kain polos ke dalam bak pewarna cerah. Setiap celupan membuat kain menyerap lapisan warna, secara bertahap mengubahnya menjadi tekstil yang mencolok.

Sementara itu, laki-laki Baye Fall juga menunjukkan ketelatenan. Kain-kain yang telah diwarnai diambil satu per satu, kemudian mereka dengan terampil menjahitnya menjadi pakaian praktis. Pakaian ini menjadi ekspresi identitas khas Baye Fall.

Pakaian-pakaian yang telah jadi kemudian didistribusikan ke pasar-pasar di seluruh Senegal. Selain menjadi mata pencarian, kerajinan ini juga berfungsi sebagai sarana untuk menyebarkan filosofi komunitas Baye Fall.

“Pakaian compang-camping melambangkan universalitas: Anda bisa menjadi Muslim dan tetap mempertahankan budaya Anda. Namun tidak semua orang memahami hal ini. Jika Anda tidak menerima kritik, Anda tidak bisa berkembang,” jelas Samba mengenai makna di balik tradisi pakaian mereka.

Mureks