TAKENGON, ACEH TENGAH – Tim Medis Darurat (EMT)–MDMC Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berhasil mengevakuasi sejumlah pasien rentan dari Desa Serule, Aceh Tengah, pada Sabtu, 03 Januari 2026. Wilayah tersebut masih sulit dijangkau pascabencana, sehingga evakuasi medis menjadi krusial setelah tim menemukan kasus yang memerlukan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan rujukan.
Ketua Tim EMT–MDMC Unismuh Makassar, dr. Fahmi, menjelaskan bahwa pada hari kedua pelayanan di lapangan, tim tetap fokus pada layanan Mini Puskesmas dan kunjungan door-to-door di Desa Serule serta Desa Atu Payung. Dari pemeriksaan intensif tersebut, tim mengidentifikasi beberapa pasien yang berisiko tinggi jika tetap bertahan di lokasi bencana.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Identifikasi Pasien Rentan dan Tantangan Evakuasi
“Di lapangan kami temukan kasus yang sebaiknya dirujuk. Ada seorang lansia 66 tahun yang terbaring sangat lemas dengan demam sejak dua minggu, kemudian tiga ibu hamil usia kandungan 8, 7, dan 5 bulan dengan riwayat keguguran, serta seorang perempuan 55 tahun yang mengalami patah kaki setelah terdampak kayu saat rumahnya terseret longsor,” ujar dr. Fahmi, dalam keterangan resminya.
Menurut dr. Fahmi, proses rujukan sempat menghadapi hambatan signifikan. Sebagian pasien menolak dievakuasi, terutama karena alasan ekonomi, kekhawatiran terkait tempat tinggal sementara, dan kebutuhan akomodasi selama berada di kota. Mureks mencatat bahwa kendala non-medis seringkali menjadi penghalang utama dalam penanganan pascabencana.
Menanggapi penolakan tersebut, tim EMT–MDMC Unismuh Makassar segera mencari solusi komprehensif. “Kami memahami kekhawatiran mereka. Karena itu, tim berkoordinasi dengan MDMC Muhammadiyah Aceh Tengah dan Pemerintah Daerah untuk menyiapkan rumah singgah. Kami upayakan kebutuhan dasar pasien terpenuhi, termasuk makan-minum, kebutuhan ibu dan anak,” kata dr. Fahmi.
Selain menyediakan tempat tinggal sementara, tim dan jejaring relawan juga berupaya membantu keluarga pasien agar tetap memiliki penghasilan selama mendampingi. Salah satu skema yang disiapkan adalah pekerjaan sementara bagi pendamping pasien, seperti menjaga warung atau kedai kopi, demi menopang kebutuhan keluarga selama proses perawatan.
Dukungan BNPB dan Evakuasi Udara
Setelah koordinasi lintas pihak rampung, tim kemudian berkomunikasi dengan BNPB untuk dukungan mobilisasi. Hasilnya, pasien dapat dijemput dan dibawa ke Takengon menggunakan helikopter. Langkah ini memastikan rujukan dapat dilakukan lebih cepat dan aman, mengingat medan darat yang masih berat dan sulit dilalui pascabencana.
Dr. Fahmi menambahkan, saat ini masih ada dua ibu hamil yang perlu diamankan ke kota karena risiko kehamilan yang tinggi. Tim sedang menyiapkan rencana evakuasi lanjutan dan terus berkoordinasi agar dukungan transportasi udara kembali tersedia.
“Masih ada dua ibu hamil yang harus kami amankan. Insya Allah, dalam beberapa hari ke depan akan ada bantuan helikopter lagi untuk membantu evakuasi,” pungkas dr. Fahmi.
EMT–MDMC Unismuh Makassar berkomitmen melanjutkan pelayanan kesehatan di wilayah terisolasi Aceh Tengah. Mereka menggabungkan layanan pos tetap dan kunjungan rumah, sembari memastikan pasien-pasien rentan mendapatkan akses rujukan yang memadai ketika dibutuhkan.






