Jumat, 09 Januari 2026 – Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, kini menghadapi krisis ekonomi parah yang menempatkan beban berat di pundak pemimpin barunya. Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membangkitkan kembali industri minyak Venezuela melalui campur tangan perusahaan AS, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Meski memiliki potensi besar, ekonomi Venezuela tertekan oleh korupsi yang merajalela, sanksi ekonomi internasional, serta fluktuasi pasar minyak global. Situasi kompleks ini menjadi tantangan krusial bagi siapa pun yang akan memegang kendali pemerintahan di masa depan.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Inflasi Mencekik dan Krisis Kemanusiaan
Hampir satu dekade lalu, Venezuela pernah mencatat inflasi fantastis hingga 65.000%. Lonjakan harga barang dan kelangkaan kebutuhan pokok membuat mata uang Bolivar nyaris tak bernilai. Saat ini, inflasi masih berada di angka tiga digit, menyebabkan mayoritas penduduk terjerumus dalam kemiskinan ekstrem.
Menurut laporan Program Pangan Dunia (WFP), sekitar 40% penduduk Venezuela menghadapi krisis pangan. Kelangkaan ini, ditambah dengan represi politik, telah mendorong sepertiga populasi untuk mencari perlindungan di luar negeri. Mureks mencatat bahwa kondisi ini mirip dengan negara-negara pasca-perang besar.
Luisa Palacios, mantan pemimpin perusahaan minyak Citgo, menggambarkan kehancuran ekonomi Venezuela hanya dapat disandingkan dengan negara-negara yang baru saja melewati konflik besar. “Negara ini butuh membangun kembali hukum. Aturan dasar ekonomi yang berfungsi harus segera diterapkan,” tegas Palacios, seperti dikutip dari CNN pada Jumat (9/1/2026).
Para pakar ekonomi sepakat bahwa tidak ada solusi instan bagi Venezuela. Ketergantungan negara ini pada minyak sangat tinggi, dengan lebih dari 90% ekspor berasal dari sektor tersebut. Menghidupkan kembali industri minyak diperkirakan membutuhkan investasi puluhan miliar dolar AS, dan itu pun hanyalah langkah awal.
“Kita masih di babak pertama dari pertandingan yang sangat, sangat panjang,” tambah Palacios, menggambarkan panjangnya jalan pemulihan ekonomi Venezuela.
Masa Depan Kepemimpinan dan Solusi Potensial
Hingga kini, identitas pemimpin Venezuela selanjutnya masih menjadi tanda tanya besar. Pilihan yang ada meliputi sisa-sisa pemerintahan Nicolás Maduro yang telah digulingkan, pemimpin oposisi yang diyakini banyak pihak memenangkan pemilu tahun lalu, atau bahkan kemungkinan intervensi pemerintahan Trump sendiri, seperti yang sempat diisyaratkan pada hari Sabtu.
Roxanna Vigil, seorang pakar Hubungan Internasional di Council on Foreign Relations, menekankan pentingnya restrukturisasi utang Venezuela. Selain itu, ia menyarankan agar AS mencabut sanksi terhadap Venezuela dan membuka pintu bagi investasi serta bisnis asing untuk masuk.
Namun, sebuah sumber pemerintahan AS mengatakan kepada CNN bahwa sanksi minyak akan tetap berlaku untuk saat ini. Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan tanggapan mengenai rencana restrukturisasi utang Venezuela. Ketidakpastian ini semakin memperpanjang bayang-bayang krisis di negara kaya minyak tersebut.






