Nasional

Dua Warga Terluka Ditembak Agen Federal di Portland, Oregon: Buntut Kematian di Minneapolis

Dua orang dilaporkan terluka akibat insiden penembakan yang melibatkan agen federal di Kota Portland, Negara Bagian Oregon, pada Kamis (8/1). Peristiwa ini terjadi kurang dari 24 jam setelah kematian seorang perempuan di Minneapolis, Minnesota, yang tewas di tangan aparat Imigrasi AS (ICE), memicu gelombang demonstrasi menentang kekerasan aparat di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Kronologi Penembakan di Portland

Kepolisian Portland mengonfirmasi bahwa dua korban kini telah dilarikan ke rumah sakit. “Dua orang kini berada di rumah sakit menyusul penembakan yang melibatkan agen federal,” ujar Kepolisian Portland, seperti dikutip dari AFP.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Pihak kepolisian setempat menegaskan bahwa anggota mereka sama sekali tidak terlibat dalam penembakan tersebut. Laporan mengenai situasi darurat ini diterima pada Kamis siang.

Saat tiba di lokasi, petugas menemukan seorang pria dan seorang wanita dengan luka tembak. Mereka segera memberikan pertolongan pertama dengan memasang perban pengikat dan memanggil petugas medis darurat. Kondisi kedua pasien saat ini belum diketahui secara pasti, namun petugas telah memastikan bahwa luka tembak yang mereka alami melibatkan agen federal.

Lokasi penembakan disebut berada di sekitar fasilitas medis di Portland. Hingga kini, agen FBI telah diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Kematian di Minneapolis dan Gelombang Protes

Insiden di Portland ini tak terlepas dari ketegangan yang meningkat pasca-kematian seorang perempuan di Minneapolis. Perempuan tersebut tewas setelah ditembak oleh aparat Imigrasi AS (ICE), memicu kemarahan publik dan demonstrasi besar-besaran menuntut pertanggungjawaban atas kekerasan aparat.

Menurut pantauan Mureks, gelombang protes ini menyebar ke berbagai kota, termasuk di Oregon, menyoroti isu penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat penegak hukum federal.

Sebelumnya, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS juga pernah mengumumkan bahwa pelaku penembakan di perbatasan adalah agen Patroli Perbatasan, dengan alasan melepaskan tembakan untuk membela diri. Pernyataan ini menambah sorotan terhadap kebijakan dan tindakan aparat federal di AS.

Mureks