Presiden Donald Trump secara blak-blakan menegaskan bahwa ia tidak membutuhkan hukum internasional dalam menjalankan kepemimpinan global Amerika Serikat. Pernyataan kontroversial ini muncul menyusul serangan militer AS ke Venezuela dan rencana aneksasi wilayah negara lain, termasuk Greenland.
Trump menyampaikan pandangan tersebut dalam sebuah wawancara dengan New York Times, yang artikelnya dirilis pada Kamis (8/1) lalu. Saat ditanya mengenai batasan dalam kepemimpinan global yang ia jalani, Trump memberikan jawaban yang mengejutkan.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Moralitas Pribadi Jadi Batasan
“Ya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya cara yang bisa menghentikan saya,” jawab Trump, dikutip dari wawancara tersebut. Ia kemudian melanjutkan dengan pernyataan yang lebih tegas.
“Saya tak butuh hukum internasional. Saya tak berniat menyakiti orang lain.”
Meski demikian, politikus Republik itu juga mengakui bahwa pemerintah perlu mematuhi hukum internasional. Namun, ia menekankan bahwa kepatuhan tersebut sangat “tergantung definisi hukumnya.”
Pentingnya ‘Kepemilikan’ dalam Aneksasi Greenland
Dalam kesempatan yang sama, Trump turut menyinggung soal konsep kepemilikan di tengah rencana AS mencaplok Greenland. Menurutnya, kepemilikan memberikan sesuatu yang tidak bisa didapat hanya melalui perjanjian atau penyewaan.
“Kepemilikan sangat penting. Karena itulah yang saya rasa dibutuhkan secara psikologis untuk sukses,” ungkap Trump. Ia menambahkan, “Kepemilikan memberi Anda hal-hal dan elemen yang tidak bisa Anda dapatkan hanya dengan menandatangani dokumen,” seperti dikutip The Guardian.
Trump juga menepis kekhawatiran bahwa keputusan menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akan menjadi preseden bagi potensi pengambilalihan Taiwan oleh China atau upaya Rusia mengendalikan Ukraina.
Klaim Ancaman dari Venezuela
Untuk membenarkan serangan AS ke Venezuela, Trump kembali melontarkan klaim kontroversial. Ia menyebut Maduro telah mengirim geng kriminal ke Amerika Serikat.
“Ini adalah ancaman nyata… Tidak ada orang yang berbondong-bondong masuk ke China. Tidak ada narkoba yang berbondong-bondong masuk ke China,” tegasnya. Trump juga menyatakan keyakinannya bahwa Presiden China Xi Jinping tidak akan merebut kendali Taiwan. Ia bahkan mengatakan jika Xi benar-benar melakukan hal tersebut, maka ia akan “sangat kecewa.”
Wawancara Trump ini terjadi setelah Amerika Serikat menggempur Ibu Kota Venezuela. Dalam insiden tersebut, Presiden Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores ditangkap oleh pasukan AS dan langsung diterbangkan ke Negeri Paman Sam. Catatan Mureks menunjukkan, tindakan pemerintahan Trump sontak memicu reaksi keras dari komunitas global, yang menilai AS telah melanggar hukum internasional.






