Nasional

Donald Trump: ‘AS Akan Jalankan Venezuela’ Pasca-Penangkapan Maduro dan Krisis Politik-Ekonomi

Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1/2026), yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya oleh pasukan elite Delta Force. Insiden ini terjadi setelah lebih dari satu dekade kepemimpinan Maduro yang diwarnai krisis politik dan ekonomi.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) digiring dalam tahanan menyusuri lorong di kantor Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di New York City, AS, Sabtu (3/1/2026). Foto: @RapidResponse47/HO via REUTERS

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Sejak pertama kali berkuasa pada tahun 2013, Maduro memimpin Venezuela dengan gaya yang kerap disebut ‘tangan besi’. Di bawah pemerintahannya, negara tersebut terperosok dalam krisis mendalam, mulai dari penindasan politik hingga kehancuran ekonomi yang masif.

Selama masa kekuasaannya, sekitar tujuh juta warga Venezuela terpaksa bermigrasi ke luar negeri. Situasi ini diperparah dengan tudingan penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan hilangnya kebebasan berpendapat. Mureks mencatat bahwa di bawah kepemimpinan Maduro, ekonomi Venezuela mengalami kehancuran parah, ditandai dengan empat tahun berturut-turut hiperinflasi dan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 80 persen dalam satu dekade.

Penindasan terhadap oposisi kembali mencuat setelah Maduro mengklaim kemenangan dalam pemilihan umum Juli 2024. Dalam penumpasan aksi protes pasca-pemilu tersebut, lebih dari 2.400 orang ditangkap, 28 orang tewas, dan sekitar 200 lainnya terluka. Kekerasan ini mengulang pola represif serupa yang sebelumnya terjadi pada tahun 2014, 2017, dan 2019.

Bus yang hancur usai serangan Amerika Serikat di pangkalan udara militer La Carlota, Caracas, Venezuela, Sabtu (3/1/2026). Foto: Juan BARRETO / AFP

Maduro terpilih kembali pada tahun 2018 dan kembali mengklaim kemenangan pada tahun 2024 dalam pemilu yang secara luas dinilai curang oleh komunitas internasional. Ia sempat dilantik untuk masa jabatan ketiga pada Januari 2025, yang seharusnya membuatnya berkuasa hingga 18 tahun, melampaui masa kepemimpinan pendahulunya, Hugo Chavez, selama 14 tahun.

Sepanjang berkuasa, Maduro bertahan dengan dukungan kuat dari militer dan aparat keamanan, serta sekutu internasional seperti China, Kuba, dan Rusia. Ia membungkus kepemimpinannya dengan citra damai melalui slogan “Tidak ada perang, ya untuk perdamaian!”, sebuah narasi yang kontras dengan praktik represif di negara tersebut.

Trump Tegaskan AS Akan Ambil Alih Venezuela

Presiden Donald Trump diapit Direktur CIA John Ratcliffe dan Menlu Marco Rubio, saat meninjau operasi militer AS di Venezuela, dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Sabtu (3/1). Foto: @realDonaldTrump via reuters

Menyusul penangkapan Maduro, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa negaranya akan mengambil alih pengelolaan Venezuela. Trump menyatakan Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela untuk sementara waktu demi memastikan proses transisi berjalan aman dan terkendali.

“Kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Jadi kita tidak ingin terlibat dengan orang lain yang masuk dan kita memiliki situasi yang sama seperti yang kita alami selama bertahun-tahun terakhir,” ujar Trump dalam konferensi persnya, Minggu (4/1).

Ia menambahkan, “Jadi kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Dan itu harus bijaksana karena itulah tujuan kita.”

Mureks