Tren

Dipecat Manchester United, Ruben Amorim Sisakan Konflik dengan Rashford hingga Mainoo

Selasa, 06 Januari 2026 – Era kepelatihan Ruben Amorim di Manchester United resmi berakhir lebih cepat dari perkiraan. Pelatih asal Portugal itu diberhentikan dari jabatannya setelah hanya 14 bulan menukangi Setan Merah, menyusul laga kontra Leeds United di pekan ke-20 Liga Inggris musim 2025/2026.

Keputusan ini diambil di tengah situasi tim yang sebenarnya mulai menunjukkan perbaikan, bahkan sempat merangkak naik ke papan atas klasemen Premier League. Namun, penampilan Man United dinilai masih belum konsisten. Lebih dari itu, selama di Old Trafford, Mureks mencatat bahwa masalah laten terus menggerogoti ruang ganti Setan Merah: hubungan Amorim dengan sejumlah pemain bintang memburuk dari waktu ke waktu. Ia berkonflik dengan nama-nama besar seperti Marcus Rashford hingga talenta muda Kobbie Mainoo.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Marcus Rashford: Dari Andalan Jadi Tersingkir

Kedatangan Ruben Amorim awalnya dianggap membawa angin segar bagi Marcus Rashford. Penyerang Inggris itu langsung tampil tajam dengan mencetak tiga gol dalam dua laga awal di bawah asuhannya. Namun, performa Rashford perlahan menurun, memicu keraguan dari sang pelatih.

Amorim disebut mempertanyakan profesionalisme sang pemain, terutama terkait sikapnya di sesi latihan. Situasi semakin memanas ketika Amorim secara terbuka menjelaskan alasan Rashford tak dimainkan. Ia menegaskan bahwa “kualitas latihan menjadi faktor utama dalam menentukan menit bermain.” Konflik ini berujung pada peminjaman Rashford ke Aston Villa, dan saat kembali, Amorim menolak memberinya kesempatan kedua, hingga Rashford kembali menjalani masa peminjaman bersama Barcelona.

Alejandro Garnacho: Konflik di Momen Krusial

Alejandro Garnacho juga masuk dalam daftar pemain yang berselisih dengan Amorim. Hubungan keduanya memanas saat Manchester United melangkah jauh di ajang Liga Europa. Kesalahan Garnacho di semifinal menjadi sorotan langsung sang pelatih, yang berlanjut dengan keputusan mencadangkan Garnacho di final kontra Tottenham.

Rasa frustrasi Garnacho pun tumpah ke publik setelah laga final. Ia mempertanyakan keputusannya hanya bermain singkat di pertandingan terpenting musim itu. Tak lama berselang, Garnacho angkat kaki dari Old Trafford, bergabung dengan Chelsea dengan nilai transfer besar, meninggalkan hubungan yang tak mungkin diperbaiki dengan Amorim.

Jadon Sancho: Kisah Lama yang Tak Pernah Usai

Masalah Jadon Sancho di Manchester United ternyata tak berhenti meski Erik ten Hag sudah pergi. Di bawah Amorim, situasi sang winger justru semakin memburuk. Amorim menilai Sancho “tidak sesuai dengan standar komitmen dan kebutuhan taktik tim.” Pernyataan tersebut membuat masa depan Sancho di MU semakin suram.

Manajemen klub akhirnya menyetujui kepergian Sancho ke Aston Villa. Meski sudah pindah, ketegangan antara keduanya tetap terasa. Hal itu terlihat saat MU bertemu Villa, ketika Amorim menolak memberi perhatian khusus pada Sancho, menegaskan bahwa fokusnya hanya pada tim yang ia latih.

Antony: Tak Pernah Masuk Rencana

Sejak awal masa kepelatihan Amorim, Antony nyaris tak pernah masuk hitungan. Winger asal Brasil itu dianggap tidak cocok dengan sistem permainan yang diusung. Keputusan meminjamkan Antony ke Real Betis diambil pada Januari 2025. Amorim menyebut “tuntutan fisik” sebagai alasan utama di balik keputusan tersebut.

Pernyataan itu memicu reaksi keras dari pihak Antony. Sang agen menilai kliennya diperlakukan tidak adil oleh klub dan pelatih. Pada akhirnya, Antony dilepas secara permanen ke Betis. Ia kemudian mengungkapkan kekecewaannya terhadap cara MU dan Amorim memperlakukannya selama di Inggris.

Rasmus Hojlund: Tak Sesuai Filosofi

Rasmus Hojlund sebenarnya masih mendapat kesempatan bermain di era Amorim. Namun, statusnya sebagai striker utama perlahan tergerus. Pada bursa transfer musim panas, Hojlund dilepas ke Napoli dengan status pinjaman. Sejak saat itu, relasi keduanya makin dingin.

Amorim secara terbuka menjelaskan bahwa ia membutuhkan penyerang dengan “pergerakan cerdas dan reaksi cepat.” Pernyataan tersebut dianggap sebagai sindiran langsung kepada Hojlund. Striker Denmark itu pun membalas lewat media sosial, dengan beberapa unggahan bernada satir yang menunjukkan bahwa hubungannya dengan Amorim benar-benar berakhir buruk.

Kobbie Mainoo: Bakat Muda yang Terpinggirkan

Minimnya menit bermain Kobbie Mainoo menjadi salah satu keputusan Amorim yang paling disorot. Gelandang muda itu hanya sekali menjadi starter sepanjang musim. Keputusan tersebut kontras dengan performa Mainoo sebelumnya, termasuk kontribusinya di Euro 2024 dan final Piala FA. Banyak pihak menilai Amorim terlalu cepat mengesampingkannya.

Amorim disebut meragukan kecepatan Mainoo untuk bermain di lini tengah dengan formasi dua gelandang. Penilaian ini memicu perdebatan di kalangan penggemar. Ketidakpuasan keluarga Mainoo bahkan sempat terlihat di tribun kala sang kakak memakai sebuah kaus bertuliskan ‘Free Kobbie Mainoo’ alias ‘Bebaskan Kobbie Mainoo’. Isyarat tersebut mencerminkan ketegangan yang akhirnya ikut mewarnai akhir masa Amorim di Manchester United.

Mureks