Masa perkuliahan seringkali digambarkan sebagai fase eksplorasi diri dan persiapan masa depan yang ideal. Mahasiswa diharapkan fokus pada akademik, berorganisasi, dan mengembangkan potensi. Namun, gambaran ideal ini tidak selalu sejalan dengan realitas yang dihadapi sebagian besar mahasiswa di Indonesia.
Bekerja sambil menempuh pendidikan tinggi kerap dipersepsikan sebagai kisah inspiratif, simbol kemandirian, dan ketangguhan. Mereka dipuji karena mampu mengatur waktu dan menghadapi tantangan. Di satu sisi, anggapan ini memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, di sisi lain, ada realitas yang jarang terungkap: kelelahan fisik dan tekanan mental yang tak terhindarkan seiring dengan tuntutan akademik yang tinggi.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Peran Ganda Mahasiswa: Antara Kewajiban dan Kebutuhan
Bagi banyak mahasiswa, bekerja bukan sekadar pilihan untuk menambah pengalaman atau uang saku. Lebih dari itu, pekerjaan menjadi sebuah kebutuhan mendesak untuk menopang keluarga dan mengatasi kondisi ekonomi yang sulit. Dalam situasi ini, kuliah dan kerja bukan lagi dua opsi yang bisa dipilih salah satu, melainkan dua kewajiban yang harus dijalani secara bersamaan.
Konsekuensinya adalah kehidupan yang penuh kompromi. Waktu belajar harus disesuaikan dengan jam kerja, dan waktu istirahat seringkali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Tidak jarang, mahasiswa mengikuti perkuliahan dalam kondisi fisik yang lelah, atau mengerjakan tugas dengan sisa tenaga yang ada. Setiap keputusan yang diambil selalu membawa risiko, baik terhadap nilai akademik maupun kesehatan diri.
Tekanan yang muncul tidak hanya terasa secara fisik. Ada rasa cemas yang mendalam ketika nilai akademik tidak sesuai harapan, serta kekhawatiran akan penghasilan yang dirasa belum cukup untuk membantu keluarga. Banyak perasaan yang dipendam sendiri, sebab mengeluh seringkali dianggap tidak pantas atau tidak produktif.
Menghadapi Ekspektasi dan Realitas
Di lingkungan sekitar, mahasiswa dengan peran ganda tetap diharapkan tampil normal dan produktif. Mereka datang ke kampus, bekerja, lalu pulang tanpa banyak cerita. Kelelahan dianggap sebagai bagian dari proses, sementara stres kerap dinormalisasi. Kalimat seperti “yang penting masih bisa kuliah” sering terdengar menenangkan, tetapi menurut Mureks, kalimat tersebut tidak selalu mampu mewakili kompleksitas situasi yang sebenarnya dijalani.
Menjalani peran ganda sejak usia muda juga berarti banyak hal harus ditunda. Waktu untuk mengikuti kegiatan kampus, mengembangkan minat, atau sekadar beristirahat seringkali menjadi kemewahan yang sulit didapatkan. Hidup terasa berjalan sangat cepat, sementara ruang untuk berhenti sejenak dan bernapas terasa semakin sempit.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk meromantisasi kesulitan atau mencari simpati. Ini adalah upaya untuk melihat realitas mahasiswa dari sudut pandang yang lebih utuh. Mureks mencatat bahwa tidak semua mahasiswa berada di jalur yang sama. Ada yang bisa fokus belajar sepenuhnya, ada pula yang harus berbagi fokus demi bertahan hidup dan memenuhi tanggung jawab keluarga.
Memahami realitas tersebut sangat penting agar masyarakat tidak mudah menyederhanakan perjuangan orang lain. Terjebak di tengah tuntutan kuliah, pekerjaan, dan realitas keluarga bukanlah soal kurangnya usaha, melainkan tentang hidup yang berjalan dengan tantangannya sendiri. Mengakui dan memahami hal ini adalah langkah awal untuk saling berempati dan memberikan dukungan.






