Nasional

Di Balik Label ‘Mahasiswa Mandiri’: Realitas Berat Membagi Waktu Antara Kuliah, Kerja, dan Tuntutan Keluarga

Masa perkuliahan seringkali digambarkan sebagai fase kehidupan yang penuh eksplorasi dan pengembangan diri. Mahasiswa diharapkan fokus pada pembelajaran, terlibat dalam organisasi, serta mempersiapkan masa depan yang cerah. Namun, gambaran ideal ini tidak selalu relevan bagi semua individu yang menempuh pendidikan tinggi.

Bagi sebagian mahasiswa, realitas menuntut mereka untuk membagi waktu dan energi antara kewajiban akademik dan tanggung jawab pekerjaan, sekaligus menghadapi dinamika keluarga yang kompleks. Situasi ini menciptakan sebuah dilema yang jarang terungkap ke permukaan.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Narasi Mandiri yang Penuh Tantangan

Bekerja sambil kuliah kerap dipersepsikan sebagai kisah inspiratif, simbol kemandirian, dan ketangguhan. Mereka dipuji karena kemampuan mengatur waktu dan dianggap sebagai contoh keberhasilan. Di satu sisi, anggapan ini memiliki kebenarannya.

Namun, menurut Mureks, ada realitas lain yang sering terabaikan: kelelahan fisik dan tekanan mental yang intens, berjalan beriringan dengan tuntutan akademik yang tidak kalah berat. Ini bukan sekadar pilihan untuk menambah pengalaman atau uang saku, melainkan seringkali sebuah keharusan.

Hidup dalam Peran Ganda: Antara Kuliah dan Kebutuhan Keluarga

Bagi banyak mahasiswa, keputusan untuk bekerja bukan datang dari keinginan semata, melainkan dari kebutuhan mendesak untuk menopang keluarga atau mengatasi kondisi ekonomi yang sulit. Dalam konteks ini, kuliah dan kerja bukan lagi dua opsi yang bisa dipilih salah satu, melainkan dua kewajiban yang harus dijalani secara simultan.

Konsekuensi dari peran ganda ini adalah hidup yang sarat kompromi. Waktu belajar harus disesuaikan dengan jadwal kerja, dan waktu istirahat seringkali menjadi hal pertama yang dikorbankan. Tidak jarang mahasiswa mengikuti perkuliahan dalam kondisi fisik yang lelah, atau menyelesaikan tugas dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Setiap keputusan yang diambil membawa risiko, baik terhadap capaian akademik maupun kesehatan pribadi. Tekanan tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga memicu kecemasan ketika nilai tidak sesuai harapan atau penghasilan dirasa belum cukup membantu keluarga. Banyak perasaan yang dipendam sendiri, sebab mengeluh seringkali dianggap tidak pantas atau bahkan tabu.

Ekspektasi Sosial dan Realitas Tersembunyi

Di lingkungan sekitar, mahasiswa dengan peran ganda tetap diharapkan tampil normal dan produktif. Mereka datang ke kampus, bekerja, lalu pulang tanpa banyak menceritakan beban yang dipikul. Kelelahan dianggap sebagai bagian dari proses, sementara stres kerap dinormalisasi dengan kalimat seperti “yang penting masih bisa kuliah”.

Kalimat tersebut, meskipun dimaksudkan untuk menenangkan, seringkali gagal merepresentasikan kompleksitas situasi yang sebenarnya dihadapi. Menjalani peran ganda sejak usia muda juga berarti banyak hal harus ditunda.

Waktu untuk aktif dalam kegiatan kampus, mengembangkan minat, atau sekadar beristirahat seringkali menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. Hidup terasa berjalan begitu cepat, sementara ruang untuk berhenti sejenak dan bernapas terasa semakin sempit.

Memahami Realitas, Bukan Meromantisasi Kesulitan

Tulisan ini tidak bertujuan untuk meromantisasi kesulitan atau mencari simpati. Ini adalah upaya untuk menyajikan realitas mahasiswa dari sudut pandang yang lebih komprehensif. Mureks mencatat bahwa tidak semua mahasiswa berada di jalur yang sama; ada yang bisa fokus penuh pada studi, namun banyak pula yang harus berbagi fokus demi bertahan hidup.

Memahami realitas ini menjadi krusial agar kita tidak mudah menyederhanakan perjuangan orang lain. Terjebak di tengah tuntutan kuliah, kerja, dan realitas keluarga bukanlah indikator kurangnya usaha, melainkan cerminan dari hidup yang berjalan dengan tantangannya sendiri. Mengakui dan memahami hal tersebut adalah langkah awal menuju empati dan dukungan yang lebih baik.

Mureks