Nasional

Dewan Transisi Selatan Umumkan Referendum Kemerdekaan, Hadramout di Ambang Perpecahan Baru

Kelompok separatis di Yaman yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), Dewan Transisi Selatan (STC), secara resmi mengumumkan rencana referendum kemerdekaan pada Jumat (2/1). Pengumuman ini memicu ketegangan baru di wilayah Hadramout dan berpotensi mengubah peta politik Yaman.

Presiden STC, Aidaros Alzubidi, menyatakan bahwa fase transisi menuju kemerdekaan akan berlangsung selama dua tahun. Selama periode ini, STC berencana untuk membuka dialog dengan Yaman utara yang saat ini dikuasai oleh kelompok Houthi.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Namun, Alzubidi juga memberikan peringatan tegas. Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan ragu mendeklarasikan kemerdekaan secara langsung jika dialog tidak terwujud atau jika wilayah Yaman selatan kembali menjadi sasaran serangan militer.

Ancaman Deklarasi Kemerdekaan Segera

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Alzubidi menyerukan dukungan internasional. “Dewan meminta komunitas internasional untuk mendukung dialog antara pihak-pihak yang terkait di utara dan selatan,” ujarnya, dikutip dari AFP, Sabtu (3/1).

Ia melanjutkan, “Deklarasi konstitusional ini akan dianggap segera berlaku dan langsung efektif sebelum tanggal tersebut (2 Januari 2028), jika seruan tersebut tidak diindahkan atau jika warga di selatan, tanah mereka, atau pasukan mereka menjadi sasaran serangan militer.”

Pengumuman ini datang setelah pasukan STC berhasil merebut sebagian besar wilayah Hadramout yang berbatasan dengan Arab Saudi, serta provinsi Al-Mahra di perbatasan Oman. Penyerangan ini sebagian besar berlangsung tanpa perlawanan signifikan pada bulan lalu.

Perebutan Pengaruh di Yaman

Situasi ini semakin memperkeruh konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun di Yaman, di mana Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mendukung faksi-faksi yang bersaing. Arab Saudi secara konsisten mendukung pemerintahan Yaman yang sah dan diakui secara internasional.

Langkah STC untuk merebut wilayah tersebut telah menimbulkan kemarahan Riyadh dan memperuncing perselisihan antara kekuatan di wilayah Teluk. Mureks mencatat bahwa pengumuman referendum kemerdekaan ini dilakukan di tengah konflik yang memanas di Hadramout dan Al-Mahrah, di mana Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bersitegang atas perebutan wilayah oleh STC.

Yaman, yang pernah terpisah menjadi utara dan selatan dari tahun 1967 hingga 1990, kini kembali menghadapi ancaman perpecahan. Jika rencana kemerdekaan STC terwujud dalam dua tahun ke depan, negara baru tersebut kemungkinan akan disebut sebagai “Arab Selatan”.

Respons Internasional

Menyikapi konflik yang memanas di Hadramout, Indonesia menekankan pentingnya penyelesaian damai. Indonesia menyerukan dialog politik yang inklusif dan komprehensif di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan tetap menghormati pemerintahan Yaman yang sah serta integritas teritorialnya.

Mureks