Internasional

Demonstrasi Berdarah di Iran Tewaskan 36 Orang, Meluas ke 92 Kota

Sebanyak 36 orang dilaporkan tewas dalam gelombang demonstrasi berdarah yang melanda 92 kota di Iran selama sepuluh hari terakhir. Kerusuhan ini, yang dimulai sejak 28 Desember, telah memicu kekhawatiran serius mengenai stabilitas di negara tersebut.

Menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang dikutip Iran International pada Rabu (7/1), korban tewas terdiri dari 34 demonstran dan dua anggota pasukan keamanan Iran. Mureks mencatat bahwa empat dari korban yang meninggal dunia berusia di bawah 18 tahun, menambah daftar panjang dampak tragis dari unjuk rasa ini. Selain itu, puluhan demonstran lainnya mengalami luka-luka, banyak di antaranya akibat peluru karet dan peluru plastik yang digunakan aparat.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Pemicu dan Eskalasi Protes

Sejak akhir Desember lalu, Iran diguncang demonstrasi besar-besaran yang dipicu oleh tingginya inflasi. Kekecewaan warga terhadap kondisi ekonomi kemudian meluas menjadi tuntutan perubahan rezim di bawah kepemimpinan Ali Khamenei. Pihak berwenang disebut menggunakan kekuatan berlebih dalam merespons massa, yang justru semakin memperkeruh situasi.

Protes kini telah menyebar ke 27 provinsi di seluruh Iran, dengan ribuan orang dilaporkan ditangkap. Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah berupaya meredam gejolak ini dengan mendorong dialog dan fokus pada pemulihan ekonomi nasional. Namun, pernyataan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang meminta pedemo “ditempatkan pada tempatnya” justru memicu kemarahan publik dan semakin menguatkan desakan untuk pergantian pemerintahan.

Dampak Agresi AS dan Isyarat Trump

Situasi demonstrasi di Iran semakin tak terbendung setelah Amerika Serikat melancarkan agresi ke Venezuela pada 3 Januari. Dua hari kemudian, pada Senin (5/1), Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa Iran akan menjadi target berikutnya dalam kebijakan luar negerinya.

Indikasi ini diperkuat dengan unggahan Senator AS Lindsey Graham di platform X, yang menampilkan foto Trump memegang topi hitam bertuliskan “Make Iran Great Again”. Para pengamat menilai unggahan tersebut menunjukkan bahwa Iran telah masuk dalam radar perhatian Presiden Trump.

Mureks