Delapan negara Eropa secara tegas menolak “ambisi imperialisme” Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mencaplok Greenland. Penolakan ini muncul setelah AS melancarkan agresi di Venezuela dan tertuang dalam pernyataan bersama yang ditandatangani sejumlah kepala negara, termasuk Inggris dan Prancis, pada Rabu, 07 Januari 2026.
Penolakan Kolektif dan Jaminan Keamanan Arktik
Dalam rilis pernyataan tersebut, para pemimpin Eropa menegaskan bahwa keamanan Greenland harus dijamin secara kolektif oleh Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan dengan menghormati sepenuhnya keinginan rakyatnya. “Keamanan di Arktik harus tercapai secara kolektif, bersama dengan sekutu NATO termasuk Amerika Serikat dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip Piagam PBB, termasuk kedaulatan, integritas teritorial, dan tidak dapat diganggu gugatnya perbatasan,” demikian bunyi pernyataan itu, seperti dikutip Politico, Selasa (6/1).
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Pernyataan bersama ini ditandatangani oleh Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, dan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk. Selain itu, para pemimpin Belanda, Yunani, Luksemburg, dan Slovenia juga menyatakan dukungan mereka.
Aliansi militer NATO, menurut pernyataan tersebut, menegaskan bahwa kawasan Arktik adalah prioritas utama. Kedelapan negara ini juga telah meningkatkan kehadiran, aktivitas, dan investasi untuk menjaga keamanan di wilayah Arktik serta mencegah potensi ancaman. Mureks mencatat bahwa penegasan ini menunjukkan komitmen kuat Eropa terhadap stabilitas regional.
Pernyataan itu juga secara eksplisit menegaskan bahwa “Kerajaan Denmark – termasuk Greenland – adalah bagian dari NATO.” Lebih lanjut, dalam poin kesimpulan, delapan negara tersebut menegaskan bahwa Greenland adalah milik rakyatnya. “Denmark dan Greenland, dan hanya mereka, yang berhak memutuskan hal-hal yang menyangkut Denmark dan Greenland,” bunyi rilis tersebut.
Ambisi AS dan Reaksi Denmark
Beberapa hari sebelumnya, Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memerlukan Greenland untuk pertahanan. Gedung Putih juga mengonfirmasi bahwa opsi untuk memiliki Greenland sedang dibahas, termasuk kemungkinan penggunaan militer. “Yang jelas, kami perlu Greenland untuk pertahanan,” ungkap Trump.
Pemerintah Denmark merespons pernyataan Trump dengan kemarahan, bahkan menyebut bahwa aliansi NATO dapat bubar jika AS benar-benar mencaplok Greenland.
Pernyataan kontroversial Trump ini muncul setelah AS melancarkan agresi di Ibu Kota Venezuela, Caracas, yang berujung pada penculikan Presiden Maduro. Menurut Mureks, tindakan AS tersebut menuai kecaman luas dari komunitas internasional, yang menganggapnya melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.






